Benci

18.2K 2.3K 204
                                        

"Tidak ada hidup yang sempurna dan tidak akan pernah jadi sempurna, tapi percayalah bahwa ketidak sempurnaan itu merupakan bagian dari takdir Tuhan yang sempurna."

-Ara-

***

Aku mengamati lebam di tangan kanan Kak Wira entah sudah berapa kali dia menyakiti dirinya untuk menegakkan makna perlawanan yang dia yakini. Saat ini kami tengah duduk-duduk di teras rumahku. Mbak Asih sudah selesai mengantarkan makanan dan minuman untuk menyambut kedatangan Kak Wira. Bahkan Mbak Asih sempat menanyakan luka di wajah Kak Wira dan Kak Wira hanya menanggapinya dengan bercandaan yang mampu membuat Mbak Asih undur diri sambil tertawa terbahak-bahak. Tapi entah kenapa aku tak bisa menganggap ucapannya lucu. Kami terdiam sesaat. Kak Wira menyibukkan diri mencicipi minuman yang disuguhkan Mbak Asih, terlihat sekali dia salah tingkah dan tidak tahu harus mengatakan apa.

"Kita mulai Kak obrolannya," kataku datar dan dia nampak menegakkan badannya walaupun masih menjauhi tatapanku.

"Saya akan mengesampingkan benar serta salah yang saya percaya dan sepenuhnya bakal ndengerin penjelasan Kak Wira. Sebenernya kenapa Kak Wira kayak gini?" tanyaku untuk memulai percakapan.

"Aku kan udah ngomong, Aksara...," jawabnya sedikit terbata-bata.

"Kita nggak akan bebas kalau nggak melawan. Itu yang Kakak maksud?"

"Iya...."

"Tapi apakah semua perlawanan itu selalu soal kekerasan Kak?"

"Bukannya semua perjuangan kemerdekaan yang ada di muka bumi ini pakai jalur perang yang sarat kekerasan. Demo pun berakhir ricuh buat dapet perhatian media massa. Itu juga nggak lepas dari kekerasan kan?" tanyanya dengan nada lebih yakin.

"Kakak salah."

"Maksud kamu gimana Aksara?"

"Nggak semua kemerdekaan di muka bumi ini pakai jalur kekerasan Kak." Dia nampak bingung dengan jawabanku. Aku melanjutkan penjelasanku," ada Mahatma Gandhi dengan Satyagrahanya. Mereka melawan kesemena-menaan penjajahan Inggris dengan jalur damai karena bagi mereka saat mata dibalas dengan mata maka dunia akan menjadi buta. Jadi bila kekerasan dilawan dengan kekerasan maka akan seperti lingkaran setan Kak. Muter terus nggak ada ujungnya lama-lama entar endingnya kayak kutukan keris Empu Gandring yang memakan entah berapa generasi."

"Kamu nggak ngerti Aksara," timpalnya menggantung.

"Kalau gitu bikin saya ngerti Kak karena saya pikir itu bukan alasan yang sebenarnya. Itu hanya tameng yang Kakak bawa untuk menutupi penyebab sebenarnya. Apa itu Kak?"

"Kamu nggak akan ngerti Aksara."

"Kenapa?"

"Karena kamu bukan aku, kamu nggak punya bapak kayak papaku," jawab Kak Wira lebih serius ada guratan kekesalan yang hendak dikeluarkannya.

"Memangnya apa yang salah dengan papa Kak Wira?"

"Dia laki-laki yang egois. Selalu sibuk sama kerjaannya dan sekalinya pulang dia meninggal. Boro-boro ngelindungin aku sama Mama, bahkan dia nggak ngebiarin aku kenal dia, sayang dia atau pun punya kenangan indah sama dia. Karena itu aku berjanji sama diriku, aku nggak akan jadi kayak dia. Aku bakal jadi laki-laki kuat yang bisa ngejagain orang-orang yang aku cintai."

"Ngejagain orang yang Kakak cinta. Sekarang saya tanya Kak, apa arti menjaga itu Kak?" Dia nampak bingung untuk menjawab, aku lanjutkan ucapanku," menghindarkan seseorang dari bahaya kalau nggak memberikan rasa aman dan tentram pada seseorang." Dia pun mengangguk menyimak ucapanku.

Stairways to HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang