"Penyesalan ada untuk membuat kita tahu apa yang benar-benar berarti untuk hidup kita. Sehingga selanjutnya kita bisa memilah mana yang penting dan mana yang kurang penting dalam kehidupan kita."
-Ara-
***
Mama Kak Wira menjengukku tepat di hari aku diperbolehkan pulang. Kami bertemu di lobi rumah sakit saat aku dan ibu berjalan menuju parkiran. Mama langsung memeluk ibu sambil cipika-cipiki. Kemudian baru memelukku sambil memberikan doa agar aku bisa cepat sembuh. Kami sempat mengobrol sebentar di kursi lobi sampai akhirnya Mama yang hanya izin sebentar dari kantornya harus kembali lagi bekerja. Kami berpisah di parkiran. Jujur aku sempat kecewa karena Kak Wira tidak menampakkan batang hidungnya, tapi aku tersadar ini hari dan jam sekolah. Mana mungkin Kak Wira di sini, dia harus berangkat sekolah.
Siang itu tepat di jam pulang sekolah, ibu dan geng hamlet ternyata membuat acara syukuran kecil-kecilan untuk kepulanganku dari rumah sakit. Acara sederhana, makan siang bersama. Kami semua duduk bersama di satu meja makan. Masakan Mbak Asih yang selalu berbau rumah membuatku merasa benar-benar pulang terutama semua keluargaku lengkap di sini. Maka seharusnya aku merasa cukup, tapi meskipun semua kursi berpenghuni tetap saja aku merasa ada bagian yang kosong. Ada bagian yang hilang dan tertinggal.
Aku masih bisa tersenyum bahkan tertawa mendengar lelucon yang diberikan selama santap siang ini. Aku juga merasakan hangat dari pertemuan yang khidmat ini. Tapi tetap saja aku merasa kurang lengkap. Aku tak berhenti mencarinya terlebih setelah surat itu, aku tak pernah mendapat kabar apa pun darinya. Kak Wira serasa menghilang dari duniaku. Kak Wira seperti ingin terhapus dari hidupku.
Setelah acara makan yang cukup menyenangkan itu, aku memilih untuk beristirahat di kamarku. Ibu yang melihat wajah lelahku pun membiarkan aku menikmati waktu sendiriku di kamar. Awalnya aku berniat untuk tidur, tapi entah kenapa tubuhku malah membawaku duduk di meja belajar. Pikiranku membuatku asyik melihat pemandangan di balik jendela yang ada di hadapanku. Aku terbawa arus ingatan beberapa bulan lalu saat Kak Wira tiba-tiba saja datang ke rumah. Kenangan yang menyesatkanku pada harapan palsu sebab itu takkan terjadi. Entah kapan terakhir kali Angki terpakir di tempat itu. Entah kapan pula terakhir kali manusia hologram itu menjadi bagian dari rumah ini. Ku alihkan pandanganku pada kertas kosong yang ada di hadapanku. Aku ingin menulis, tapi aku merasa tak ada kata yang tepat untuk memulainya. Aku ingin menumpahkan rasa yang ada, tapi tak bisa. Tanganku kaku, otakku bisu dan hatiku kelu.
Rasa sakit yang ada membawaku bangkit dari tempatku duduk, aku berjalan menuju lemari. Kubuka pintunya dan aku temukan jaket berwarna hijau cerah itu. Aku keluarkan dan aku pandangi sesaat lalu aku kenakan. Sore yang cukup panas itu tak menghentikanku untuk menggunakan jaket itu. Aku berbaring di tempat tidurku sambil memeluk jaket itu, tapi aku tetap merasa hampa. Sungguh aku ingin terlepas dari rasa ini, tapi bagaimana caranya?
Ini pilihan terakhirku, ku ambil ponsel dan headseat karena aku sedang tidak mau mendengar playlist laguku, aku jadi memilih mendengarkan radio. Sebuah lagu menggema di telingaku saat aku terbaring kaku di atas kasur. Sial, bahkan semesta sedang berkonspirasi mempermainkan hatiku. Syair lagunya yang dalam membuatku memilih menutup wajahku dengan selimut. Segalanya yang awalnya beku akhirnya pecah dalam bentuk bulir-bulir air mata. Aku meringkuk sambil memeluk tubuhku sendiri dan kepalaku dengan fokus menikmati satu demi satu kata yang dinyanyikan oleh band Minoru di lagu merindukanmu.
Di sini sendiri jauh darimu, kulewati malam sepi menghujam
Tanpamu ku rasakan mati tak seperti saat kau di sisi
KAMU SEDANG MEMBACA
Stairways to Happiness
Teen FictionSurat cinta tugas MOS membawa dunia Ara yang tenang menjadi tak beraturan sebab kakak kelas yang namanya baru diketahuinya beberapa jam lalu dengan seenak udel menerima cintanya. Padahal tulisan itu hanya sebuah coretan biasa yang tidak ada maksud a...
