Surat cinta tugas MOS membawa dunia Ara yang tenang menjadi tak beraturan sebab kakak kelas yang namanya baru diketahuinya beberapa jam lalu dengan seenak udel menerima cintanya. Padahal tulisan itu hanya sebuah coretan biasa yang tidak ada maksud a...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
sekali-kali nggak ada quote, tapi biar menghayati baca part ini aku rekomendasiin lagu lama yang jadi inspirasi selama aku nulis bagian ini. Coba deh dengerin lagunya Samsons judulnya 'Dengan Nafasmu' (maklum lagu lama jadi ejaannya juga lama). Selamat baca....
***
Akibat nilai ulangan Geografiku yang jelek aku jadi harus pulang lebih siang karena remidi. Untuk pertama kalinya aku harus menghampiri Kak Wira di kantin. Sebuah tempat cukup angker untuk anak cupu sepertiku terlebih ini jam pulang sekolah. Jam di mana kantin dikuasai kakak-kakak kelas.
"Wira, semenjak punya pacar kamu jadi nggak asyik lagi, nggak ngasep lagi, nggak sering keluyuran sama kita lagi, dan kalau aku pikir-pikir ya kamu tuh nggak cocok sama Ara," kata salah seorang kakak kelas yang aku tak bisa mengenali suaranya dan entah karena alasan apa, aku jadi berhenti lalu bersembunyi di salah satu tembok dan menajamkan telingaku.
"Kenapa?" jawab Kak Wira dengan nada slengekannya yang khas.
"Dia tuh beda, nggak asyik juga keliatannya. Masih banyak cewek lain yang menurutku lebih cocok sama kamu, lebih populer juga. Mending kamu sama Lona si anak XI IPS 3. Cocok dia sama kamu. Anaknya asyik, cantik dan yang pasti ngerti soal kita-kita. Nggak kayak Aramu itu. " Terdengar suara tawa Kak Wira, "kok kamu malah ketawa?"
"Abis kamu aneh sih. Gini ya Tuhan aja bisa menyatukan 1340 suku bangsa dengan 1100an bahasa yang berbeda menjadi satu Indonesia apa lagi cuma buat nyatuin aku sama Ara, itu hal sepele banget buat Tuhan."
"Pinteran nih bocah," sahut suara lain yang sama asingnya di telingaku.
"Dan satu hal yang pasti cuma Aksarra yang bisa bikin aku jadi sosok yang lebih baik."
"Lebih cupu maksudmu?"
Sebelum aku mendengar jawaban Kak Wira tiba-tiba aku menangkap suara langkah di belakangku. Aku pun refleks menjauhi tembok dan pura-pura jalan menuju kantin.
"Ara?" Ternyata itu suara langkah Kak Lutfi, salah satu sahabat Kak Wira yang aku kenal. "Tumben ke kantin jam segini?" tanyanya ramah.
"Mau nyari Kak Wira," jawabku jujur.
"Oh, ya udah yuk barengan." Kak Lutfi pun mengantarkanku ke tempat yang cukup angker itu. "Wira, nih dicariin," ucapnya ringan sontak semua orang di tempat ini menjadikanku objek pandangan mereka.
"Udah selesai?" tanyanya. Aku pun mengangguk dan Kak Wira langsung berhenti memainkan Rasta dan mengambil tasnya kemudian berpamitan dengan semua kakak kelas yang ada di sana. Aku pun memberikan salam hormatku dan langsung mengikuti langkah Kak Wira.
"Gimana tadi remidinya?" tanya Kak Wira seperti biasanya dan aku hanya bisa menjawab singkat dengan mengatakan aman. Walaupun sebenarnya keadaanku saat ini tidak cukup aman. Perkataan teman Kak Wira tadi sungguh berhasil menghancurkan ketenangan pikiranku, tapi kalau aku tanya ke Kak Wira langsung nanti jadi ketahuan kalau aku menguping. Terus enaknya gimana ya? Tapi kalau aku diem aja, otak kepoku ini pasti akan menggangguku seharian.