Yang Terpendam

11.1K 1.4K 250
                                        

Masih saja banyak orang yang tidak percaya bahwa hal yang paling berharga di dunia ini adalah waktu. Mereka suka sekali menghamburkannya sia-sia padahal ketika mereka kehilangan itu, mereka tidak akan bisa memintanya kembali. Bahkan bila mereka suka rela menukarkan dengan nyawanya sekali pun.

-Ara-

***

Now playing: Jikustik-Puisi

***

Aku merunut satu-persatu kata yang terdapat pada buku bersampul merah jambu ini. Kalimat-kalimat yang ada menjelma menjadi jejak-jejak yang merekam perjalananku bersama Kak Wira. Dari pertama kali buku ini ada, kejadian-kejadian MOS sampai adegan tergila saat Kak Wira dengan percaya dirinya menerima ungkapan cintaku yang tak lebih dari sebuah surat cinta buatan untuk tugas semata hingga aku terhenti ketika sampai pada bagian waktu aku menanyakan siapa sebenarnya Kak Wira?

Aku masih ingat sekali saat itu aku sangat ketakutan menghadapinya. Bayangkan saja ada orang yang tak kamu kenali tiba-tiba mengetahui hal-hal rahasia tentangmu. Hingga aku sempat berpikir bahwa dia adalah seorang penguntit. Namun, kumpulan kata yang seakan mengajakku bicara secara langsung ini akhirnya mengungkapkan kebenarannya.

Aksara, aku tuh seneng banget karena akhirnya kamu bisa ngasih aku pertanyaan yang selama ini aku tunggu. Ya, pertanyaan tentang siapa aku. Jujur waktu itu aku bohong ngejawabnya. Bukan berarti apa yang aku ucapin nggak bener, perasaanku sama kamu emang gitu. Tapi harusnya aku ngasih jawaban yang lain. Bukan tentang apa yang aku rasain, tapi beneran tentang siapa aku. Aku nggak ngerti kenapa aku bisa kayak gitu. Mungkin aku gugup atau mungkin juga karena aku terlalu takut. Aku takut ngadepin kenyataan kalau tentangku nggak tersisa di ingatanmu.

Padahal aku cuman butuh nyebut satu kata yaitu nama kecilku. Tapi dengan tololnya aku malah ngucapin kata yang lebih panjang. Kalimat yang mungkin bikin kamu merinding ngedengerinnya. Percaya deh, aku juga malu ngingetnya. Jujur rasanya aku nggak punya nyali buat nemuin kamu lagi saking canggungnya. Tapi aku tetep akan nemuin kamu dan nggak akan pernah ninggalin kamu lagi. Mungkin kamu nggak asing sama kata-kata itu karena memang persis seperti janji dari seorang anak laki-laki berumur 6 tahun yang kamu kenali pakek nama Asta. Ya kan? Dan perlu kamu tahu, Asta itu aku.

Asta? Nama yang terdengar tidak asing dan seketika otakku menggambarkan sebuah sosok anak laki-laki berumur sekitar 6 tahun yang berbadan kurus, lebih tinggi dibanding anak seusianya, berpipi cukup tembem dengan senyum berlesung pipi yang bila diamati lebih lanjut jadi terlihat mirip seperti Kak Wira. Apakah mereka orang yang sama? Aku melanjutkan bacaanku untuk menemukan jawaban dari rasa penasaran yang kini begitu kuat mengambil alih pikiranku.

Iya, Asta. Tetanggamu yang kurus kerempeng itu. Kakak kelasmu di TK dan temen satu TPA. Aku nggak tahu kamu masih inget apa nggak tentang perkenalan kita. aku sih masih inget banget. Saking ingetnya itu kayak baru kejadian kemarin.

Jadi waktu itu kita TPA di masjid yang paling deket ama rumah kita yang ternyata satu RT. Gurunya Pak Kaum, orang yang paling dituakan di dusun kita dan dianggap sebagai orang paling alim. Cara mengajar beliau keras, salah baca langsung dipukul pakai rotan. Aku termasuk anak yang paling banyak kena pukulan, seperti kamu tahulah aku nggak terlalu pintar. Jadi sering bikin kesalahan. Dan kamu juga bisa bayanginlah rotan tuh sekeras apa, kena sekali pukul aja sakit banget. Lha aku dapet banyak, normal kan kalau nangis.

Stairways to HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang