35 •• Akhirnya {end}

2.6K 96 2
                                        

Pada akhirnya, beberapa hal kembali berakhir sama

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pada akhirnya, beberapa hal kembali berakhir sama. Meski telah melewati proses yang menanamkan banyak luka.

☁️☁️☁️☁️☁️

Brukkk

Suara bedebum dari depan rumahnya  membuat Arin terkejut. Ia meletakan ponselnya dan segera membuka pintu. Pemandangan didepannya ternyata lebih membuat terkejut. Arin menutup mulutnya, matanya pedas, tangannya gemetar.

Brukkk

Farel menghantam sekali lagi tinjunya pada wajah Mike. "Berani-berani nya lo sakitin Arin kaya gitu, brengsek!" Farel meremas kerah baju Mike. Uratnya tergambar jelas, menandakan betapa marahnya Farel saat ini.

"Lo..lo p-pikir, lo ngga pernah nyakitin Arin?" Dengan susah payah Mike akhirnya bicara, dengan nada patah-patahnya yang cukup membuat Farel semakin emosi. Farel pun melayangkan tangannya lagi, siap meninju.

"Lo yang lebih nyakitin dia daripada gue, Farel!"

Brukkk

"Cukup!" Teriak Arin, tak sanggup melihat pemandangan mengerikan ini.

Farel masih dengan kemarahannya. Mike terpakar di tanah, terbatuk-batuk. Arin mendekat perlahan, air matanya sudah tidak bisa Arin tahan lagi. Ia masih tidak percaya semua ini.

Melihat Arin mendekat, Mike berusaha berdiri. "R..rin."

"Brengsek!" Teriak Arin pada akhirnya, ia tak bisa menahan lagi rasa marahnya. "jadi selama ini, lo cuma suruhan Niken?"

"Nggak, Rin. Ngga gitu." Mike berusaha menjelaskan, namun Arin terlalu marah padanya.

"Semua omongan lo. Lo bilang sayang sama gue? Itu juga suruhan Niken?" Arin semakin terisak. "Gue salah udah berpikir lo orang paling baik."

"Rin, gue jelasin dulu."

Arin berbalik. "Pergi!" Ucapnya, lalu meninggalkan Mike dan Farel. Kembali masuk kerumahnya.

"Rasa sayang gue beneran, Rin!" Teriak Mike. Namun, Arin tetap melanjutkan langkahnya.

"Arin, tunggu!" Farel mencekal tangan Arin, menahannya pergi.

"Gue minta maaf," ucap Farel tulus.

Hening beberapa saat, Arin mengelap sisa air matanya. "Pegi! Lo ngga ada bedanya dari dia."

☁️☁️☁️☁️☁️

1 tahun kemudian...

"APA RENCANA KITA HARI INI?" Niko berseru lantang, langkahnya melebar melewati pintu kantin. Bersama 4 langkah lainnya.

"Brisik banget lo!" Meyra kembali dengan wajah ketusnya.

"Ya ilah, kaku amat lo. Hari ini itu pengumuman kelulusan. Kita harus punya rencana buat ngerayainnya!" Mereka berlima duduk disalah satu bangku yang kosong.

"Kaya lo bakal lulus aja," celetuk Rafi. Membuat semuanya tertawa. Sedangkan, Niko memasang wajah siap memangsa.

"Lo tuh ya, bukannya doain yang baek-baek buat temen lo ini. Masih aja suka nistain gue!"

Mereka hanya tertawa menanggapi ucapan Niko. Sudah menjadi adatnya bagi mereka untuk menjadikan Niko bahan ejekan.

"Udah deh, siapa nih yang mau pesen,"Ujar Meyra, mencari sukarelawan yang mau berdesak-desakan mengantre Dan pesan makanan. Karna dirinya jelas tidak mau.

"Gue aja." Itu suara Arin, dan juga Farel. Mereka berseru bebarengan, membuat semua Mata saling lirik.

Rafi berdehem.

"Kompak amat lo pada kaya anak kembar," Ujar Niko,tersenyum jahil.

"Bukan anak kembar, tapi pasangan yang udah seratus persen serasi!" Rafi menambahi. Membuat pipi Arin merona, salah tingkah.

"Ngaco lo bulu ketiak!" Seru Farel geram.

"Eh, ya udah gue pesen dulu." Arin cepat-cepat berdiri. Ia tak mau ada yang menyadari pipinya sudah memerah sekarang. Ia langsung meninggalkan meja.

"Eh tunggu, gue temenin!" Farel menyusul begitu saja. Membuat 3 pasang mata menatapnya sambil menggelengkan kepala.

"Label mereka masih aja sama." Meyra menghela napas.

"Mereka ini sembunyi terus dibalik kata persahabatan." Niko menambahkan.

"Lebih baik daripada musuhan." Dan ucapan Rafi menutup perbincangan mereka tentang pasangan yang telah melalui banyak kebersamaan itu. Pasangan yang sempat hampir sangat berjauhan. Namun kembali, dengan persahabatan.

☁️☁️☁️☁️☁️

-//Selesai-//


AWAN {End}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang