Gadis itu menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya. Ia memilih menyukai laki-laki dingin itu, maka ia juga akan mempertanggung jawabkan perasaannya.
-JANJI DI TEPI SENJA
•••
GADIS itu berjalan di sepanjang koridor sekolah di jam istirahat, meninggalkan Anya di kelas dengan buku tuanya. Juandra hari ini tidak masuk sekolah karena harus mengikuti olimpiade Matematika mewakili SMA 2 Makassar.
"Rein, sini!" teriak seseorang dari kejauhan, ia adalah Raihan. Namun Reina tidak melihat Devano di sana, cuma ada Revan yang berdiri sambil memakan keripik tempe Kang Hadi dan membuang bingkisannya sembarangan.
"Mentariku mana?" tanya Reina saat menghampiri.
"Berhenti deh memanggilnya dengan mentari. Mentari itu bersinar, sedangkan Devano membeku!" Raihan tertawa sekeras-kerasnya.
PLAK!
Tangan Reina melayang menempeleng kepala Raihan.
"Rein, lo ketularan Anya? Dulu lo gak gini!" Reihan mengguncang-guncang kedua bahu Reina.
"LO NYEBELIN!" cetus Reina dan meninggalkan Raihan dan Revan begitu saja.
"Van! Lo liat kan? Reina berubah jadi kasar, itu semua karena dia kebanyakan bersama maklampir itu." Raihan berkomat-kamit memegang kepalanya yang baru saja ditempeleng oleh Reina.
"Lo kenapa?" tanya Revan seakan tidak terjadi apa-apa.
"Anjirrr!!! Jadi lo gak sadar kepala gue kena hantaman cewek menggemaskan itu?!" Raihan melototi Revan yang masih asik memakan kripik tempe.
"Reina gitu?" tanya Revan tak berdosa.
"Lo ngapain aja dari tadi, Nyettt!" Raihan menjambak rambut Revan lalu meninggalkannya.
"Gue salah apa?" Revan benar-benar bingung sambil memegang kepalanya dengan kripik yang masih membungkam mulutnya.
~~~
Reina masih saja berjalan, berjinjit-jinjit, menoleh kesana-kemari, dan bernyanyi riang.
"Sekarang aku tersadar...
"Cinta yang ku tunggu...
"Tak kunjung datang...
"Apalah arti aku menunggu...
"Bila kamu tak cinta..."
BRUK!
Reina terjatuh.
"Aduh!" Reina jatuh tersungkur, lagi-lagi ia jatuh tersandung kaki sendiri. Seseorang menyodorkan tangan padanya. "Juan, gue gak apa-apa." Reina mendongak. Bukan Juandra, melainkan guru magang itu.
"Tetangga! Kok bisa jatuh?" Iqbal masih menyodorkan tangan sambil tersenyum.
"Pak guru!" Reina cepat-cepat berdiri tanpa menerima uluran tangan Iqbal.
"Manisnyaa, jangan panggil Pak guru dong tapi Kak Iqbal!" Iqbal mencubit pipi Reina, membuat Reina mengerutkan kedua alisnya.
"Juan itu siapanya Reina?" tanya Iqbal.
Gadis itu diam sejenak, entah kenapa guru magang ini kepo dengan hal pribadinya. "Sahabat aku kak," jawabnya.
"Ohiya, kamu tidak apa-apa?" tanya Iqbal lagi sambil memegang kedua bahu Reina. Membuat gadis itu sedikit merasa tidak nyaman.
KAMU SEDANG MEMBACA
JANJI DI TEPI SENJA (SELESAI)
General FictionPART MASIH LENGKAP (REVISI) (Dilarang Keras Plagiat!) [Cerita ini ditulis saat saya masih belum paham tentang cara kepenulisan yang benar. Jadi mohon dimaafkan jika tersebar typo dan cara penulisan yang tidak sesuai EYD.] Reina Elatta, gadis ceroboh...
