Chapter Tiga Puluh Tujuh

1.4K 44 4
                                        

LAILA
BY
VEBRYNA ARIFIN


*LAILA*

"Van...Evan..."Panggil seorang lelaki dari seberang jalan,yang bagiku tak asing dengan nama itu namun aku tak tahu siapa.

Aku menoleh ke arah seseorang yang memanggil dengan nama Evan tadi. Terlihat seorang anak laki laki mungkin sekitar 19tahun yang ternyata memanggil temannya yang sedang memarkir motornya.

Evan,kenapa aku tak asing dengan nama itu. Apa aku pernah punya teman bernama Evan, jika aku punya mana mungkin aku melupakan temanku. Ah, tak mungkin lah,mungkin aku hanya kaget saja mendengar nama itu.

Ya sekarang sudah dua tahun dari kejadian aku koma setelah melahirkan. Anak keduaku Raska juga baru saja berulang tahun ke dua tahun. Sekarang Rasya anak pertamaku sudah duduk dibangku sekolah dasar.

Rasya bersekolah yang sama dengan sahabatnya Dias. Ya mereka tak mau dipisahkan lagi. Rasya juga sering akhir akhir ini menghabiskan waktu bersama dengan Dias dirumah sampai Dias sering menginap dirumah kami. Tapi entah kenapa Rofik suamiku tak memberikn izin untuk Rasya menginap dirumah Dias.

Sejak kejadian itu Rofik semakin menyayangiku,dia semakin menunjukkan perhatiannya kepadaku, hingga kadang pun aku merasa seperti anak muda yang sedang berpacaran karena perlakuan suamiku sendiri yang membuatku semakin jatuh cinta kepadanya.

Dua tahun terakhir kami juga sering menghabiskan waktu untuk berlibur keluarga saat libur kerja. Dan juga seting juga kami berlibur bersama dengan keluarga Dias.

Kami pergi berlibur keluar kota saat berlibur bersama keluarga Dias. Saat kami pulang ke kota kami juga pernah Dias ikut bersama kami untuk mengunjungi rumah orang tua kami. Entah apa yang membuat aku menyayangi Dias seperti Rasya, yang pasti kami semua seperti keluarga.

//

Angin sepoi berhembus menerjang korden tipis yang tepajang dijendela kamarku. Aku menatap semua lembar demi lembar foto yang ada dialbum foto. Takku sangka anak anakku sudah tumbuh dewasa. Rasya yang begitu mirip dengan suamiku namun di memiliki mata indah seperti sahabatnya Dias. Begitu tampannya mereka berdua.

Fikiranku mulai tehenyak saat melihat foto kami bersama keluarga Dias saat berlibur bersama. Terlihat kami semua bahagia namun kenapa tiba tiba ada hal aneh yang menghampiriku. Seakan ada sesuatu yang mengganjal kala aku melihat Devan ayah dari Dias,seperti ada rasa yang tak dapat aku ucapkan tentang itu. Namun kenapa baru saat ini aku menyadarinya.

Bukan perasaan yang seperti penghianatan kepada suamiku namun seperti perasaan marah benci namun susah untuk di ucapkan. Apa ada yang aneh denganku.

Aku tak ingin memaksakan diri untuk memikirkan hal aneh ini. Aku kembali meletakkan album foto di meja dekat ranjangku.

Aku beranjak pergi dari kamarku dan keluar menuju teras menghampiri suamiku yang sedang mengamati kedua anak kami bermain dengan senangnya.

"Mom,,," Rofik menyapaku saat melihatku menghampirinya.

"Hmmm,,, " jawabku hanya tersenyum manis kepadanya.

"Aku melihat kamu sedang memikirkan sesuatu mon??apa itu??" Tanya Rofik kepadaku yang menyadari bahwa aku sedang memikirkan tentang siapa ayah Devan.

LailATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang