Bab Dua puluh satu

6.1K 230 8
                                        

Inget baik-baik ini aku revisi ya jadi bakal diupload kalo udah sesuai revisi chapter
Sehari aku usahain bakal upload 1 doain bisa 2 soalnya revisi gak gampang karena dulu bahasanya jelek banget 😭😭😭 bisa-bisanya yeeeee
Kalo ada kesalahan spasi maaf udah dibenerin gitu lagi soalnya
Tinggalin jejak dulu
Jangan lupa nabung juga buat novel Stela
Happy reading...
Enjoyyyy.........

Pikiran bisa kosong, hati juga bisa jadi batu

🐁🐁🐁

Pyarrr

Dengan gerakan cepat Seyna dan Stevan menoleh kearah pintu lalu masuk kedalam ruangan ketika suara pecahan yang cukup keras itu terdengar dari luar, Stevan membulatkan matanya menatap Seyla yang masih menundukkan kepala dan vas bunga yang sudah tak berbentuk lagi di lantai, gadis itu tak menangis lebih tepatnya tangisannya sudah berhenti dan mengering, tubuhnya yang kurang sehat juga memperlihatkan wajah pucat bak mayat.

Seyna menghampiri adiknya lalu mengusap lengan kanan Seyla sembari membawa kepala adiknya untuk bersandar dibahu kecilnya "Kak Ana tau Daddy udah keterlaluan tadi, mungkin Lo emang capek tapi bisa kendaliin diri kan?"ujar Seyna lembut tak ingin mengguncang emosi Seyla yang masih sulit untuk diatur, tatapannya kosong hanya ada wajah penuh kekecewaan disana.

Seyla tak menjawab bahkan tubuhnya seperti mati rasa tak ada kehidupan, pikirannya kosong begitupula dengan hatinya yang mengeras seperti batu.

"Kak Ana panggilin petugas kebersihan dulu ya buat beresin ini"

"Kak Ana tenangin Mommy aja, Sey minta itu bisa?"ujar Seyla datar tak menatap Kakaknya sama sekali, tanpa ditanya Seyna sudah tau jika adiknya memang tengah mode kecewa berat.

Seyna mengulas senyum lalu mengangguk sekali "Kakak bakal cari Mommy sekarang dan bujuk dia biar gak marah sama Daddy"kecupan hangat itu mendarat di kening Seyla, anggukan kecil dan senyum tipis juga dilakukan Seyna pada Stevan sebelum pergi menghilang dibalik pintu ruangan menyisakan Seyla dan Stevan.

Stevan menghela nafas panjang merasakan atmosfer ketegangan yang luar biasa, kakinya dilangkahkan mendekati Seyla "Emm, mau ke rooftop?gue pikir disana udaranya bagus"celetuk Stevan bermaksud memberi saran, seharusnya ia tak perlu berjalan terlalu jauh dalam kehidupan Seyla, tak perlu peduli dengan gadis baru itu tapi anehnya Stevan tak bisa melakukan hal itu dirinya tetap ingin membantu dan mengetahui apa yang sebenarnya Seyla alami dan hari ini Stevan menyaksikan sendiri sedikit demi sedikit dugaannya. Rasa penasaran itu melebihi logikanya.

Seyla mendongakkan kepalanya merapikan sedikit rambutnya yang acak-acakan, Seyla sempat merasa malu dengan Stevan karena pertengkaran hebat itu tak terhindarkan tapi dirinya juga sedikit bersyukur karena itu Stevan bukan Dyto kekasihnya.

Dengan segaris senyuman tipis Seyla menyetujui ajakan itu, mungkin dirinya perlu udara segar untuk melepas ikatan kuat yang menyiksa dadanya saat ini "Bantuin gue ya?"ujar Seyla masih menyempatkan menyengir lebar.

Stevan dengan telaten mengambil kursi roda tak ingin menyusahkan dirinya juga, keadaan Seyla memang tak separah itu tapi lebih baik dengan kursi roda tak menyulitkan dirinya maupun Seyla, Stevan mendekatkan tiang infus kearah Seyla mengintruksi gadis itu untuk memegangnya kemudian mulai mendorong kursi roda dengan hati-hati kearah lift terdekat.

Seyla memejamkan matanya begitu hembusan angin sedikit lebih kencang menerpa tubuhnya sesampainya di rooftop, seulas senyum itu juga terbit lagi Seyla patut bersyukur masih bisa menikmati hidupnya, setelah puas memanjakan diri Seyla membuka mata sedikit terpaku dengan sosok Stevan yang menatapnya begitu lekat, Seyla benar-benar malu memperlihatkan aib keluarganya pada Stevan yang jelas-jelas hanyalah rekan tugas kelompok bukan siapa-siapa.

STELA ✓ Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang