Surat cinta tugas MOS membawa dunia Ara yang tenang menjadi tak beraturan sebab kakak kelas yang namanya baru diketahuinya beberapa jam lalu dengan seenak udel menerima cintanya. Padahal tulisan itu hanya sebuah coretan biasa yang tidak ada maksud a...
Berulang kali aku mengusap mata untuk memastikan kebenaran dari apa yang aku lihat lewat jendela kamar. Manusia hologram itu ada di sana, di depan rumahku? Dia tampak santai turun dari motornya dengan pakaian semi formal. Dia melangkah begitu saja menuju pintu depan. Suara bel membuat ketenanganku ambu radul.
Aku lebih baik pura-pura tidak tahu. Biar dia bisa bertemu ibu mungkin ibu bisa memarahinya karena setahuku ibu belum memperbolehkan aku pacaran sebelum masuk perguruan tinggi.
Rasakan kau manusia hologram, tamatlah cerita dongengmu. Kamu akan gagal menyeretku jadi pemeran utama.
Suara pintu terbuka dan ibu sendiri yang menyambutnya. Tunggu saja mungkin hanya butuh 10 menit untuk membuatnya kabur. Aku percaya ibuku pasti mampu membuat Wira menghentikan ulahnya dan besok Senin aku akan memperoleh lagi kemerdekaanku tanpa manusia hologram itu.
Bahagiaku tak bertahan lama, suara langkah ibu terdengar menuju ke sini. Jangan-jangan aku juga bakal kena semprot. Tapi aku akan menjelaskan semuanya sehingga ibu tak akan salah paham dan justru akan melindungiku.
Aku mencoba tenang sambil berpura-pura membaca buku. Pintu pun terbuka dan aku membalikkan wajah, tapi ada yang aneh. Kenapa ibu tidak terlihat marah malah sumringah sungguh firasatku nggak enak.
"Ara, tuh dicariin Wira," kata ibuku tenang membuatku jadi linglung.
"Wira, siapa buk?" tanyaku basa-basi untuk mengetahui seberapa banyak ibu tahu tentang manusia hologram itu.
"Siapa lagi kalau bukan pacar kamu. Ganteng ya? Cieeh...."
What? Ibu tahu dan nggak marah? Aku hanya bisa membuka mulutku dan masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Ibuku telah ditakhlukan oleh pesona Wira.
"Kok malah bengong, sana buruan. Kasihan tuh dah nunggu lama."
Harusnya ibu kasihan sama aku bukan dia. Ingin sekali aku mengintrogasi ibu, tapi rasa kaget telah membuat kemampuan berpikirku oleng. Aku terkalahkan oleh nasib yang aneh ini dan aku pun akhirnya setengah sadar keluar kamar untuk menuju ke tempat manusia itu berada.
"Hai..," sapanya ringan dan aku pun hanya menundukan kepalaku sambil tersenyum untuk menyahut sapaannya.
Aku duduk di depannya dan kami jadi saling berhadapan. Sungguh meski sudah sedekat ini tetap saja dia itu seperti efek komputer dalam film-film. Dia tak pernah tampak nyata.
"Kakak dapat alamat rumah saya dari mana?" ucapku penasaran.
"Apa sih yang aku nggak tahu soal kamu."
Gombal! Sumpah aku menyesal menanyakannya. Ini pasti ulah Randu kalau nggak Arsya. Tunggu pembalasanku besok Senin.
"Oh ya tadi aku udah pamit sama ibu mau ngajak kamu keluar," katanya ringan membuatku tak tahu harus menjawab apa.
"Ibu kasih izin?" tanyaku spontan penuh kepanikan.
Pergi berdua dengan orang ini? Orang yang nggak aku kenal? Tiba-tiba rentetan berita penculikan yang pernah aku baca pun berbaris rapi di otakku.
"Iya dong ibu kasih izin," sahut ibuku tiba-tiba dan membuatku makin merasa ini tidak nyata.
"Beneran Bu?" tanyaku sekali lagi dengan wajah campuran panik, takut dan bingung.
"Ya iyalah, sana cepet ganti baju. Malah bengong."
Aku pun dipaksa ibu bangun dari tempatku duduk dan selama perjalanan menuju kamar aku hanya bisa menggaruk kepalaku yang seperti diserang pasukan kutu. Gatal minta ampun. Ku pandangi wajahku di depan cermin. Masih dengan kebingungan yang tak bisa aku terjemahkan. Semua terasa aneh dan aku nggak tahu pertanyaan mana yang menjadi topik utama.
Setelah berpamitan dengan ibu, aku resmi dibawa lari oleh laki-laki ini, manusia hologram yang baru aku sadari keberadaannya sehari yang lalu.
"Oh ya nih pakek," katanya sambil memberiku sebuah helm berwarna biru muda dan dia pun mengenakan helm serupa hanya berbeda warna yaitu biru tua.
"Perlu dibantu pakeknya?" Ledeknya saat melihatku bengong karena kami menggunakan helm yang hampir kembar.
"Helm kita?" tanyaku agak ragu-ragu.
"Kembar?"
"Iya..."
"Kan biar couple gitu."
Sumpah aku pengen ngelempar helm ini detik ini juga.
"Bawa motornya pelan-pelan ya Nak Wira." Suara ibuku dari teras telah berhasil menenangkanku kembali.
Beruntung kau manusia hologram.
"Iya Bu, tenang aja."
"Pulangnya juga jangan malam-malam."
"Siap, Bu!"
Kenapa mereka tampak akrab sekali membuatku makin tak lagi bisa menerka hidupku setelah ini. Aku pun setengah hati naik ke motornya. Dia sesekali menggodaku untuk berpegangan padanya, tapi aku tolak dengan halus. Awas aja kalau dia melakukan hal-hal yang aneh seperti di film-film. Aku akan lebih memilih terjatuh dari motor dari pada memegang bagian tubuhnya.
Ternyata dia tidak sejail itu. Dia membawa motor dengan kecepatan aman dan mematuhi rambu-rambu lalu lintas. Dia juga tidak melakukan hal-hal aneh bahkan dia nampak sama canggungnya denganku. Baguslah aku jadi nggak harus terperangkap obrolan basa-basi dengannya. Namun semakin dia jauh membawaku pergi dari rumah, aku semakin tak bisa menahan rasa penasaranku.
"Kita mau kemana sih, Kak?" tanyaku meredam ketakutan yang makin tumbuh liar di pikiranku.
"Akhirnya kamu tanya juga, super sabar ya kamu."
"Kita mau kemana, Kak?" Aku pun mengulang pertanyaanku.
"Ke tempat spesial untuk mbuktiin ke kamu tentang keseriusan aku soal kita."
"Maksudnya?"
"Udah liat aja, bentar lagi nyampek kok."
Motor pun masuk ke sebuah perumahan yang cukup mewah di kotaku. Setelah melewati beberapa gang akhirnya motor masuk ke salah satu rumah.
"Ini rumah siapa, Kak?" tanyaku sambil turun dan melepas helm.
"Rumahku."
***
Haloo semua..
Cieeehh yang udah nggak penasaran lagi siapa yang dateng ke rumah Ara. harusnya ini waktunya perkenalan tokohnya Ara, tapi Ara masih belum bisa dibujuk nih. Maklum, dia sangat introvert dan benci jadi pusat perhatian. Jadi sabar ya mungkin di part selanjutnya, aku bakal usahain. Sebagai gantinya aku kasih lagi deh foto Wira, biar Wira sableng club makin cinta. HHe...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Aduh jadi kebawa halu diapelin cowok berlesung pipi macam itu. Udah ah makin ngaco ntar...
Sekali lagi aku mau ngucapin banyak terima kasih buat kalian semua. Antusias kalian tuh napas buat cerita ini. So, terus baca, komen dan vote tulisanku ya. Karena komen kalian tuh semangat buatku dan bintang dari kalian adalah harapan buat aku.
Tunggu kelanjutannya, InshaAllah besok Jumat ya. Cieeehh yang penasaran apa yang bakal terjadi di rumah Kak Wira...