Perubahan

16.9K 2.2K 317
                                        

"Perubahan ada untuk membuat kita beradaptasi bukannya menepi apa lagi mengisolasi diri."

-Ara-

***

Arsya susah sekali dihubungi, entah ponselnya kenapa selalu saja panggilanku tak diangkat

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Arsya susah sekali dihubungi, entah ponselnya kenapa selalu saja panggilanku tak diangkat. Pasti dia keasyikan pacaran sama Aftab sampai-sampai tak menggubris panggilanku yang sudah entah ke berapa kali. Rasa penasaranku terhadap masalah Randu akhirnya membawaku nekat ke rumah Arsya setelah mendapat bocoran dari Ibu Arsya kalau dia ternyata ada di rumah. Untung Mas Yono, suami Mbak Asih yang juga tukang ojek langgananku, bisa mengantar. Jadilah misiku ke rumah Arsya berjalan lancar.

Sesampainya di depan rumah Arsya, aku mendapati motor Randu dan motor Aftab terparkir rapi di sana. Rasa penasaran membuat langkahku lebih ringan untuk segera mendekati pintu masuk. Namun suara-suara serius mereka memaksaku berjalan perlahan, aku tak ingin mengganggu percakapan mereka.

"Tapi Ara berhak tahu...," kata Arsya yang langsung membuatku bingung. Apa yang harus aku tahu?

"Tapi keadaannya nggak kondusif," sahut Aftab yang terdengar ragu-ragu.

"Memangnya kalau menyembunyikan kenyataan ini dari Ara semua akan lebih kondusif? Semua udah kacau dan mau nggak mau kita harus ngadepin kekacauan ini," ucap Arsya dengan nada bicara seriusnya. Jujur sebenarnya aku tak paham apa yang mereka bicarakan, tapi kalau aku memperlihatkan diri sekarang pasti mereka akan mencoba menutupi ini dari aku. Apa hubungannya aku dangan masalahnya Randu?

"Berarti menurutmu aku harus bilang ke Ara kalau aku putus dari Galuh karena merasa punya perasaan lebih sama dia?"

"Jadi ini maksud pertanyaanmu tadi pagi Randu?" Aku yang telah mendengar inti permasalahan dari mulut Randu tak lagi bisa sembunyi. Aku menampakkan diri di depan pintu masuk dan membuat ketiganya berdiri canggung menghadapiku.

"Ra, aku bisa jelasin...," timpal Randu yang mulai panik.

"Apa maksud ucapan kamu tadi? Aku menghargai keputusanmu putus sama Galuh walaupun aku kurang setuju juga. Tapi apa maksudnya dengan namaku yang dibawa-bawa?"

"Kamu biang keladinya...." Seseorang menyahuti ucapanku dari belakang dan orang itu adalah Galuh.

"Galuh, maksud kamu gimana?" tanyaku panik saat melihat wajah Galuh menegang.

"Jawaban pertanyaan yang kamu kasih ke Randu udah sukses bikin kita putus." Aku memandang Randu yang terlihat diam dalam kebingungannya dan Galuh yang mendapati kami semua terdiam pun jadi berbalik untuk pulang.

"Bentar Luh, aku nggak tahu kalau jawabanku bikin semua sekacau ini. Tapi kamu juga harus denger penjelasanku. Aku ini anak kedua orangtuaku Luh. Aku jadi saksi mereka yang hidup bersama, tapi nggak bahagia. Aku nggak mau kamu dan Randu ngalamin hal yang sama bahkan seekstrim mereka karena itu aku milih jawaban yang bisa bikin kalian bahagia. Ya karena bagiku kebahagiaan itu yang paling penting," kataku sambil menggenggam tangan Galuh agar dia bisa mendengarkan penjelasanku sampai akhir.

Stairways to HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang