Capter 30

595 38 2
                                        

Gadis itu memang tertawa, namun dia tidak sebahagia dulu, saat mentarinya belum meninggalkannya.

-JANJI DI TEPI SENJA

•••

Pernahkah kamu merasa kehilangan? Kehilangan seseorang yang bukan siapa-siapamu? Dan waktu terus membawanya menjauh, seperti senja yang perlahan pergi menyisihkan rindu.


Dan pernahkah kamu melangkah sendiri dengan bayang-bayang kenangan? Seolah kakimu sangat berat melangkah, mengingat dulu dia selalu disisimu.

Sekarang, aku duduk disini.
Menatap kekosongan,
menatap kesepian,
kehilangan kamu yang dulunya selalu ada di sampingku.

Kamu masih ingat janjimu?
Janji yang kamu utarakan di saat terakhir kumelihatmu?
Kamu akan menemuiku setahun setelah hari itu.

Aku kecewa kamu meninggalkanku, meninggalkanku menangis sendiri melihat kepergianmu waktu itu, meninggalkanku yang telah berusaha berubah demi mendapatkanmu.

Rasa sakit itu, tidak akan pernah kamu tau. Rasanya kehilangan, kehilangan seseorang yang selalu membuat harimu bersinar, kehilangan seseorang yang menjadi alasanmu selalu bahagia.

Kehilangan seseorang yang mati-matian kamu gapai, yang dengan gampangnya pergi begitu saja... Meninggalkanmu.

Cerita tentangmu belum usai, namun cerita tentangku di hidupmu sudah di lembaran terakhir.


"Akh, sial! Air mataku terjatuh."

Reina mengusap kasar air matanya seraya mengumpat sang senja yang perlahan pergi, meski ia masih ingin menikmati keindahannya.

Senja di ufuk barat mengingatkannya akan laki-laki yang membuatnya menunggu selama bertahun-tahun lamanya, tanpa ada kepastian apakah ia akan kembali atau malah pergi untuk selamanya.

Jangan jadi senja,
yang datang lalu pergi sesukanya.

~~~


"Hahaha! berhenti! jangan kejar gue! jangan! hahaha."

"Jangan lari lu! kebiasaan! dasar bocah!"

Reina berlari sambil tertawa, Juandra yang mengejarnya karena  lagi-lagi gadis itu menghancurkan tatanan rambutnya. Mereka berkejaran di sepanjang koridor sekolah, dan masuk ke dalam kelas.

"Jangan lagi! jangan! hahaha gue minta ampun!" Gadis itu masih berusaha menghindar dari laki-laki yang mengejarnya.

"Sini lo! biar gue kasih pelajaran!" Laki-laki itu masih mengejarnya.

"A-ampunnn, dahlah! uddahh! gue capek!" gadis itu menyerah, dia ngos-ngosan.

"Gue kasih hukuman," Laki-laki itu menjitak kepala gadis itu dengan pulpen.

Sementara, di kelas seseorang tengah menunggu mereka, tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya, seseorang yang menggenggam erat buku berwarna biru tua. Anya Andita.
"Anya, stop! Jangan membaca dulu. Gue lagi banyak unek-unek yang pengen gue ceritain!" Reina mengambil buku itu dan memasukkannya ke laci.

"Anya, gue bener-bener merindukan Devano!" gadis itu mulai curhat.

"Itu lagi, itu lagi!" Juandra menggeleng-geleng kepalanya, "lo cerita ini tiap hari, kasian kuping Anya, Rein!" lalu mengacak-acak rambut Reina.

"Brisik!" Umpat Reina dan menatap tajam Juandra.

"Jangan menjadi orang lain hanya untuk bersamanya. Kalau dia sayang, dia gak bakal punya alasan buat  ninggalin lo!" Juandra.

"Juandra RE.NA.TA!" Reina mendorong dahi Juandra, "Devano tidak meninggalkan Reina. Dia hanya pergi melanjutkan sekolahnya." Cemoohnya.

"Sama aja!" Juandra tidak mau kalah.

"Beda! sangat jauh berbeda." Bantah Reina.

"BODOAMAT!!!." Ucap Juandra, mereka berdua tidak ada yang mau kalah.

Selama Devano pergi, Juandra menjadi teman debat Reina setiap harinya.

Sedangkan Anya, dia memilih membaca buku andalannya. Mengabaikan keributan dua sahabatnya.

Anya sudah membaik, dan telah mengikuti pelajaran sekolah selama enam bulan berlalu. Menghabiskan satu semester bersama sahabatnya kembali di sekolah tercinta.

Mengingat Reina yang patah semangat semenjak kepergian Devano, kehadiran Anya sangat membantu membuatnya ceria kembali.

"Huaaaaa, huaaaaa!!!" gadis itu menangis di tengah-tengah para sahabatnya. Suara tangis yang menggelegar di dalam kamar rumah sakit itu.

"Rein, udah yah!" Anya berusaha menghiburnya, sembari menyodorkan tisu.

"Huaaa, huaaaaa!!!" gadis itu masih terus menangis.

"Rein, makan ini. Lo suka kripik tempe kan?" Juandra menyodorkan sebungkus kripik tempe kepada Reina.

Gadis itu menoleh, menatap laki-laki itu tajam, "Juandra! Reina lagi sedih! kenapa malah dikasih kripik!"

"Ini buat lo makan, supaya tenaga lo bertambah. Supaya lo kuat nangisin cowok itu!" Jelas Juandra.

"Huaaaa, huaaaaa!!!"  gadis itu semakin menangis menjadi-jadi.

"Rein," Anya menggenggam tangan Reina, membuat gadis yang menangis terseduh-seduh itu melihat kearahnya.

"Besok, Anya sudah bisa pulang." Ujar gadis yang diimpush itu, sembari tersenyum.

"Yang bener?" Reina dan Juandra.

"Hmm, em!" Anya mengangguk.

Detik berikutnya, "Horeeeee! Anyaku sembuhhh!!!" seketika suasana haru itu berubah menjadi suasana bahagia.

Semenjak Anya keluar dari rumah sakit, Reina tidak lagi terlalu bersedih. Kehadiran Anya sangat membantunya untuk bangkit kembali.

Anya tersenyum, melihat kedua sahabatnya berdebat di depannya. Dia bersyukur bisa kembali hadir di tengah-tengah sahabatnya tercinta. Tertawa, berdebat, dan bercanda bersama kembali.

Namun, ada satu hal yang dia tahu, tentang senyuman, dan tawa gadis di depannya. Gadis itu memang tertawa, namun dia tidak sebahagia dulu, saat mentarinya belum meninggalkannya.

bersambung...

Sahur... sahur...

Jangan lupa komen dan votenya yah, agar authornya semangat nulis chapter berikutnya!

Selamat menunaikan ibadah puasa.

JANJI DI TEPI SENJA  (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang