Petapa Distrik Buam dong

283 46 29
                                        

    Bagi sebagian orang musim semi adalah waktu yang paling ditunggu.Sinar mataharinya begitu hangat dengan bunga bunga cherry blossom yang mulai bermekaran secara indah.Dengan kata lain, spring merupakan musim yang tak boleh dilewatkan begitu saja.

   Namun bagi seorang namja, spring tak ada bedanya dengan musim yang lain.Meski mentari tengah bersinar cerah dan burung burung mulai menyanyikan lagu musim semi, ia tak peduli dan tetap membiarkan tirai menutup jendela apartemennya.Menghalangi cahaya surya untuk masuk ketempat yang ia huni satu tahun terakhir.

      Ketika yang lain tengah bersuka cita merayakan datangnya musim semi, ia malah terduduk diam dikamarnya.Membaca komik komik manga yang sudah bertumpuk memenuhi salah satu rak.Sendirian, didalam kegelapan yang ia ciptakan.Baginya tak ada lagi terang dalam kehidupanya.Barangkali duniapun sudah tak mau memberinya ruang untuk bahagia.Karena kenyataannya ia sudah merusak kehidupan seseorang yang amat disayanginya.

     Dialah Jeon Jungkook, putra kedua dari pengusaha salah satu perusahaan tekstil Korea Selatan, Jeon Haewon.Pemuda kesepian yang menjalani hari harinya dikesunyian distrik Buam dong.Dia lebih suka menghabiskan waktu untuk berdiam diri diapartemenya di Buam dong, yang padahal di kawasan elit Gangnam ia bisa menempati rumah mewah milik sang ayah.

     Pernah mendengar istilah hikikomori? Sebuah gejala anti sosial dimana seseorang mengisolasi dirinya sendiri dari dunia luar.Begitulah sekiranya yang dialami Jungkook.Sejak satu tahun lalu ia memutuskan meninggalkan kediaman mewah sang ayah, lebih memilih tinggal dikawasan Buam dong yang sama sepinya dengan kehidupnya.Tiada pancaran semangat semenjak kejadian itu menimpanya.Dunianya mendadak muram oleh kabut penderitaan.Yang dilakukannya selama setahun hanyalah merenung.Mungkin juga melakukan aktivitas ruangan yang lain untuk menyelingi kehidupan monotonnya yang tanpa arah tujuan.Kendati kegiatan kegiatan tersebut tak mengubah apapun.Kehidupan Jungkook masih saja monoton.

   Seperti biasa Jungkook berdiam ditepi ranjang, memeluk kedua lututnya yang ditekuk.Lalu dering ponsel membuyarkan lamunannya.Appa.Ini sudah panggilan ketiga setelah kedua panggilan yang sebelumnya Jungkook abaikan, pria itu tetap saja menelpon.Jungkool mendesah, menggeser tombol berwarna hijau.

"Ne, appa."

"Jeon Jungkook, kenapa tak mengangkat telpon dari appa?" Pertanyaan itu dilayangkan seseorang dari sebrang sana.Nada khawatir cukup dominan dalam pendengaran Jungkook.

"Mollayo, appa," kalimatnya terhenti sejenak.Pandangan kedua matanya terarah pada pintu kamar mandi yang tertutup," aku dari kamar mandi."

    Sudah jelas Jungkook berbohong.Yang padahal sedari tadi ia hanya memandangi ponselnya yang menyala karena ada panggilan masuk.Ia bahkan tak ada niat mengangkatnya sama sekali.Jungkook hanya terlalu malas untuk berurusan dengan siapapun, termasuk ayahnya sendiri.

"Ada apa ayah menelpon?" Singkat Jungkook sekedar ingin tahu alasan sang ayah menelponnya hari ini.

"Ayah hanya ingin memberitahumu bahwa ayah telah membelikan keperluanmu untuk minggu ini.Mungkin sebentar lagi akan datang."

Jungkook mengangguk datar seraya berdehem, "Jika tak ada yang lain aku tutup telponnya."

Jungkook dapat mendengar jelas hembusan nafas berat Tuan Jeon, "Jungkook ah, tak bisakah kau pulang kerumah ?"Tutur tuan Jeon sangat sendu, namun sepertinya tak mampu merasuki dasar hati seorang Jungkook yang telah dibutakan oleh keputusan mutlaknya.

"Untuk apa ayah bertanya jika ayah sendiri tahu jawabannya.Aku tak mau menjadi bencana untuk keluarga lagi,"Jungkook terdiam, membiarkan sang ayah hanya mendengar senyap dalam telepon, "ku tutup telponnya."

  Jungkook benar benar mengakhiri panggilan sepihak lantas melempar ponselnya ke atas ranjang.Tak ia pedulikan sekiranya perasaan sang ayah.Itu baginya lebih baik daripada Jungkook mengiyakan permintaan Tuan Jeon.Cukup ibu dan kakaknya— Jeon Yoongi— yang mendapat kesialan karena dirinya, jangan sang ayah juga.Biarlah ia menjalani sisa kehidupanya sebagai seorang hikikimori.Jungkook tak butuh keramaian Gangnam.Baginya Buam dong adalah tempat terbaiknya untuk menjauhkan sang ayah dari kesialan yang timbul karena dirinya.Dan juga sebagai tempat penebusan dosa atas kejadian yang telah menimpa sang ibu, apalagi sang kakak.

    Trauma atas situasi buruk yang menimpa Yoongi masih membekas sampai saat ini.Menjadi alasan terbesar untuk Jungkook malu menunjukkan wajah berdosanya pada dunia.Jungkook berpikir bahwa kehadirannya hanya membawa kekacauan saja.Bahkan sejak awal telah nampak bahwasanya ia adalah pembawa sial, sang ibu harus membayar nyawa demi melahirkan Jungkook ke dunia.

   Maka ia rangkum segala duka dan penyesalan itu dalam kesendiriannya.Dunianya sudah terlanjur hitam, jadi sebisa mungkin ia akan menikmatinya.

TBC.

Maaf untuk typo dan kegajean cerita.
Jangan lupa Voment ya kawan.

#Salam Hangat dari WahyuTel😉

Tulungagung
Kamis, 09 Januari 2020

Let's Go Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang