Masa Lalu

19.8K 2.4K 221
                                        

"Kalau hidup itu diibaratkan pohon. Masa kini ialah batang yang tumbuh membesar serta memanjang, masa depan yaitu buah yang suatu saat bisa dipanen dan masa lalu adalah akar. Akar memang jarang kelihatan, tapi perannya vital untuk menompang. Tanpanya pohon bisa tumbang."

-Ara-

***

"Sabtu kemarin waktu ke toko buku, aku ketemu Jodhi," kataku kepada Arsya dan Randu saat kami sibuk mengerjakan tugas dari guru yang tidak bisa mengajar karena sakit hari ini.

"Jodhi si Hamlet?" tanya Arsya kaget.

"Iya," jawabku datar.

"Bukannya dia di Australia?" Randu mulai ikut bersuara.

"Katanya sih ada acara keluarga gitu."

"Gimana dia sekarang? Tambah ganteng?" Jiwa penggosip Arsya pun menampakkan diri.

"Mungkin bisa dibilang ganteng."

"Kok mungkin sih?" Protes Arsya yang tidak puas dengan jawabanku.

"Aku nggak ngerasa gitu, tapi waktu kita ngobrol banyak cewek yang ngeliatian sih."

"Woah ganteng dong?" Arsya makin penasaran.

"Aku laporin Aftab, tau rasa kamu." Randu pun nerocos untuk menggoda Arsya.

"Sana nggak takut, yang ketemu juga Ara. Gimana emang tampang dia sekarang?"

"Jadi lebih bule sih menurutku."

"Pantes pada pengen. Kebanyakan perempuan Indonesia sudah lelah melihat wajah kayak gini," kata Arsya sambil menunjuk wajah Randu .

"Untung Aftab tuh blasteran Arab." Balasan Randu yang membuatku tertawa.

"Oh ya semalem aku kasih nomormu ke dia, Ndu," ucapku kepada Randu dan dia hanya mengangguk santai.

"Kalian tukeran nomor?" Arsya nampak heran dengan itu.

"Iya, dia bilang pengen kumpul kayak dulu lagi. Reuni gitu."

"Reuni atau modus?" tanya Arsya dengan nada agak sinis.

"Maksud kamu apa, Sya?"

"Kamu lupa dulu sebelum dia pergi ke Australia, dia kan sempet nyatain cinta ke kamu."

"Ya ampun itu jaman bahulak banget, Sya," gumanku dengan wajah super malas.

"Hati orang sapa yang tahu coba." Ancaman terserius dari mulut Arsya yang cukup berhasil membuatku jadi berpikir lain soal Jodhi.

"Please, jangan bahas itu ke Kak Wira," suruku tiba-tiba merasa takut.

"Kenapa emang?" Randu pun penasaran.

"Dia kemaren marah waktu aku kasih nomor aku ke Jodhi."

"Jelaslah." Randu membenarkan tindakan Kak Wira.

"Tapi kan..."

"Tetep aja dia cowok Ara. Apa lagi tadi kamu bilang udah ngasih nomorku ke dia, tapi nyampek detik ini aku belum dihubungin juga sama dia. Kalau nggak modus apa coba?" papar Randu dengan serius.

"Tuh, Ra," sahut Arsya yang makin membuatku kalut.

"Tapi dia tahu kok kalau Kak Wira pacarku."

"Pacar kan bisa putus," sahut Randu ketus.

"Sssst! Jangan ngomong sembarangan. Omongan tuh doa lho," jawabku galak.

"Cieh takut putus sama Kak Wira..." Tiba-tiba keduanya menggodaku.

Stairways to HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang