Rahasia

18.2K 2.3K 255
                                        

"Yang terpampang indah, tak selamanya indah. Ada kalanya kelam, ada kalanya suram. Ada pula yang mungkin lebih baik tersimpan dan tak terungkapkan."

-Annida-

(Quote dari salah satu anggota GC. Thanks Annida keren kata-katanya.)

***

Pagi yang cukup aneh tiba-tiba saja Randu mengajakku berangkat ke sekolah bersama dan yang membuatku lebih bingung adalah wajahnya yang nampak tak seperti biasanya. Wajahnya terlihat mendung sepertinya ada sesuatu yang terjadi padanya.

"Tumben nih ngajakin berangkat bareng, nggak lagi kesambet jin atau makhluk astral lainnya kan?" tanyaku dengan nada bercanda berharap bisa memulai introgasi dengan cara yang nyaman.

"Apaan sih Ra? Alay deh, udah naik. Rumah kita kan sejalur terus biar Ibu juga nggak harus repot berangkat lebih pagi gara-gara nganterin kamu," jawabnya masih dengan wajah tenang yang dibuat-buat.

Aku sangat kenal dengan wajah ini. Wajah saat Randu sedang dalam masalah, dan masalah yang cukup dalam. Aku butuh menanyakannya secara perlahan karena biasanya kalau mood Randu begini berarti masalahnya cukup sensitif.

Awalnya aku ingin diam saja selama perjalanan, tapi melihat wajah sedih itu aku merasa sangat terganggu. Walaupun suara motor Satria fu milik Randu sangat tidak kondusif untuk berbicara, rasa khawatir ini akhirnya membuatku bersuara juga.

"Kamu nggak kenapa-kenapa kan Ndu?" tanyaku tanpa basa-basi.

"Emang aku kelihatan kenapa-kenapa ya?" Dia malah balik bertanya bukannya menjawab.

"Ih kamu nggak ngaca ya? Wajahmu jadi lebih jelek tuh, keriputnya keliatan," jawabku dengan nada bercanda.

"Hadeh aku keliatan dah setua itu ya?" tanya Randu yang terlihat tersenyum tipis saat aku mengamati wajahnya lewat spion.

"Nggak percaya liat tuh wajahmu di spion," kataku sambil menunjuk spion. " Beneran kamu nggak apa-apa? Kamu nggak lagi ada masalah kan? Semalem Galuh yang aneh, sekarang kamu. Kalian lagi nggak ada masalah kan?"

"Nggak bawel, udah deh," jawaban yang selalu dia berikan untuk membuatku berhenti bertanya.

"Kamu harus inget Ndu. Kamu tuh sahabat aku, Galuh juga. Aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini karena bisa ngelihat kalian bisa bahagia bareng-bareng."

"Tapi hidup ini nggak selalu indah Ra." Tiba-tiba saja umpanku terpancing juga olehnya," kalau misalnya harus milih kamu bakal milih aku dan Galuh terus bersama, tapi nggak bahagia atau kita berpisah tapi bisa bahagia?"

"Kalian ada masalah?" tanyaku menimpali pertanyaannya.

"Kamu nih, aku yang tanya malah kamu balik tanya. Jawab dong Ra."

"Kamu dulu yang jawab pertanyaanku Ndu."

"Aku sama Galuh nggak kenapa-kenapa. Sekarang kamu yang jawab pertanyaanku."

Aku tahu Randu sedang berbohong. Aku bisa merasakan suaranya bergetar saat mengatakan tidak apa-apa. Wajahnya pun terlihat lebih kaku dari biasanya.

"Jawab dong Ra," katanya sambil menodongku dan aku hanya bisa melihat sekitar mencoba mencari jawaban terbaik. Sungguh aku tidak bisa menemukannya karena melihat mereka bahagia bersama adalah hal yang paling membahagiakanku. Bahkan aku lebih siap menghadapi soal MTK, fisika atau pun geografi dibanding harus berhadapan dengan pertanyaan ini. Soal jebakan yang sangat menyesatkan.

Stairways to HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang