kamu seperti awan, aku berjalan mendekatimu, tapi kamu berjalan untuk mendekati yang lain, sesederhana itu, perasaanku tidak terbalas.
^
Saat cowok dengan julukan 'Playboy' berhasil berubah hanya karna satu cewek.ane...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Farel berjalan santai memasuki area kafe, diikuti Rica yang sejak tadi mendengus kesal karna selalu di tinggal.
"KAKAK TUNGGU!" Teriak Rica, Farel berbalik dengan wajah kesal.
"Brisik anjir!"
"Makanya tungguin!" Rica berseru lagi, kemudian berlari kecil menyusul Farel.
Memasuki kafe, mata Farel berkeliaran mencari seseorang, sampai akhirnya, lambaian tangan Rafi membuat Farel tersenyum. Farel menghampiri Rafi dan Niko.
"Wow siapa itu!" Niko berseru heboh saat melihat kedatangan Rica.
Farel menengok ke belakang, menatap Rica yang menekuk wajahnya sambil berlari kecil.
"Adik gue lah!" Farel duduk didepan Niko dan Rafi, "ngga usah diliatin mulu nyet!" Ketus Farel pada Niko.
"Kakak ih!"
Niko berdiri dengan cepat,ia mengulurkan tangannya pada Rica,"Kenalin, Niko."
Rica memperhatikan tangan Niko, tidak berniat membalasnya, "bentar dulu, gue lagi kesel, malah ngajak kenalan!"
Rafi dan Farel tertawa terbahak,"RASAIN LO!"Maki Rafi, ia bahkan sampai memegang perutnya, "makanya ngga usah gercep sama bocah!"
"Sini duduk, berdiri mulu ngga pegel?" Farel memperingatkan, Rica sebenarnya masih kesal, tapi, ia menurut saja, karna memang pegel.
"Kalian siapa?" Tanya Rica pada Rafi dan Niko.
Rafi berdehem singkat,"gue Rafi, temen kakak lo."
Rica mengangguk, "kalo itu, yang sok kenal tadi, siapa?" Farel dan Rafi menahan tawanya, bahkan mereka tidak sanggup melihat wajah Niko.
"Itu, Niko," Jawab Farel, tidak memberikan kesempatan pada Niko.
"Oh, jelek, kaya namanya." Lagi lagi mereka tertawa, bahkan sampai pengunjung kafe memperhatikan mereka berempat.
"Anjir, kakak adik sama aja, suka nistain orang!" Kesal Niko, "untung cantik." Niko menarik nafas untuk menormalkan kekesalan nya.
"Makasih, gue emang cantik."
"Iya lah adik gue!" Ucap Farel percaya diri.
"Dih!"
"Eh, kalian temen kak Farel?" Tanya Rica.
"Iya, kan gue udah bilang tadi," Rafi menyeruput minumannya.
"Eh gue pesen minum dulu." Rafi beranjak dari tempat duduknya.
"Kak, es coklat ya!" Pinta Rica.
"Hm."
Setelah Farel pergi, Rica kembali menghadap dua orang yang mengaku teman Farel ini, "kalo kalian temen kak Farel, berarti kalian kenal kak Arin ya?" Tanya Rica.
"Iya lah!" Niko yang terlanjur kesal berucap ketus, "btw, lo ngga sopan banget njir pake elo gue."
Rica menatap tajam Niko, "bodoamat!"
"Emang kenapa?" Rafi bertanya tanpa mempedulikan perdebatan mereka berdua.
"Kak Arin sama kak Farel udah jadian?" Tanya Rica bersemangat,"mereka kan, udah deket sejak kecil."
Rafi menggeleng, sedangkan Niko menahan tawanya,"ya mana mungkin jadian lah!"
Jawaban Niko membuat Rica mengerutkan dahinya, "kanapa ngga mungkin?"
"Ekhem, gini ya," Rafi membenarkan posisi duduknya.
"Jelasin bwang!" Seru Niko.
"Diem!" Ketus Rica.
"Kalo menurut gue si, mereka mungkin ada rasa, ya lo tau lah, tapi, mereka selalu bersembunyi di balik kata 'Sahabat', ngerti?"
Rica meringis,"sedikit."
"Farel tuh playboy, makanya mereka ngga mungkin jadian."cetus Niko yang sudah gregetan, ia menyampirkan kaki kanannya ke paha bagian kiri.
" Hm, kayanya si iya, kak Farel emang playboy."
"Bukan kayanya lagi, tapi emang playboy!" Niko berujar tidak bisa santai.
"Bilangin deh kakak lo itu, kalo suka ngomong, jangan malah diem, ditambah ganti ganti cewek mulu." Rafi yang juga sudah jengah ikut membenarkan ucapan Niko.
"Cih! Nyebelin banget emang kakak gue!"
"Heh adik, ngomong apa lo." Farel duduk disamping Rica, ia menatap Rica tajam, tapi, Rica sama sekali tidak takut, "kakak nyebelin!"
"Dih, baru sadar lo!"
"Ah pulang aja! Rica udah ngga mood."
"Nanti lah, baru juga nyampe."
"Kakak ih pulang!nanti Rica bilangin mama sama papa, biar uang jajan kakak dipotong," Rica berdiri, "Rica tunggu didepan!"
"Eh tapi ini minumnya belum dateng loh."
"Bodoamat," Rica berjalan keluar kafe dengan cepat.
"Kalian apain adek gue?" Tanya Farel pada kedua orang yang hanya memperhatikan mereka.
Rafi menggeleng malas, Niko mengedikan bahu, "udah sana kejar, jagain bidadari gue." Ucap Niko.
"Dasar ngga tau malu, udah ditolak juga." Rafi menoyor kepala Niko.
"Awas ya kalian!" Farel berdiri hendak menyusul Rica yang ia yakini sudah berada diparkiran.
"Wow minuman lo buat gue ya! Lumayan!" Seru Niko, Farel yang sudah berjalan hanya mengangkat sebelah tangannya tanpa menoleh, membuat Niko bersorak senang.
☁☁☁☁☁☁
Pendek syekali..
Hoam, ngga tamat tamat! Padahal aku udah mau publish cerita baru, haha