Semula Soorin berpikir Jungkook itu bipolar, mengingat suasana hatinya yang suka berubah ubah dan berhasil membuat Soorin dongkol setengah mati.Namun ternyata opininya tersebut tak berbuah kebenaran.Mungkin Jungkook kurang pantas bila disebut bipolar, karena setelah cukup lama berinteraksi dengannya Soorin dapat menyimpulkan bahwa dia hanyalah pemuda dengan otak bobrok yang tertekan oleh sesuatu entah apa itu, Soorin belum mengetahui penyebab pastinya.Bisa dikatakan Jungkook itu refleksi Soorin dalam versi pria.Rusuh dan menyebalkan.
"Jeon, ayo jalan."
Jungkook yang tengah asyik membaca salah satu manga menoleh dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.Cukup menggelikan untuk dipandang hingga Soorin tak pikir panjang langsung melempar bantal sofa ke arahnya.
"Ekspresimu seperti orang dungu."
"Kau sendiri gadis tidak tahu malu.Pasti saat SMA nilai mata pelajaran bahasamu buruk.Jeon, ayo jalan! Itu terdengar seperti ajakan kencan, bodoh.Aku merinding mendengarnya."
"Yak apa apaan kau mengkritik kalimatku? Kau saja yang terlalu percaya diri." Soorin melotot protes.
Jungkook menggulir bola matanya tak berminat, "Terserah.Aku sedang tidak mau keluar."
Tangan Soorin mengepal kesal, "Sejak kemarin jawaban itu saja yang ku terima.Ayolah Jungkook kita keluar jalan jalan."
Jungkook kembali menggeleng.
"Ya sudah padahal aku ingin mengajakmu ke toko buku dekat halte.Ada manga baru disana."
"Kau pasti ingin membohongiku." cecar Jungkook tanpa mengalihkan perhatian dari manga Tokyo Ghoul yang telah tiga kali dibacanya.
"Hey walaupun hidungku sangat mancung tapi aku bukan Pinokio yang suka berbohong."
"Benarkah?" Kepala Jungkook sedikit tertekuk ke samping, menghadiahi Soorin dengan tatapan mengejek.
"Kenapa kau menyebalkan sekali sih." Soorin gondok, bibirnya mengerucut sebal.
"Kau saja yang baperan." Seinstan itu tuan muda Jungkook menjawab, mengumpulkan keseluruhan emosi Soorin ke satu titik di kepala.
"Haish lebih baik aku pergi saja."
Keputusan final yang dibuat Soorin memecut sepasang tungkai gadis tersebut melenggang keluar apartemen Jungkook.Meraih sebagian atensi si pemuda bersurai hazelnut brown itu untuk mengintai kepergian Soorin.Ia lantas tersenyum, menerawang isi kota lewat jendela.
🍂
Menunggu adalah salah satu hal yang paling dibenci oleh mayoritas orang, tak terkecuali seorang pemuda bersurai mint yang duduk gelisah disudut cafe.Sudah hampir setengah jam ia menanti si bodoh Taehyung tapi manusia aneh itu bahkan tak menampakkan batang hidungnya.Terpaksa ia harus merelakan americanonya dingin karena terlalu lama terabaikan sebab kedua irisnya terus terusan menatap pintu masuk.
Jika saja pemuda gila itu tidak mengatakan punya solusi untuk mimpi seram berkelanjutan yang selalu ia alami, sudah pasti ia tak akan sudi berlama lama menunggu.
"Maaf baru datang." Seseorang menarik kursi diseberang meja.Lantas duduk menampilkan cengiran tanpa dosanya.
"Dari mana saja kau? Kau membuang waktuku setengah jam." Serungutnya tak menolerir keterlamabatan Taehyung.
"Tadi ada urusan dengan appa ku.Mengertilah setelah hampir setengah tahun aku baru bertemu dengan ayahku hari ini." Dia malah merengek seperti anak kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Let's Go
FanfictionJeon Jungkook hanyalah pemuda kesepian yang terjerat akan masa lalunya yang kelam.Satu tahun berharganya dilewati dengan mengasing seorang diri dalam kesunyian distrik Buam dong. Dunia Jungkook hanyalah mengenal hitam dan abu abu lantas tersentuh...
