Tempatku

15.7K 2K 459
                                        

"Cinta itu penuh resiko. Mencintai akan membuat kita terlukai, tapi dicintai juga akan membuat kita jadi melukai."

-Ara-

***

Bel pulang sekolah sudah berbunyi sejak tadi, tapi beberapa anak termasuk aku, Arsya, dan Randu terpaksa tetap tinggal karena masih mencatat apa yang ditulis di papan tulis. Setelah selesai kami merapikan barang kami dan bersiap pulang.

"Cieh yang udah balikan jadi punya tukang ojek lagi," ucap Arsya sambil menyenggol lenganku. Setelah seharian ini dia membanggakan aksi kepahlawanannya yang telah berhasil membuatku balikan dengan Kak Wira, masih saja dia menggodaku tanpa henti.

"Apaan sih, Sya," sahutku sambil tersenyum geli kepadanya lalu mengarahkan wajahku ke Randu. Dia nampak memaksakan senyumnya. Benar, tidak seharusnya aku memperlihatkan rasa bahagiaku. Itu hanya akan menambah perih di hatinya saja.

"Mana nih si tukang ojek kok nggak nyamperin? Biasanya bel pulang berbunyi udah nongkrong di depan kelas." Arsya yang kadang kurang peka keadaan menanyakan hal yang membuatku canggung untuk menjawabnya terlebih saat di hadapan Randu.

"Tadi jam terakhir kosong kelasnya Kak Wira, jadi dia udah keluar duluan. Nih mau ketemu di parkiran," jawabku sedikit gagu akibat terlalu memikirkan perasaan Randu.

"Oh gitu...," jawab Arsya dengan wajah kepo yang selalu membuatku ingin mencubitnya. Tapi sikap Randu yang sedikit kaku membuatku tak bisa leluasa untuk menghukum Arsya. Rasa canggung ini seperti selalu menyarankanku untuk terdiam di tempatku.

"Udah ah, aku mau rapat buat pensi sekolah dulu ya," pamit Arsya kepadaku dan Randu.

"Iya, iya yang jadi panitia," sahut Randu mengejek. Aku cukup bersyukur dia akhirnya bersuara juga.

"Apaan sih Randu yang ditolak jadi panitia...," balas Arsya dan keduanya seperti biasa selalu bertingkah layaknya kucing dan anjing. Biasanya aku melerai mereka, tapi kali ini aku sangat menikmati pertengkaran mereka. Aku ingin kami bisa selamanya begini. Tanpa ada batas walaupun sudah mulai ada garis di antara aku dan Randu.

"Ya udah deh, aku mau ke depan ya...," kataku sambil ngibrit keluar kelas tanpa melerai pertikaian mereka.

Aku berjalan menuju gerbang sekolah karena Angki diparkirkan di dekat sana. Kak Wira juga sudah mengirim pesan kalau dia menungguku di pos satpam. Namun, tiba-tiba langkahku terhenti. Ada suara teriakan dari arah gerbang sekolah. Beberapa anak terlihat berlari menyelamatkan diri ke arahku. Ku pandangi sekitar, suasana jadi terlihat panik.

"Ada tawuran, semuanya masuk!" seru Pak Dulhan, salah satu satpam sekolah, dari arah gerbang. Seketika itu aku jadi mati langkah. Serangan panik ini masih saja menyerangku dengan brutal. Lagi-lagi bulir-bulir dingin menetes di sekujur tubuhku bersama gigilan badan yang tak bisa ditenangkan. Sebenarnya aku hanya cukup berbalik dan masuk, tapi lututku mulai lemas dan badanku mulai kehilangan keseimbangan. Seketika pandanganku menjadi kabur. Tidak, aku harus menjaga kesadaranku. Aku tidak akan diberdaya lagi oleh ketakutanku. Dia sudah kehilangan masa, dia sudah kadaluarsa.

Namun, ternyata melawannya tidak mudah. Hingga tiba-tiba sebuah tangan menarikku berbalik memunggungi gerbang. Dia melepaskan genggamannya dan menggunakan kedua tangannya untuk menutup kedua telingaku. Dia mencoba menenangkanku dengan pergerakan bibirnya, sepertinya dia bilang, "jangan takut, semua akan baik-baik saja." Kemudian dia menuntunku kembali ke kelas.

"Kamu nggak apa-apa kan, Ra?" tanyanya setelah berhasil membawaku duduk di salah satu kursi di dalam kelas.

"Aku nggak tahu, Ndu," jawabku dengan napas yang tak bisa kuatur. Randu mengecek keadaanku dan refleks mengambil tisu dari ranselku. Aku jadi menyibukkan diri menghapus keringat dingin yang ada di wajah dan tanganku.

Stairways to HappinessCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang