"Kata Orang cinta pertama bagi anak perempuan adalah ayahnya, lalu bagaimana nasib anak-anak perempuan sepertiku? Apakah semesta benar-benar tega membiarkan kami melewatkan rasa yang katanya indah itu?"
-Ara-
***
Pagi yang aku takutkan itu akhirnya datang juga. Suara motor Honda CBR 125 R yang berwarna meriah itu membawa semerbak kengerian yang tak bisa aku hindari. Senyum angker itu pun memuramkan kaca pandangku sehingga membuat cahaya mentari yang terang benderang nampak begitu mendungnya. Detik pun terasa merenta sebab berjalan begitu lama.
"Selamat pagi," katanya setelah tersenyum ke arahku dan aku pun hanya bisa menundukkan kepala sebagai tanda membalas sapanya.
"Kamu nggak pakek jaket?" sahutnya yang membuat ketenanganku terusik.
"Dingin lho hari ini." timpalnya lagi dan aku masih malas untuk membalas perkataannya.
"Oh iya," jawabku datar, "Bentar ya Kak, saya masuk ngambil jaket dulu." Aku pun berbalik segera, tapi sebuah tangan menahanku.
Meskipun ini bukan kali pertama tangan itu seenaknya menggenggam pergelangan tanganku, tetap saja aku masih belum terbiasa bahkan kurang nyaman dengan itu karena ada rasa aneh yang menjalari tubuhku dan aku nggak tahu apa sebenarnya itu.
"Nggak usah." Perkataannya yang tidak hanya menghentikan langkahku, tapi juga membuatku bingung.
Dia pun membuka tasnya, mengeluarkan sesuatu lalu memberikannya kepadaku. Ternyata sebuah jaket berwarna hijau muda dengan dua garis berwarna biru tua memanjang di kedua lengannya dan ada angka 12 di dada bagian kiri. Warna yang cukup mencolok untukku. Jujur aku kurang nyaman bila harus memakainya.
"Ini buat saya, Kak?" ucapku basa-basi.
"Iya." Dia pun nyengir ke arahku.
Mulanya aku tak mengerti apa maksud senyum ganjil itu, tapi setelah mengamati jaketnya aku kembali bengong.
"Ini kan?" Lidahku kelu dan dia tersenyum dengan makin memperlihatkan gigi-giginya.
"Yup." Dia berdiri dan bergaya untuk memamerkan jaket yang dia kenakan.
"Kembaran?"
"Iya."
"Kak Wira nggak malu kita pakai jaket kembar seperti ini?"
"Kenapa harus malu?"
"Biasanya kan laki-laki seperti itu, Kak."
"Berarti aku bukan laki-laki biasa. Toh kenapa juga harus malu, aku malah seneng karena bisa nunjukin ke semua orang kalau kamu punya aku."
Aku tahu ini bukan pertama kalinya dia gombal atau pun ngomong seperti orang mengigau, tapi aku masih belum terbiasa. Kak Wira terlalu bertolak belakang denganku. Dia aneh!
"Mau aku bantu pakai nggak?"
"Heh?" tanyaku kaget.
"Abisnya nggak langsung dipakai berarti kode buat dipakein kan?"
Tak habis pikir kenapa ada cowok se-PD dia? Dia bersiap untuk membantuku memakai jaket itu dan refleks aku langsung memberikan tasku kepadanya. Kemudian secepat kilat aku menggunakan jaket itu. Membayangkannya saja aku sudah geli apa lagi kalau kejadian beneran.
"Resletingnya..." Sebelum tangan itu melakukan sesuatu, aku pun dengan sigap menaikkan resleting jaketku sendiri.
"Akhirnya kita jadi kayak pasangan. Helm kembaran terus jaket couple-an juga."
KAMU SEDANG MEMBACA
Stairways to Happiness
Teen FictionSurat cinta tugas MOS membawa dunia Ara yang tenang menjadi tak beraturan sebab kakak kelas yang namanya baru diketahuinya beberapa jam lalu dengan seenak udel menerima cintanya. Padahal tulisan itu hanya sebuah coretan biasa yang tidak ada maksud a...
