Mencintai diri sendiri tidak hanya soal menerima karakter dan sifat yang ada pada diri kita. Sebab mereka hanya turunan dari respon kita terhadap apa yang telah kita lewati. Jadi siapa kita sekarang tergantung bagaimana kita memperlakukan masa lalu. Semakin baik kita terhadapanya, maka kita akan jadi baik di masa sekarang bahkan akan lebih baik pula di masa depan.
-Ara-
***
Now playing: Sketer Davis-The End of The World
***
Aku tak pernah benci sepi sampai sosok itu pergi. Kepergiannya membuat sunyi jadi berbunyi menyuarakan petisi-petisi tentang hal yang tak bisa aku tanggung sendiri. Keluh yang terlalu menumpuk membuatku hanya ingin berhenti, tapi pagi selalu menghampiri. Membuka mataku yang sudah mulai lelah melihat sekitar yang tak ikut berubah. Semua nampak sama walaupun hidupku sudah berbeda.
Bisa-bisanya alam berkompromi mengeroyokku yang ingin berhenti. Seenaknya mereka menyeretku lari padahal jiwaku telah membeku di tanggal itu, 17 Oktober 2008. Tanggal di mana duniaku telah resmi berakhir. Ku pandangi gambar itu, gambar sosoknya di salah satu tembok sekolah. Tempat yang sering aku sambangi untuk mengirimkan monolog rinduku padanya. Monolog yang menjelma menjadi dialog dalam dunia ketidakwarasanku. Dialog kosong dalam harapan fatamorgana yang bila tidak ku hentikan segera maka aku tidak akan pernah bisa kembali ke dunia nyata.
Aku hanya ingin hidup di dunia dongeng itu bersamamu, Kak Wira. Aku tak lagi bisa bertahan di kenyataan yang meniadakanmu, yang sama saja menihilkan kebahagiaan. Terlebih pada sebuah fakta bahwa rasa kehilangan ini tak juga membawa siapa pun jera. Nyawa telah terenggut, pihak yang berseberangan terpaksa harus dijebloskan ke penjara dan lihatlah mereka tidak kapok juga. Seakan kematian dan tuntutan pidana tak ada artinya bagi mereka. Entah hormon remaja atau kemarahan yang membabi buta, aku tak tahu dan tidak mau tahu apa penyebabnya. Satu hal yang pasti perkelahian mereka seperti meludahi kuburan yang belum kering dari manusia yang paling berarti dalam hidupku.
Ku ambil potongan korang yang memberitakan tawuran yang telah merampas hak hidup Kak Wira. Dalam artikel itu terbaca betapa terpukulnya kita telah kehilangan generasi penerus di medan yang tak seharusnya. Iya, perkelahian antar remaja telah menghancurkan masa depan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Entah pelaku yang harus dipenjara dan mendapat hinaan dari masyarakat luas. Entah pula korban yang harus menderita cacat fisik, sakit mental hingga meninggal. Nama-nama yang hanya tertulis dalam satu edisi koran lalu terlupakan. Aku berharap seperti itu, tapi sistem sosial kita tak sesederhana itu. Aku berharap Kak Wira dapat dilupakan dari pada jadi bulan-bulanan atau cerita buruk yang terus terdengar sumbang.
Selama ini aku selalu menutup diri, merasa sibuk dengan luka yang tak juga bisa aku tangguhkan. Tapi detik ini, aku mendengarnya sendiri. Betapa mudahnya lidah mereka menghina orang yang paling aku cintai. Aku tahu Kak Wira bukan orang yang baik. Dia juga bukan pahlawan yang jasanya terus terkenang karena itu aku berharap kalau mereka tak menyukai Kak Wira, ya lupakan saja keberadaannya. Jangan menghinanya apa lagi membuka aibnya atau mengarang cerita yang sumbernya tak jelas.
"Alay banget ya, ngapain juga tembok sekolah kita harus digambarin sosok kayak dia. Murid teladan bukan bahkan kerjaannya cuma tawuran," ucap salah seorang murid yang berdiri di depanku dan ikut mengamati gambar Kak Wira.
"Iya, ganteng sih. Sayang kelakuan minus," sahut temannya.
"Ganteng juga buat apa kalau hidup kayak sampah masyarakat gitu. Berantem mulu, ya pantes aja kalau mati dengan cara kayak gitu." Ketiganya terlihat tertawa entah apa yang lucu. Apakah hilangnya nyawa seseorang bisa dijadikan bahan lawakan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Stairways to Happiness
Teen FictionSurat cinta tugas MOS membawa dunia Ara yang tenang menjadi tak beraturan sebab kakak kelas yang namanya baru diketahuinya beberapa jam lalu dengan seenak udel menerima cintanya. Padahal tulisan itu hanya sebuah coretan biasa yang tidak ada maksud a...
