Malam telah tiba dan rasa lelah dalam tubuh membuatku makin kuat memeluk kasur. Namun ketenanganku terusik juga oleh nyala lampu handphone yang telah aku anggurkan seharian. Itu pasti anak-anak yang sedang heboh dengan apa yang aku alami hari ini. Jujur aku enggan untuk membukanya, tapi kedap-kedip itu mengusikku juga. Akhirnya aku cek handphone dengan rasa malas. Mxit-ku (sebuah aplikasi chating seperti WhatsAp yang terkenal di sekitar tahun 2008) sudah dipenuhi pesan yang belum aku baca. Ini pasti ulah Randu dan Arsya yang telah berhasil membuat anggota geng hamlet lain ikut penasaran hingga menyerang chat room-ku. Mana di conference gini lagi kan jadi berjamaah nih pertanyaannya.
Geng Hamlet terdiri dari teman-temanku sejak SD. Kami jadi deket karena satu kelompok tugas drama. Awalnya semua bingung untuk mementaskan apa, akhirnya aku memberi ide untuk bisa memainkan salah satu drama terkenal karya William Shakespeare yang berjudul Hamlet. Sebuah drama yang menceritakan tentang tragedi yang dialami seorang Pangeran Denmark saat mencoba membalaskan dendam kematian ayahnya. Pementasan drama yang cukup sukses di mata guru kami sehingga mulai saat itu geng ini pun terlahir dan cukup punya nama di antara guru-guru.
Kembali ke cerita geng hamlet. Awalnya kita terdiri dari 13 orang, tapi jumlah itu menyusut akibat beda sekolah waktu SMP, ada juga yang harus ikut orangtuanya pindah ke luar kota dan alasan-alasan lainya. Tertinggalah lima personil yaitu aku, Arsya, Randu, Galuh dan Aftab.
"Ciee akhirnya melepas masa jomblo juga nih si Ophelia." Sapaan pertama dari Galuh, anggota geng Hamlet dan sekaligus pacar Randu, yang langsung menubrukku tanpa ampun.
Ophelia adalah peran yang aku mainkan saat mementaskan drama Hamlet dan itulah cara kami memanggil saat sedang bercanda. Bisa dianggap itulah panggilan sayang mereka.
"Akhirnya kamu nggak berakhir jadi Ophelia dan bisa nemuin Hamlet yang mencintai kamu," sahut Aftab yang makin membuat kepalaku mendidih.
Andaikan manusia hologram itu adalah Hamlet aku lebih memilih menjadi Laertes yang bisa beradu pedang dengannya. Nggak peduli akhirnya aku yang kalah yang pasti aku sudah cukup keren dengan berani menghadapinya. Berbeda dengan aku yang sampai detik ini masih ngeri dengan keberadaan manusia hologram itu bahkan aku berharap bisa tiba-tiba terkena demam sehingga Senin aku tak perlu datang ke sekolah itu.
"Oh ya nama asli si Hamlet siapa?" Galuh mulai lagi dengan candaannya.
"Namanya Wira mana kakak kelas yang tenar pula," jawab Arsya dengan begitu nyamannya.
Ingin sekali aku membekap mulutnya kalau obrolan ini terjadi secara langsung. Sayang ini terjadi di dunia maya. Obrolan pun berjalan dengan bringasnya dan pesan pun makin tertumpuk, tapi aku masih saja enggan menjawab.
"Nih Ophelia kemana sih?" Arsya yang mulai lelah menjawab pertanyaan dari Galuh dan Aftab pun mencariku.
"Lagi chating-an ma Hamlet kali." Ceplos Galuh yang makin membuat gaduh.
"Hentikan fitnahmu Ratu Getrude," timpalku segera pada Galuh untuk meredam keributan yang makin menjadi-jadi ini.
"Akhirnya Ophelia nongol juga." Aftab pun mulai menyapaku.
"Ada apa, Horatio? Kangen sama aku? Gak takut digebukin ama Laertes." Perkataanku pada Aftab mencoba untuk mengalihkan arah pembicaraan.
"Laertes mendukung Horatio," jawab Arsya segera yang membuatku jadi tak berkutik.
"Ratu Getrude juga mendukung Horatio," sahut Galuh makin membuatku tersudut.
"Sukurin tuh Ophelia!" Aftab yang merasa banyak dibela pun jadi di atas angin.
"Dasar Laertes nih udah kebawa cinta buta nyampek nggak ngebelain saudara sendiri."
"Di naskah drama kita emang saudara, tapi di dunia nyata aku kan pacarnya si Horatio. Kesalahan terbesar pada dunia nyata yang nggak terjadi di drama adalah Laertes di drama cowok gak mungkin naksir Horatio sedangkan di dunia nyata Laertesnya cewek jadi bisa naksir deh ma Horatio. Itu hal yang kamu lewatkan Ophelia."
KAMU SEDANG MEMBACA
Stairways to Happiness
Teen FictionSurat cinta tugas MOS membawa dunia Ara yang tenang menjadi tak beraturan sebab kakak kelas yang namanya baru diketahuinya beberapa jam lalu dengan seenak udel menerima cintanya. Padahal tulisan itu hanya sebuah coretan biasa yang tidak ada maksud a...
