"Bila masalah diibaratkan seperti sebuah atom, manusia terlalu fokus dengan perpindahan elektron yang terjadi di kulit padahal inti atom tidak pernah berubah. Mereka tetap sama, hanya kita yang enggan untuk menghadapinya."
-Ara-
(Kena virus ujian nih aku bisa nulis beginian. Hhheee...)
***
Angki alias motor Kak Wira berhenti tepat di depan rumahku setelah seharian ini mengantarkanku. Aku turun lalu melepaskan helm dan ku berikan padanya. Warna jaket kami yang mencolok membuat pertanyaan makin berisik di kepalaku. Jujur sebuah keajaiban aku mau mengenakannya seharian apa lagi ejekan Arsya dan Randu yang biasanya selalu memengaruhiku. Tapi hari ini entah kenapa tingkah mereka seperti angin lalu saja.
Ini aneh sekali dan aku punya dua asumsi sebagai penyebabnya. Asumsi pertama sudah ku tolak mentah-mentah. Benar, aku yakin dengan pasti aku belum mencintai Kak Wira. Bagiku cinta tak bisa se-instant itu, tapi kalau bukan cinta berarti aku jahat dong selalu menerima kebaikannya. Aku tidak lebih dari orang yang memberikan harapan palsu. Tapi di sisi lain, aku senang berada di sampingnya karena aku menyadari aku tak seburuk itu. Terlebih hal yang menyangkut masa laluku. Masa lalu yang selalu membuatku pantas untuk melakukan apa pun termasuk menjadi manusia pembenci. Walaupun aku sadar betul membenci itu tidak baik, tapi luka yang dalam itu selalu membuatku berkompromi dengan keburukan bahkan kejahatan.
Ku pandang wajah Kak Wira. Dia menyadari apa yang aku lakukan. Dia pun turun dari motornya, melepaskan helm dan duduk di jok motornya sambil balas memandangku. Sepertinya dia menungguku untuk mengatakan sesuatu.
"Kak Wira boleh saya ngomong sesuatu?" kataku basa-basi untuk memulai obrolan. Aku benar-benar bingung harus mulai dari mana.
"Kamu nggak lihat posisiku, udah dari tadi aku nungguin kamu ngomong," jawabnya santai dengan senyumnya yang sudah sangat aku kenali.
"Dari tadi saya udah mikir Kak...."
"Soal apa?"
"Soal hubungan kita, saya ngerasa saya bertindak kurang baik sama Kak Wira."
"Maksud kamu apa?"
"Kak Wira udah baik sama saya, tapi saya sadar kalau saya...."
"Kamu nggak suka sama cara PDKT-ku atau kamu kurang nyaman sama aku?"
"Bukan gitu Kak."
"Terus kenapa?" tanyanya memburuku padahal aku belum merangkai dengan tepat apa yang ingin aku katakan.
"Jujur saya tidak terganggu dengan kedekatan kita bahkan merasa nyaman dengan itu, tapi saya juga sadar kedua rasa itu timbul karena sebuah faktor yang nggak ada hubungannya dengan Kakak. Sama aja saya udah manfaatin Kakak kan?" ucapku terbata-bata karena takut menyakiti perasaannya, tapi betapa kagetnya aku dia hanya tersenyum mendengar perkataanku.
"Kamu nih emang orangnya suka mikir kemana-mana ya."
"Maksud Kakak?"
"Iya, kamu terlalu fokus dengan hal-hal kecil dalam hidupmu tapi lupa dengan hal utama," jawaban yang membuatku makin bingung.
"Maksud Kakak gimana?"
"Kamu terlalu fokus untuk mikir ini baik atau buruk, ini benar atau salah. Tapi kamu ngelupain satu pertanyaan paling penting."
"Pertanyaan paling penting?"
"Iya, apa kamu udah yakin soal perasaan kamu sama aku? Apa kamu yakin kalau kita nggak punya perasaan yang sama?" Pertanyaan yang membuatku bingung.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stairways to Happiness
Teen FictionSurat cinta tugas MOS membawa dunia Ara yang tenang menjadi tak beraturan sebab kakak kelas yang namanya baru diketahuinya beberapa jam lalu dengan seenak udel menerima cintanya. Padahal tulisan itu hanya sebuah coretan biasa yang tidak ada maksud a...
