Keajaiban Itu Nyata

165 36 25
                                        

     Donghwa mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang.Padahal jalanan Buam dong sedang lengang untuk ia memacu kendaraannya lebih cepat.Namun Donghwa enggan melakukannya, memperlama waktu bersama Soorin lebih ia sukai daripada membabi buta merajai jalanan.

"Jadi, bisa jelaskan padaku kenapa kau bisa berjalan sendirian di Buam dong?" Donghwa menyempatkan melirik Soorin yang hanya duduk tenang ikut mengamati jalanan didepan.

"Oh aku tadi sehabis pulang kerja.Niatku mau ke halte menunggu bus tapi malah bertemu denganmu dijalan."

"Kerja? Kau masih bekerja?" Donghwa menoleh sekilas dan menangkap anggukan dari Soorin.

"Diperusahaan yang sama?"
Anggukan diberikan lagi oleh Soorin.

Donghwa mendesah panjang, "Soorin kenapa kau,...."

"Sudahlah Donghwa jangan mempengaruhiku.Aku tahu apa yang ingin kau katakan.Kuliahkan? Berhenti kerja?" Soorin menjeda kalimatnya, memutar pandanganya dari Donghwa ke arah jalanan, " Aku sudah nyaman dengan pekerjaanku ini.Dengan bisa membantu para hikikomori sembuh aku mensyukuri hidupku."

"Tapi aku rindu kau menggendong setumpuk buku ke kampus.Kita menghabiskan waktu membual dibawah pohon oak yang ada dihalaman universitas.Aku lebih menyukainya daripada melihat kau bekerja."

"Tapi ini sudah pilihanku.Lagipula aku tak ingin kuliah lagi."

"Kenapa tidak mau?"

"Babbo.Meskipun aku kembali ke kampus aku tak akan satu bangku perkuliahan denganmu.Salahkan otak cerdasmu itu yang membuat kau lulus sarjana lebih cepat.Kau lupa bahwa kau sudah diwisuda?bahkan kau sudah belajar menjadi CEO muda diperusahaan ayahmu diJepang."

Donghwa merengut.Ia tahu itu hanya alasan Soorin saja untuk tidak kembali ke kampus.Donghwa paham Soorin punya alasan lain dibalik itu.

"Soorin ah." Donghwa menggenggam tangan Soorin.Berujar lembut, berharap kali ini Soorin akan luluh.

"Tak apa Donghwa.Aku baik baik saja."Soorin tersenyum menggenggam balik tangan Donghwa.Sahabatnya ini terlalu peduli padanya hingga mengkhawatirkan kehidupannya.Tapi Soorin tak apa apa.Sungguh.Ia tak butuh untuk dikasihani.

🍂

    Suara decitan sepatu yang beradu dengan lantai terdengar memenuhi lorong.Barisan pintu apartemen mulai dilewati Soorin satu persatu.Terkadang ada beberapa pemiliknya yang tak sengaja berpapasan menyapanya.Yah, mereka tahu bahwa Soorin adalah orang yang disewa untuk menyembuhkan pemuda hikikomori yang tinggal diruangan paling ujung.

   Soorin mengeluarkan kartu akses dari dalam tasnya dan mulai membuka pintu.Ia harus membangunkan si tuan muda Jeon pagi ini.Entahlah apa yang tengah menyerang Soorin sekarang, tapi gadis itu tiba tiba membeku didepan pintu.Ia yakin seseorang yang tengah membuka gorden jendela adalah Jungkook.

   Astaga, tempat tidur pemuda itu bahkan sudah tertata rapi, padahal sebelumnya ranjang Jungkook akan seperti sarang burung onta sebelum Soorin datang membereskannya.Tapi apa sekarang? Pemuda itu bangun lebih pagi dan mulai merapikan tempat tinggalnya.Apakah tuhan sedang memainkan keajaibannya?

"Apa yang kau lihat?" Pertanyaan Jungkook seketika menghentikan keterbengongannya.Pemuda itu menoleh kearah Soorin karena sadar akan derit pintu yang dibuka.

"Hah?aku tidak melihat apa apa.Tumben kau sudah bangun." Soorin masuk kedalam apartemen dan meletakkan tasnya diatas sofa.

Bukannya menjawab, Jungkook malah melengos menuju dapur mengambil cangkir dan meletakkannya diatas pantry.

"Apa dengan begitu aku terlihat aneh?" Jungkook diam disisi pantry menanti jawaban Soorin yang terduduk disofa.

