"Waktu adalah dimensi yang aneh meskipun dia punya satuan SI, tetap saja hitungannya kacau. Dia bisa sangat cepat saat kita merasa bahagia, tapi dia akan jadi sangat lambat ketika kita dirundung duka."
-Ara-
***
Aku duduk di salah satu bangku yang tak jauh dari lapangan basket sementara Kak Wira sedang ke kamar mandi untuk ganti baju. Hari ini adalah hari pemilihan anggota ekskul basket dan baru kemarin aku tahu ternyata Kak Wira ikut ekskul ini bahkan kata Arsya, dia adalah kandidat terkuat calon kapten basket tahun ini. Awalnya aku tidak ingin ikut menonton, tapi rengekan Kak Wira lagi-lagi manjur membuatku mengikuti permintaannya. Padahal aku juga nggak tahu apa gunanya aku di sini, paham basket aja enggak.
Jujur keberadaanku hari ini cukup jadi sorotan. Mulai dari tatapan kepo para bigos sekolah sampai tatapan mematikan dari beberapa mata yang dari sinarnya terlihat jelas ingin memakanku hidup-hidup. Aku memilih menyibukkan diri dengan membaca buku bacaan yang aku pinjam dari perpustakaan mamanya Kak Wira. Meski alur yang ditawarkan penulis begitu menarik, tetap saja mataku awas melihat sekitar secara diam-diam.
Setelah sekian lama jadi sasaran tatapan sinis, akhirnya sekelompok anak-anak perempuan yang tak ku kenali namanya berjalan ke arahku. Bila dilihat dari caranya berpakaian dan berjalan, aku yakin mereka termasuk kelompok anak populer di sekolah ini. Melihat gelagat mereka sepertinya akan terjadi sesuatu. Mungkin itu yang disebut adegan labrakan di semua novel remaja yang pernah aku baca. Haruskah aku jadi bagian dari plot yang selalu aku anggap memalukan itu?
"Hai cewek, sibuk nih?" Suara yang aku kenali itu pun membuatku merasa lebih baik. Tameng perangku datang tepat pada waktunya.
"Randu...," jawabku sedikit panik sambil melihat ke arah rombongan anak-anak perempuan yang berjalan dengan efek ala iklan shampo di televisi.
"Apa sih? Ada hantu?" tanya Randu yang mulai melihat ke arah yang sama denganku.
Keempat perempuan itu semakin mendekat, wajah bengisnya membuatku kalut. Sungguh Tuhan aku tak mau dan tak sudi jadi bagian drama opera sabun yang tak berfaedah macam itu. Walaupun Kau menjanjikan aku peran protagonis, tetap saja itu memalukan. Aku takkan kuat memikulnya seumur hidupku.
Mereka pun makin mendekat dan jantungku makin tak keruan. Habislah aku disengat malu. Mereka berjajar tepat dihadapanku dan Randu. Keringat dingin tak lagi bisa sembunyi. Aku jadi mengkaku.
"Semangat ya Randu!" Sapa salah seorang diantara mereka yang menggunakan jaket berwarna merah jambu dengan senyum malu-malu. Lalu mereka berlalu sambil berbisik-bisik tak jelas. Dasar kamu kebanyakan baca novel remaja, Ara. Ini lebih memalukan.
"Cieh dapet penggemar," ucapku ringan untuk menutupi rasa malu dari imajinasiku yang berlebihan.
"Penggemar yang bikin kamu ketakutan?" Sial, ternyata dia tahu. Aku merasa tak lagi punya ruang sembunyi bila berhadapan dengan manusia satu ini.
"Apa kabar Ratu Getrude ya kalau dia tahu?" jawabku untuk membalas cemoohnya.
"Dasar Ophelia si tukang gossip." Dia memiting leherku dan aku membalas dengan memukul kepalanya menggunakan buku yang ku pegang.
"Kalian ngapain sih?" Kak Wira muncul di antara peperangan ini dan sontak semua berakhir. "Kalian ngomongin apa? Seru kayaknya," katanya sambil duduk persis di sampingku dan membuat aku serta Randu bergeser untuk memberinya ruang.
"Randu dapet penggemar, Kak," sahutku ringan.
"Penggemar yang bikin Ara ketakutan tuh, Kak," timpalnya tak mau kalah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stairways to Happiness
Teen FictionSurat cinta tugas MOS membawa dunia Ara yang tenang menjadi tak beraturan sebab kakak kelas yang namanya baru diketahuinya beberapa jam lalu dengan seenak udel menerima cintanya. Padahal tulisan itu hanya sebuah coretan biasa yang tidak ada maksud a...
