Kita terlahir sebagai pemain peran bukan penulis skenario. Jadi kita tak punya kewenangan untuk menuntut alur seperti yang kita inginkan. Tugas kita hanya terus berperan sebaik dan semampu kita di setiap adegan yang telah ditentukan.
-Ara-
***
Now playing: Maudy Ayunda-Kamu dan Kenangan
***
Mobil melaju menembus kegelapan membawaku, geng hamlet dan ibu menuju ke tempat yang akan memperjelas apa yang menjadi perkiraanku. Semua yang berada di mobil ini memandangku iba. Ada rasa khawatir yang terpancar kuat dari mata mereka. Jelas saja mereka merasa begitu. Harusnya air mata menggenangi mataku, tapi satu tetes pun tak ada. Mungkin mereka berpikir aku terkena shock yang berat sampai-sampai menangis saja tak bisa, tapi sebenarnya bukan itu alasanku. Aku masih tidak percaya atau menolak untuk menerima. Selama mataku tak melihat sendiri bukti, aku akan tetap menganggap ini sebuah mimpi bahkan lelucon yang tak lucu sama sekali.
Aku menghabiskan waktu di perjalanan dengan melihat keluar jendela. Menikmati jalanan loang, keremangan lampu kota dan sunyinya suasana dini hari. Otakku kosong dan aku tidak bisa menjelaskan rasa apa yang aku tanggung sekarang. Semua nampak hambar serta tawar.
Mobil melaju memasuki wilayah perumahan yang telah aku kenali karena aku memang pernah ke sini. Setelah melewati beberapa gang akhirnya mobil berhenti tepat di rumah yang tak asing itu. Hanya saja keramaian yang terjadi dini hari ini membuatnya berubah janggal. Terlebih bendera putih yang menancap di salah satu bagian pagar membuat semua ketidakyakinanku ambruk dan semua penolakanku kehilangan alasannya. Namun, meski bukti-bukti telah menampakkan diri. Aku masih saja bertingkah tak selayaknya. Benarkah rasa shock membuat air mataku mengering?
Aku dibawa masuk ke rumah itu dan ibu langsung memeluk sang pemilik rumah yang tak lain adalah Mama. Mereka berdua sama-sama banjir air mata dan aku masih dengan kediamanku memandang sebuah peti di ujung ruang tamu yang sedang ramai disholatkan. Mama yang telah selesai berpelukan dengan ibu melihatku. Mama langsung menarikku masuk dalam dekapannya. Seketika air kesedihan itu langsung jebol membanjiri kedua mataku. Ku eratkan tubuhku dalam pelukan Mama dan semua yang sejak tadi tertahan akhirnya bisa terlampiaskan. Rasa sakit akan kehilangan itu akhirnya teraba juga di hatiku.
"Maafkan Ara, Ma. Ara gagal...," ucapku yang dihalau derasnya tangis.
"Enggak Ara. Memang ini udah jadi takdir-Nya dan kita sebagai manusia harus menerima," sahut Mama sambil mengusap pipiku yang terbanjiri air kehilangan itu.
Aku dituntun Mama untuk mendekat ke arah peti setelah penyolatan selesai dilakukan. Peti pun dibuka atas permintaan Mama dan aku melihat sosok itu. Sosok teraneh yang datang tiba-tiba dalam hidupku. Wajah yang hangat itu mengkaku dan tak akan pernah lagi bisa menunjukkan senyum berlesung pipi termanis yang selalu mampu mencerahkan duniaku yang mendung. Tangan yang telah tertutup kain kafan itu, aku tak akan pernah bisa menyentuhnya lagi. Kenyataan yang membuat kedua kakiku kehilangan kemampuan untuk menompang tubuhku. Mama, Arsya dan Galuh memapahku berjalan menjauh agar para pelayat bisa melakukan penghormatan terakhir mereka kepada Kak Wira dengan menyolatkannya. Baru beberapa menit kemudian dengan ketegaran yang tersisa, aku juga melakukan hal yang sama. Memberikan hal terakhir yang bisa aku lakukan untuknya.
Waktu terasa kehilangan karsanya terhadapku. Semua berjalan mengambang. Mungkin karena saat ini aku kehilangan pusat gravitasiku. Daya tarikku terhadap hidup telah direnggut hingga rasa kantuk pun binasa padahal aku belum tidur seharian. Sayup-sayup suara ayat-ayat suci menelusup masuk kedua telingaku membuatku yakin dengan kesadaranku. Sebab mataku mulai memburam meskipun hanya aku gunakan untuk melihat satu titik saja. Tempat di mana tubuh itu disemayamkan sementara. Tubuhku lemas dan hanya mampu bersandar pada satu-satunya lemari di ruangan ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Stairways to Happiness
Teen FictionSurat cinta tugas MOS membawa dunia Ara yang tenang menjadi tak beraturan sebab kakak kelas yang namanya baru diketahuinya beberapa jam lalu dengan seenak udel menerima cintanya. Padahal tulisan itu hanya sebuah coretan biasa yang tidak ada maksud a...
