Bab Sembilan belas

6.5K 248 8
                                        

Pelan-pelan aku revisi semoga bisa cepet selesai ya
Maaf kalo masih ada typo kalo beneran ada komentar aja ya aku benerin
Sebelum lanjut tekan bintangnya dulu oke?
Happy reading......
Enjoy.....

Mungkin seperti mutiara yang jatuh dalam lumpur, sulit ditemukan dan sulit untuk dilihat


🐻🐻🐻


Irma menatap Stevan dengan tatapan penuh kebingungan "Dia ada masalah Stev?"tanya Irma yang mendapat gelengan kepala dari Stevan, Stevan memang meyakini gadis itu menyembunyikan sesuatu tapi Stevan memang tak tau apa yang sedang disembunyikannya.

"Stevan kurang tau Bunda, tapi sepertinya iya mungkin masalah keluarganya, soalnya waktu di rumah Navriel itu Stevan sempat gak sengaja denger dia nangis malam-malam"jawab Stevan jujur.

Stevani yang mendengarkan omongan panjang adiknya itu geleng-geleng kepala "Gak nyangka ternyata Lo malem-malem gitu ya Stev, ngapain satu rumah sama Seyla?"

Stevan memundurkan wajahnya sembari mengerutkan keningnya bingung yang diakhiri dengan geplakan tangan didahi Kakaknya "Tololnya masih ada, gue tadi udah bilang waktu di rumah Navriel kurang jelas? Seyla jadi pembantu di rumah Navriel"jengkel Stevan membuat Stevani terkekeh merasa puas setelah membuat Stevan emosi.

"Stevan kamu gak bohong?dia jadi pembantu?"kini giliran Irma yang menyaut.

"Iya Bun, Stevan juga gak tau jelasnya kenapa makannya semenjak itu dia satu sekolahan sama Stevan tapi emang gak deket kok sama Stevan, anaknya rese banyak omong kayak Kak Vani"

Stevani yang tak terima langsung menonyor kepala adeknya lalu menyilangkan tangan didepan dada "Kalo ngomong gak disaring"

Irma menghela nafas panjang lalu mengusap wajah Seyla yang masih demam, entah mendapat dorongan dari mana rasa kasian, perhatian dan sayang itu tiba-tiba ada, Irma memang tak kenal siapa Seyla tapi melihat gadis itu membuat rasa simpati itu muncul "Udah mulai malem, hujannya juga belum reda malam ini biarin dia nginep disini dulu kasian"ujar Irma lalu bangkit dari duduknya.

"Ayah gak bakal marah?"

Irma mengusap kepala putra bungsunya gemas "Gak bakal marah, sekarang keluar semuanya biarin dia istirahat dulu jangan diganggu"


Tak menuruti ucapan Irma, begitu Irma dan Stevani beranjak dari kamar tamu justru Stevan mendekati Seyla dan duduk ditepi ranjang, tatapannya masih mengarah pada gadis pucat yang masih memejamkan mata, rasa bersalah karena meminta Seyla pulang cepat itu kini datang lagi membuat Stevan semakin merasa tak enak hati, tangannya terulur mengambil handuk kompresan lalu membasuhnya lagi dengan air dan kembali ditempelkan didahi Seyla yang masih demam tinggi.

"Lo ada masalah keluarga?"nyatanya ucapan ngelantur Seyla tadi mampu mengambil penuh atensi Stevan, perasaan ingin tahunya semakin besar dan begitu yakin jika gadis itu memang sedang tak baik-baik saja.

Uluran tangan tanpa perintah itu Stevan daratkan dipipi Seyla sebentar sebelum ditarik lagi "Karena gue baik hati gue bakal cari ide kerajinannya dulu"kata Stevan lalu bangkit dari tempatnya dan berjalan kearah sofa dan memainkan ponselnya, sebelumnya Stevan juga memberi kabar Navriel perihal Seyla yang tak bisa pulang hari ini, mungkin saja pemuda itu memang tengah mencari Seyla.

STELA ✓ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang