"Jangankan orang yang baru datang, sahabat lama saja setiap saat masih menguraikan misteri dalam dirinya. Mungkin belajar mengenal itu memang tak ada batas waktunya."
-Ara-
***
"Ara...Ara...." Arsya menggoyang-goyang tubuhku yang lemas di atas meja. Aku pun membalikkan wajah ke arahnya dan dia dengan panik berkata,"kamu nggak papa? Sumpah pucet banget wajahmu. Yuk ke UKS aja!"
"Bantuan yang aku butuhin cuma satu, Arsya."
"Apa itu? Ngomong aja."
"Bawa aku lari dari dimensi ini."
"Heh? Kamu ngigau gara-gara panas ya?" Dia pun menyentuh jidatku dengan lembut, "badanmu nggak panas kok. Kamu kenapa sih?"
"Kena meriang asmara tuh," sahut Randu yang tiba-tiba duduk di bangku depan.
"Oalah kirain sakit. Emang Kak Wira udah ngapain aja nyampek kamu se-desperate gitu?" tanya Arsya yang mulai kepo.
"Semua hal yang nggak akan pernah bisa kalian bayangin." timpalku sambil menegakkan badan dan kedua sahabatku itu pun saling memandang untuk bertukar pikiran dalam kediaman mereka.
"Emang dia udah ngapain kamu sih?" Randu mulai meninggikan suara karena khawatir.
"Sebelum aku cerita. Sekarang ngaku deh, siapa di antara kalian yang ngasih alamat rumahku ke Kak Wira?"
"Bukan aku sih, Sabtu kemarin kan kamu dah meringatin aku lewat chat," kata Randu meyakinkan.
"Berarti kamu, Sya?"
"Enak aja, lewat apa ngasih tahunya? Telepati atau merpati pos? Nomor HP dia aja aku nggak tahu."
"Terus siapa dong?"
"Emang kenapa sih? Bukannya asyik ya sekarang kamu jadi punya tukang ojek yang bisa antar jemput." Arsya pun nerocos dan baru berhenti saat melihatku melotot.
"Siapa pun dia, dia adalah sumber mala petaka dalam hidupku sekarang." Tubuhku pun lemas lagi dan aku menjedotkan kepalaku ke meja.
"Mala petaka gimana?" Randu mulai berekspresi serius, "dia udah macem-macem sama kamu? Perlu aku kasih pelajaran?" Emosinya pun mulai memuncak.
"Ih kamu tuh sumbunya pendek banget, denger penjelasan Ara nyampek akhir dulu napa baru ambil kesimpulan. Jangan langsung main emosi dong." Arsya mencoba mendinginkan Randu yang memang emosional, tapi aku jadi paham betapa dia begitu ingin menjaga kami.
Jadi ingat beberapa tahun lalu, Randu hampir bertengkar dengan pengamen hanya karena ngeliat aku, Arsya dan Galuh digodain. Untung Aftab bisa meredam emosinya saat itu, kalau nggak mungkin mereka berdua udah dikeroyok para pengamen yang ada di sana. Itulah salah satu alasan aku masih nyaman bergaul dengan dua laki-laki ini, mereka mampu memberikan aku rasa aman bahkan saat aku hidup dengan ingatan perlakuan bapak ke ibu yang tak termaafkan itu.
"Ara jangan diem dong, ayo cerita." Arsya yang panik melihat pancaran emosi Randu mulai mendorongku untuk bercerita.
Aku pun menegakkan badanku dengan enggan lalu menceritakan apa yang terjadi kemarin dengan selengkap-lengkapnya. Arsya dan Randu nampak ikut larut dalam ceritaku. Ekspresi mereka berubah-ubah sesuai dengan situasi yang aku jabarkan.
"Sableng abis tuh kakak kelas," kata Arsya segera setelah aku selesai bercerita.
"Iya, tapi keren juga sih," sahut Randu yang membuatku kaget.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stairways to Happiness
Teen FictionSurat cinta tugas MOS membawa dunia Ara yang tenang menjadi tak beraturan sebab kakak kelas yang namanya baru diketahuinya beberapa jam lalu dengan seenak udel menerima cintanya. Padahal tulisan itu hanya sebuah coretan biasa yang tidak ada maksud a...
