18 ••Laughing with you

1.7K 100 1
                                        

Ketika aku merasa nyaman saat bersamamu, bolehkan aku sedikit berharap tentang perasaan untukmu?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Ketika aku merasa nyaman saat bersamamu, bolehkan aku sedikit berharap tentang perasaan untukmu?

☁☁☁☁☁

Arin menatap tetesan yang jatuh dari langit, ia menengadah lalu berdecak, "ini gimana berangkatnya?" Arin menggeram kesal, pagi pagi seperti ini, hujan sudah datang dengan deras.

"Arin, berangkat sama siapa?" Tanya ibu Arin.

"Ngga tau bunda, lagian ini masih hujan."Arin kesal, disaat seperti ini, supirnya malah sedang pulang kampung, ayahnya bekerja di luar kota, dan ibunya takut menyetir saat hujan.

"Sama Farel aja, biasanya dia lewat," Ujar bunda.
Arin terdiam sejenak, "emm, engga bunda."

"Lho kenapa?"

"Ngga papa bun."

"Ya udah sama Farel aja, ya? Bunda telfonin."
Arin berfikir sejenak, mungkin jika bunda yang meminta, Farel akan mau, dan Arin punya kesempatan untuk berbicara dengan Farel.

Ibu Arin sudah ke dalam untuk mengambil ponselnya, sedangkan Arin hanya diam menatap hujan.

"Arin!" Panggil Ira.

"Iya bunda?"

"Farel katanya udah berangkat, kamu berangkat sendiri ngga papa? Ayah pulangnya juga besok,supirnya masih seminggu lagi."

Arin sempat Menyerngit heran, tumben sekali jam segini Farel sudah berangkat, ah ayahnya juga masih ada tugas di luar kota, jadi tidak ada yang mengantar Arin, "iya bun, Arin berangkat sendiri."

Jam baru menunjukkan pukul 06.30 artinya masih ada waktu untuk menunggu hujan reda.

Beberapa menit Arin menunggu, tiba tiba ada sebuah mobil yang tidak asing bagi Arin, mobil Mike.

Mike turun dengan sedikit berlari, tubuh tegapnya sedikit membungkuk, Arin menyerngit bingung.
"Mike?"

Mike menegakkan badannya dan tersenyum manis setelah ia sampai di teras rumah Arin, "yuk berangkat," Ujarnya.

"Em, Mike telpon Arin? Maaf ya Arin udah silent HP nya." Ujar Arin.

Mike tersenyum, "gue ngga ada telpon lo."

"Terus? Kok tau gue belum berangkat?"

Mike memasukkan tangannya ke dalam saku, ia tersenyum sambil beralih menatap depan, "mungkin, insting gue terlalu kuat." Mike menoleh ke arah Arin dengan sedikit menaikan alisnya, "berangkat sekarang?"

Arin tidak bisa menahan senyumnya, ia jadi serasa diabetes melihat senyum Mike, "hm, iya." Jawab Arin gugup.

Mike menarik cepat tangan Arin untuk memasuki mobil.

"Hujan udah mulai reda," Ujar Mike tiba tiba, mobil Mike sudah menjauhi pekarangan rumah Arin.

"Iya, i know," Jawab Arin, "lo suka hujan?" Tanyanya.

Mike nampak berfikir sejenak, "hm, maybe." Mike berhenti di sebuah lampu merah, lalu ia menatap Arin, "tapi gue lebih suka lo, " Ujarnya dengan senyum manis.

Arin hanya diam, ia menegang, bahkan ia ingin memegang jantungnya sekarang juga.

Mike mengusap pelan kepala Arin, kemudian kembali menghadap depan dan memajukan mobilnya, "i'm not seriously, " Ujar Mike.

Sekarang Arin merasakan badannya lemas, entah jantungnya sudah normal, atau ia malah berharap ini serius? Entahlah yang jelas, Arin hanya bisa tersenyum samar, "i know. "

"But, if you want to seriously, i can do it,hm? " Mike mengatakan itu dengan wajah tetap tenang, sehingga Arin tidak bisa membaca kalimat itu serius atau tidak.

Arin menghela nafas, "i know you kidding me again. "

Mike tertawa kecil, "lo pinter ternyata rin," Ujarnya.

Arin tertawa menanggapi ucapan Mike, membuat Mike ikut tertawa, "masih pagi tapi gue udah banyak ketawa gara gara lo." Tangan Mike terulur, kembali mengacak puncak kepala Arin.

Arin sendiri terdiam, ini hal yang sering Farel lakukan, dulu.

"Bagus dong, gue dapet pahala," Jawab Arin.

"Kalo lo lakuin setiap hari juga bakal dapet pahala?" Tanya Mike.

"Iya lah," Jawab Arin.

Mike tersenyum, Arin ini benar benar tidak mengerti kode, membuat Mike gemas sendiri.

"Mike, lo waras? Gue ngga mau satu mobil sama orang gila," Ujar Arin yang heran melihat Mike tersenyum sendiri.

"Like your look."

"Tapi dari tadi gue liat lo senyum sendiri, Em, lo gila?" Ucap Arin pelan.

"Kalo iya? " Ujar Mike dengan sedikit senyum.

Arin membulatkan matanya, "ah ngga! Turunin gue sekarang!" Arin menjerit, ia berusaha membuka pintu mobil.

"Eh mau ngapain lo rin." Mike berusaha menahan Arin dengan tetap mengemudi.

"Lo orang gila," Ujar Arin takut.

Mike tertawa, "gue waras, liat, gue ganteng." Mike menatap Arin, ia tersenyum, lalu mengedipkan sebelah matanya, "ganteng kan?"

Arin masih takut ia masih duduk sangat dekat degan pintu, "lo bohong?"

Mike gemas dengan kepolosan Arin, ingin ia membawa pulang Arin ke rumah.

"Gue ganteng ngga?" Tanya Mike.

"Ga... Ga.. Ganteng, " Jawab Arin masih dengan nada takut.

"Nah orang ganteng mana ada yang gila," Ujar Mike.

Arin kembali menegakan badannya, "lo beneran waras kan? "

Mike tertawa kecil, "kayanya lo yang ngga waras."

Arin memukul bahu Mike, membuat Mike mengaduh kesakitan, kemudian mereka tertawa.

☁☁☁☁☁

Lama ga update dan aku udah update meskipun pendek hwhw.

Aku bakal update lagi secepatnya, i'm promise:*

Btw selamat bulan Ramadhan, semngat jalani puasanya, dan maaf akan segala kesalahan.

See you next time dear!

Salam manis
Istri Tiri Shawn mendes ❤

Salam manisIstri Tiri Shawn mendes ❤

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
AWAN {End}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang