Surat cinta tugas MOS membawa dunia Ara yang tenang menjadi tak beraturan sebab kakak kelas yang namanya baru diketahuinya beberapa jam lalu dengan seenak udel menerima cintanya. Padahal tulisan itu hanya sebuah coretan biasa yang tidak ada maksud a...
"Katanya cinta itu cukup ditunjukkan dengan perbuatan, tapi bagiku cinta tanpa pernyataan itu takkan pernah dapat pengakuan."
-Ara-
(Udah pada ngungkapin cinta ke orang-orang tercinta belum? Kalau belum mending diucapin dari pada ditahan jadi jerawat terus ditinggal gara-gara keduluan yang lain atau bisa aja udah terlambat karena berbagai alasan. Now or never, pal!)
***
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Perpustakaan dan sekarang toko buku, keajaiban dunia yang bikin aku jadi akrab sama dua tempat ini," guman Kak Wira saat kami sedang berbelanja buku di salah satu toko buku yang sering aku datangi.
"Abisnya Kak Wira sok-sokan jadi sukarelawan belanja buku buat komunitas segala padahal anggota tetap aja bukan," kataku ketus mungkin akibat hawa siang itu yang cukup panas dan toko buku ini yang berkonsep semi out door sehingga tanpa sentuhan AC dan itu cukup menantang ketenanganku.
"Abisnya ini satu-satunya cara biar aku bisa nge-date sama kamu sih."
Jadi ternyata itu alasannya mengapa memaksaku belanja buku di Sabtu yang bertanggal merah ini. Lagi-lagi sebuah alasan yang kurang bisa aku pahami.
"Emang saya kelihatan susah diajak jalan ya Kak?" tanyaku penasaran.
"Jadi kamu mau aku ajak jalan?" tanyanya dengan sangat antusias dan aku yang malas menanggapinya pun melanjutkan perburuan buku. List masih panjang dan hawa panas serta keramaian khas hari libur membuatku enggan berlama-lama di tempat ini.
"Udah?" tanyanya saat aku menyuruhnya menurunkan dua tas belanjaan yang sejak tadi dibawanya.
"Saya periksa dulu, Kak. Takut ada yang ketinggalan." Dia menurunkan dua tas belanja yang penuh dengan buku.
Aku mengecek satu-persatu buku di dalamnya. Sesekali aku mencuri pandang ke arahnya. Dia terlihat memijat lengannya tanda sejak tadi dia kelelahan membawa dua tas belanja itu. Lebih lucunya saat aku melihat ke arahnya, dia berubah pose seakan tangannya tidak apa-apa. Begitulah terus berulang, kejadian yang membuatku tak lagi bisa membendung senyum. Bahkan siang yang keterlaluan dengan panasnya itu jadi tak cukup merusak mood-ku karena kelakuan Kak wira yang sungguh lucu.
"Udah lengkap?" tanyanya ringan.
"Sepertinya udah, Kak. Ayo kita ke kasir." Aku mencoba membawa satu tas belanja karena merasa kasihan dengannya. Meski mulutnya berbohong, tetap saja aliran keringat itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku yakin dengan kelelahan yang ditahannya sejak tadi.
"Ih biar aku aja." Dia merebut tas yang awalnya aku angkat dan berjalan mendahuluiku menuju kasir.
"Nggak Kak, biar aku bantu. Lihat tuh keringet Kakak." Aku menunjuk bagian kaos di punggungnya yang terlihat basah.