Detik Milik Kita
Teruntuk detik yang terus bergulir
Berhentilah sejenak,
Itu sebuah permohonan
Lantas aku dengar bahwa tanya 'untuk apa?'
Memberikan secercah senyum
Aku tak ingin membeku didetik itu
Aku tak ingin meleleh didetik itu
Aku juga tak ingin menangis didetik itu
Dan aku tak ingin terkejut pada saat itu
Aku hanya ingin bungkam
Memberikan senyum termanis
Bersama pendar syukur yang kurangkai di hati
Tak berlebihan, tak juga kekurangan
Sebatas sampai pada kata cukup
Untuk kembali kukenang
Kala mata itu memberikan ribuan cinta tanpa kata
Untuk kembali ku ingat
Bahwa kau berada disana...
Di hadapanku dengan jas kebangganmu
Tersenyum layaknya mentari
Menggenggam seakan tak ada hari esok,
Juga pengakuan yang membuatku akan selalu memohon
Hentikan waktu di detik itu
Karena kini kuciptakan sebuah pengakuan
Jikalau detik itu hanyalah milik kita
KAMU SEDANG MEMBACA
PROSA
Poesía"Ini tentang kamu dan mereka yang ingin kuabadikan dalam kata sederhana yang datang tanpa ku undang" Terlalu sederhana yang kutulis didalamnya, bukankah seorang puitis menulis hanya untuk jujur kepada dirinya sendiri? Dan itu yang sedang ku lakukan...
