Jangankan memilikinya, mengagumi secara diam-diam saja sudah membuatnya bahagia.
-JANJI DI TEPI SENJA
•••
"ANAK Mama?!" Kirana kaget melihat Reina bangun pagi sekali.
"Selamat pagi, Ma," sapa Reina. Ia tersenyum lebar.
"Astaga, Reina!" Guanna yang baru keluar dari kamarnya spontan menjatuhkan gelas saat melihat putrinya.
"Selamat pagi, Papa. Mulai sekarang Reina bakal bangun pagi!" ujar gadis itu dengan semangatnya, "Ohiya! Karena Mama belum siap-siap, Reina berangkat naik taxi. Ok?" Reina berlari keluar setelah pamit. Ia meninggalkan kedua orang tuanya yang terheran-heran.
"Itu Reina, kan?" Guanna dan Kirana bersamaan. Pasalnya baru kali ini mereka mendapati anaknya bangun sepagi ini. Biasanya, meski dibangunkan tapi gadis itu akan kembali melanjutkan tidurnya.
Reina tiba di depan rumah. Pandangannya melihat ke kiri dan kanan, ia mencari laki-laki tadi. Tapi sama sekali tidak ada tanda-tanda bahwa laki-laki itu masih di sekitar sana.
"Ini karena kelamaan dandan, sih!" decaknya.
~~~
Taxi berhenti tepat di depan sekolah. Setelah membayar sewa, gadis itu segera turun dari sana.
Ia melangkahkan kakinya masuk ke halaman sekolah. Bahkan, siswa di pekarangan sekolah bisa dihitung jari. Ia mendengus kesal. Sangat malas rasanya datang sepagi ini bagi gadis yang notabenya pemalas seperti Reina Elatta.
"Rein, sini!"
Ia menoleh, mendapati seseorang dari kejauhan tersenyum dan melambaikan tangannya. Siapa lagi kalau bukan Anya Andita, sahabatnya.
Reina mempercepat langkahnya untuk menyusul Anya.
Bruk!
Lagi-lagi Reina jatuh, tersandung kaki sendiri.
"Lo gak apa-apa?" tanya seseorang sambil menyodorkan tangan.
"Gue gak apa-apa." Reina meraih tangan itu dan berdiri. Ia adalah Juandra.
Juandra mendorong dahi Reina, "Gak bosen jatuh mulu?"
"Rein, lo jatuh lagi?!" Anya datang tergesah-gesah.
"Plaster luka?" pinta Juandra pada Anya.
"Lo harusnya hati-hati. Bayangin tiap hari lo jatuh kayak gini? tiap hari juga Anya harus ngeluarin goceng untuk beli plaster luka." Juandra mengoceh layaknya emak-emak. Setelah mengambil plaster luka yang diberikan Anya, laki-laki itu langsung berlutut dan memasangkan plaster itu di lutut gadis ceroboh tersebut.
"Musibah gak ada yang tau!" ucap gadis itu. Ia mengacak-acak rambut Juandra yang masih di bawah sana.
Juandra mengangkat kepalanya menatap tajam gadis ceroboh itu. "Boccah! Rambut gue udah dikasih Pomade. Udah di style juga! Malah lo rusakin!"
"Rasakan! Rasakan! Rasakan, nih!" Reina semakin menjadi-jadi. Ia tambah mengacak-acak, dan menghancurkan gaya rambut Juandra.
Juandra berdiri. Ia menatap kesal ke arah Reina. "Ah, dasar bocah!" Setelah mengumpat, ia meninggalkan kedua gadis itu di sana.
"Juan, lo marah?" tanya Anya.
Langkah kaki Juandra terhenti, ia
menoleh. "Tau!" jawabnya ketus.
KAMU SEDANG MEMBACA
JANJI DI TEPI SENJA (SELESAI)
General FictionPART MASIH LENGKAP (REVISI) (Dilarang Keras Plagiat!) [Cerita ini ditulis saat saya masih belum paham tentang cara kepenulisan yang benar. Jadi mohon dimaafkan jika tersebar typo dan cara penulisan yang tidak sesuai EYD.] Reina Elatta, gadis ceroboh...