Gadis itu menggeleng cepat, "Bukan seperti itu, aku hanya senang kau sudah ada perkembangan."

Sudah tak dapat dijelaskan bagaimana kondisi Soorin sekarang.Bisa bisanya hanya mengucapkan kalimat itu ia tersipu malu seperti ini.Semoga saja Jungkook tak menyadarinya.

"Begitukah? Kau ingin kopi?" satu sachet kopi siap seduh diangkat sejajar dengan wajahnya.Sekali lagi Soorin tertegun.Ada apa dengan pemuda ini? setan mana yang tengah merasuki Jungkook?Kenapa dia jadi ramah seperti sekarang?

🍂

   Secangkir latte dan sepotong red velved siang ini sepertinya tidak terlalu buruk untuk mengisi kebosanan.Juga dengan jendela lebar cafe yang menghadap langsung kejalanan, menampilkan pepohonan hijau dan trotoar yang tengah dilintasi banyak orang, membuat  Donghwa semakin nyaman menghabiskan santapannya.

   Sesekali ia melirik pohon bonsai yang ada di depan cafe.Senyumnya terkembang begitu halus.Dulu sepulang kuliah Donghwa dan Soorin sering mampir ke cafe ini, Soorin akan menyiramkan segelas air putih ke batang pohon tersebut.Katanya supaya tumbuh, yang padahal sudah jelas pohon bonsai akan tetap kerdil, dia masih saja melakukannya.Salah satu kekonyolan itu yang membuat Donghwa selalu mengingat dan merindukannya.

   Donghwa benci akan situasi sekarang.Dimana Soorin tak lagi punya banyak waktu dengannya.Yang padahal ia ingin membuat banyak momen momen bersama Soorin.Maka ditinggalkannya satu suap red velvet yang masih tersisa diatas meja. Menarik pintu cafe pelan lantas melangkah keluar.Donghwa menyempatkan dirinya merapat ke tanaman bonsai yang tadi mencuri perhatiannya.Menuangkan air kebatangnya lantas melangkah pergi.Ia harus menemui seseorang yang namanya tiba tiba muncul dalam pikirannya.

🍂

  Menolak saat Jungkook membuatkan Soorin secangkir kopi, pemuda itu kini justru memberikannya sekotak susu pisang.Huh, Soorin sungguh dibuat kepayahan akan perubahan Jungkook.Tapi diapun merasa senang karena kehadirannya sekarang mulai diperhatikan.Soorin diam diam mengulum senyum seraya menyesap susu pisang ditangannya.Pekerjaanya akan berjalan mudah setelah ini.

   Bel dibunyikan seseorang dari luar.Mengalihkan atensi kedua manusia yang tengah khidmat menyaksikan siaran pagi ditelevisi.Jungkook bangkit terlebih dahulu dan berjalan membukakan pintu.

  Jungkook membuka sedikit pintu.Mata bulatnya langsung mengerjap pelan mendapati seseorang berdiri tegak didepan pintu apartemennya.Sosok itu menatapnya dalam.

"Ayah."

Tuan Jeon menampakkan senyumnya.Memperjelas kerutan kerutan halus yang mulai terlukis pada kulit wajahnya.

Tubuh Jungkook mundur dan Tuan Jeon refleks menghentikannya.Ia hafal, putranya itu pasti akan menutup pintu dan melarangnya masuk.

"Tunggu Jungkook jangan tutup pintunya dulu."

"Aku membukakan pintu untuk ayah.Rasanya tak adil bila orang lain ku biarkan singgah sementara ayahku sendiri ku usir."

   Daun pintu terbuka semakin lebar.Bahkan Tuan Jeon dapat melihat isi dari apartemen putranya, Soorin yang mengamati interaksi mereka berdua dari depan televisi ia pun tahu.Hatinya tiba tiba bergemerisik.Mengalunkan sebuah desiran yang membuat tubuhnya sedikit gemetar.Bolehkan ia menangis sekarang karena bahagia?


TBC

Annyeong haseyo chingu ya,
Hohoho bagaimana dengan chapter kali ini?
Akhirnya si petapa buam dong mulai berubah sekarang.

Setelah baca jangan lupa tinggalkan jejak kalian.Vomennya aku tunggu.

Sekian dan Terima kasih😊

#Salam Hangat dari WahyuTel😉

Tulungagung
Minggu, 02 Februari 2020

Let's Go Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang