kamu seperti awan, aku berjalan mendekatimu, tapi kamu berjalan untuk mendekati yang lain, sesederhana itu, perasaanku tidak terbalas.
^
Saat cowok dengan julukan 'Playboy' berhasil berubah hanya karna satu cewek.ane...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Tapi keindahan adalah sesuatu yang akan selalu datang. Di masanya sendiri. Sepeti senja, ia akan tetap hadir, meski hanya sebentar. Karna itulah hidup, ada awan mendung yang kelabu, ada juga langit jingga yang memukau."
☁️☁️☁️☁️☁️
Arin berjalan pelan memasuki area kafe. Matanya masih sedikit sembab karena menangis semalaman. Ia duduk disalah satu kursi dekat jendela kaca besar, menunggu seseorang sambil memandangi pemandangan padatnya jalan.
"Gue bisa jemput lo," Ujar seseorang yang baru saja datang.
Arin menoleh, kemudian tersenyum singkat. "Gue bisa pergi sendiri."
"Lo habis nangis?" Tanya Mike setelah duduk dihadapan Arin. Memperhatikan wajah lusu Arin. "Ada apa, Rin?"
"Ah nggak kok. Ini tadi kelilipan," sanggah Arin, ia mengucek matanya, mencoba meyakinkan.
Mike hanya menanggapi singkat. Ia tahu Arin. Arin akan cerita sendiri tanpa disuruh. Jadi kalau Arin belum mau cerita, mungkin ia memang tidak ingin cerita. Mike tidak akan memaksa.
"Oh ya, ada apa?" Tanya Mike. Arin memang yang mengajak mereka bertemu duluan. Itu termasuk aneh dan tidak seperti biasanya.
Arin memandang Mike. Menghela napas, kemudian tersenyum. "Tawaran lo masih berlaku?"
Melihat ekpresi bingung Mike, Arin malah tertawa. Baginya wajah itu sangat lucu.
"Hey,malah ketawa." Mike ikut terkekeh, ia senang melihat Arin tertawa seperti ini. Apalagi, karna dirinya.
"Tawaran buat jadi pacar lo. Masih berlaku?"
☁️☁️☁️☁️
"Terus lo sama Niken gimana?"
Farel menyeruput soda ditangannya. Matanya memandang lurus ke arah depan. Tidak ada tanda-tanda akan menjawab pertanyaan Niko.
"Ya logikanya. Farel bilang dia suka sama Arin. Berarti mereka putus lah," jawab Rafi yang baru saja datang Dari arah dapur. Ia ikut duduk disebelah Farel.
"Rel, lo ngga nyerah kan?" Tanya Rafi.
"Rel dengerin gue." Niko berucap serius, tidak seperti biasanya. Membuat Rafi Dan Farel menoleh ke arahnya. "Lo itu ngga pernah berjuang buat cewek. Lo kan selama ini cuma pacaran, terus putus. Lo ngga pernah merjuangin cewek, kan?"
"Sekarang, coba lo perjuangin Arin. Masa lo mau nyerah gitu doang si. Apalagi kalian udah dari kecil kenal bahkan sahabatan."
Farel menghela napas, sedangkan Rafi masih melongo memandangi Niko.
"Nik, lo sehat kan ya? Ini berapa?" Rafi melambaikan 5 jarinya ke arah Niko dengan terheran-heran.
"Lo yang ngga sehat!" Niko menepis jari Rafi didepan matanya.
"Namanya manusia, kalo ngga hilang ya kehilangan," gumam Rafi.
"Hilang itu bisa pulang. Sedangkan kehilangan belum tentu ada pengembalian, karna itu diluar kendali kita. Kalo akhirnya ngga kembali pun berarti memang udah seharusnya. Toh,ngga semua kehilangan itu buruk."
"Lo cuma perlu bicara pelan-pelan sama Arin. Seperti yang lo bilang, semuanya belum selesai."
"Tapi Rel, apa Arin udah sama Mike?" Tanya Niko.
Tiba-tiba saja, Farel menegakkan punggungnya. Ia menyambar jaket pada sofa. Kemudian pergi tanpa sepatah katapun. Tidak menghiraukan teriakan Rafi Dan Niko dari dalam rumah.
☁️☁️☁️☁️☁️
"Dia pengunjung tetap disini."
"Sejak kapan?"
"Mungkin, setahun belakangan. Tapi akhir-akhir ini dia kesini untuk ketemu seorang cewek."
☁️☁️☁️☁️☁️
Senja sore ini terlihat Indah. Terasa jauh lebih baik saat Arin melihatnya bersama sosok yang menyayanginya, juga yang ia sayangi.
"Kenapa banyak orang suka senja?" Arin berujar tiba-tiba, lebih kepada dirinya sendiri.
"Karna senja Indah dan menenangkan." Mike menjawab.
"Tapi, senja cuma hadir sekilas."
"Karna seperti itulah hidup,"ucap Mike, ia masih memandang lurus kearah depan. "Keindahan, bukanlah sesuatu yang bertahan."
"Tapi keindahan adalah sesuatu yang akan selalu datang. Di masanya sendiri. Sepeti senja, ia akan tetap hadir, meski hanya sebentar. Karna itulah hidup, ada awan mendung yang kelabu, ada juga langit jingga yang memukau."
"Kenapa ada langit kelabu kalau senja jauh lebih Indah?" Arin bergumam lagi.
"Agar senja terlihat indah."
"Maksudnya?" Arin menoleh kebingungan ke arah Mike. Membuat Mike gemas dengan wajahnya, ia mengambil tangan Arin. Mendepaknya dengan jari tangannya.
"Kalau ngga ada mendung, senja ngga bakal keliatan Indah. Seperti, kamu terus melihat senja sepanjang hari,sepanjang waktu. Kamu bakal terbiasa, kan? Lalu ngga ada lagi yang istimewa dengan senja."
"Seperti itu juga hidup?" Arin balas merekatkan tangannya. Air danau menjadi keemasan, terpantul Indah jingga senja yang belum memudar.
"Iya. Kamu ngga akan terus bahagia. Karna itu ngga seimbang. Kamu harus mengatasi masalah untuk mendapat kebahagian itu. Meskipun begitu, keindahan itu akan hilang juga pada masanya. Kebahagian itu cuma fase, Rin."
"Fase Yang akan terlewati, bukan akhir. Karna setelah bahagia, kesedihan tetap punya jatahnya. Jatah untuk hadir lagi dikehidupan kita."
"Tapi kita sering minta untuk selalu bahagia sama Tuhan."
"Mulai sekarang, ubah doa itu. Berharaplah untuk selalu bisa menghadapi kesulitan. Karena hidup ini bukan jalan yang lurus, tapi juga ada tanjakan, turunan,ataupun jalan berlubang."
Arin tersenyum, wajahnya ikut keemasan. Mike memandang wajah Indah itu,ikut tersenyum.
"Bahasan kita kemana-mana,"guman Arin, masih mempertahakan senyumnya.
"Kamu adalah senjaku, Rin."
Arin menoleh,"hm?"
"Kamu adalah senjaku, kamu bisa hilang saat sudah waktunya tiba."