31 •• Dilema

1.8K 73 7
                                        

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


Ada kesal juga cinta yang tertinggal.

☁️☁️☁️☁️☁️

Hari ini juga. Rica memutuskan untuk kembali ke Amerika. lagipula, masa liburnya ingin ia habiskan sebagian di sana. Rica yang tidak tega akhirnya memutuskan untuk luluh sedikit kepada Farel. Ia takut drama-drama pada film Korea terjadi kepadanya jika ia pergi tanpa pamit kepada Farel. Seperti, tiba-tiba kecelakaan misalnya.

Amit-amit, Rica membatin.

Pesawat Rica akan terbang kurang lebih 10 menit lagi. Rica, Farel, Arin, dan Mike duduk canggung menunggu. Tak ada percakapan hangat. Keadaan benar-benar awkward sekarang.

"Kak Arin, Rica udah mau berangkat. Jaga diri ya disini jangan nakal hehe.." Rica bangkit berdiri, diikuti Arin, Farel, dan Mike.

"Eh, harusnya kak Arin yang bilang gitu!" Arin terkekeh. Kemudian memeluk Rica yang tampak menggemaskan. Wajahnya sedikit cemberut, tapi pura-pura biasa saja.

"Pasti bakal kangen main sama kak Arin! Rica janji deh secepetnya pulang," Ujar Rica saat masih dipelukan Arin. Farel hanya menatapnya dalam diam. Rica melepas pelukannya, kemudian menatap Mike yang juga sedang menatapnya. Ia tersenyum."kak Mike! Seneng bisa kenal kak Mike hehe.. Jangan lupain Arin ya!"

Mike tersenyum. Ia mengangguk pelan. Terakhir, Rica menatap Farel yang menatapnya datar."kak, Rica pulang, kakak mau nitip salam buat mama sama papa?"ujar Rica. Tidak seriang tadi.

Entahlah, hati Farel sedang berantakan rasanya. Ia putus dengan Niken, Rica pergi, dan entah mengapa ia merasa sakit melihat Mike bersama Arin. Seperti menggantikan posisinya. Alhasil, Farel hanya mengangguk. Tanpa senyum sedikitpun. "Hati-hati," Ujarnya. Dibalas anggukan juga oleh Rica.

Rica melambaikan tangannya. Melangkah menjauh dari ketiga orang yang sudah seperti kakaknya sendiri.

"Hati-hati Rica!" Pesan Arin lagi sebelum Rica benar-benar menghilang. Farel masih diam. Setelah Rica tak lagi tertangkap matanya, ia pergi. Tanpa sepatah kata bahkan segaris senyum.

☁☁☁☁

Arin meletakan asal slimbag nya ke atas kasur. Ia menghempaskan tubuhnya dengan posisi terlentang. Pertanyaan Mike baru saja membuat kepalanya ingin meledak. Ia masih benar-benar butuh waktu untuk berfikir. Tapi ia takut Mike akan pergi jika ia tidak segera menjawab.

Dalam hatinya. Farel masih terukir. Sulit menghilangkan goresan nama yang sudah lama ada. Sulit untuk melupakan Farel walaupun hatinya sudah lebih dari sakit atas segala hal yang Farel lakukan dan ucapkan ketika bersama Niken.

Arin mengingat kembali. Bagaimana ia dan Farel dulu berebut makanan, mainan,dan banyak hal. Bagaimana ia dulu saling menunggu bertemu disebuah danau Komplek mereka.

Kemudian mereka tumbuh bersama. Memasuki masa remaja, dan mulai mengenal cinta. Saat Arin sadar bahwa perasaannya kepada Farel ternyata lebih dari sekedar sahabat. Kemudian Arin memutuskan untuk mencintai Farel dalam diamnya.

Memasuki masa SMA. perasaan Arin diuji dengan sifat Farel. Dengan tingkah playboynya. Dan dengan cerita cerita Farel yang selalu membicarakan cewek incarannya tanpa tau bagaimana perasaan Arin.

Kemudian Farel bertemu Niken dan mulai melupakan Arin. Mike hadir dalam hidup Arin, mengisi kosongnya perasaan Arin. Dan masalah utamanya adalah, Farel yang tidak percaya pada sifat asli Niken. Padahal, Arin sudah melihatnya bukan hanya sekali dua kali. Ia juga sudah curiga. Ditambah Rica yang juga tau entah darimana.

Segalanya semakin rumit saat Farel malah membenci Arin. Padahal Arin telah mengungkapkan perasaannya. Namun, itu seperti tak berarti apa-apa bagi Farel. Membuat Arin semakin putus asa.

Arin terlalu fokus mencintai. Hingga tak sadar ada seseorang yang juga mencintainya. Mike. sosok yang menemani hari-hari kelabu Arin karna sosok Farel yang menghilang. Sosok yang menghibur Arin dan mengerti perasaannya. Jadi, haruskah ia menerima Mike memenuhi hidupnya?

☁☁☁☁

Mungkin, ini adalah titik akhir dari sikap menyenangkan Farel. Terbukti dimana sekarang ia berada. Di sebuah bar tak jauh dari rumahnya. Dentuman musik bahkan tak terasa masuk ke telinga Farel. Hati dan fikirannya sedang kosong.

"Rel, sini gabung!" Raka, cowok yang menemani Farel ke tempat ini. Ia terlihat sedang asik menikmati musik dengan beberapa cewek yang tentunya berpakaian terbuka.

Farel tidak tertarik. Ini pertama kalinya ia datang kesini. Tapi tujuannya bukan untuk bermain bersama cewek yang ada disini. Farel hanya ingin menenangkan dirinya. Ingin sejenak melupakan perasaannya.

Ketika matanya terfokus pada pintu masuk, Farel memicingkan matanya. Rasanya, ia melihat seseorang yang tidak asing. Tapi saat orang itu seperti sadar bahwa Farel melihatnya, ia tiba-tiba menghilang.

"Mau kemana bro!" Teriak Raka saat Farel bangkit berdiri dengan tergesa-gesa. Farel tidak menjawab, ia bergegas lari keluar dari tempat tersebut.

Sayang, saat Farel tiba di parkiran, orang tersebut baru saja melesat dengan motornya. Tapi sepertinya Farel tidak asing dengan motor tersebut.

Sepertinya itu, Mike?

☁☁☁☁

Arin berjalan santai di trotoar. Ia baru saja dari minimarket yang tak jauh dari rumahnya.itulah sebabnya Arin memutuskan jalan kaki saja. Lagipula, Arin suka melihat langit malam, apalagi dengan bintang dan bulan seperti sekarang. Rasanya hati Arin lega.

"Halo rin!" Arin menjauhkan sedikit ponselnya. Baru saja terdengar suara Meyra yang membuat jantungan.

"Iya Mey, udah sampe?" Tanya Arin.

"Udah, lo dimana? Buruan!"

Arin berdecak kesal, kemudian mengatakan bahwa ia sedang diperjalanan pulang. Meyra memang akan menginap, karna orang tua Arin sedang keluar kota untuk tugas ayahnya. Jadilah Arin meminta Meyra menginap. Dan ia baru saja membeli cemilan untuk acara malamnya dengan Meyra. Menonton film.

Arin kembali berjalan menyusuri trotoar. Ia sedikit tersentak saat sebuah motor berhenti disebelahnya. Namun, perasaannya lebih tidak karuan lagi saat melihat bahwa Farel yang tengah terduduk diatas motor tersebut. Cepat-cepat Arin membuang pandangan, tidak mengerti dengan keadaan, Arin langsung berjalan cepat. Ia belum siap.

Tapi Farel tidak menyerah, menyalakan motornya lagi, mengikuti Arin dari sisi jalan.

☁️☁️☁️☁️☁️

bismilah mau produktif nulis lagi...maaf bgt lama ngga update. sayang kalian,bigluv❤️

AWAN {End}Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang