Orang asing itu berubah menjadi orang yang paling dicintai.
-JANJI DI TEPI SENJA
•••
SATU bulan Anya di rumah sakit.
“Anya, makan yang banyak yah? Biar Anya cepat sembuh.” Kata Reina sambil menyuapi Anya yang masih tebaring di tempat tidur pasien. Reina baru pulang sekolah.
“Ini gue juga bawahin buah-buahan buat lo, makan yah sebelum Reina yang habisin!” Juandra meletakkan keranjang yang berisi aneka macam buah.
“Hahaha, nanti gue makan semuanya.” Anya tertawa melihat tingkah lucu para sahabatnya.
Sementara Sultan tersenyum melihat anaknya yang sangat kuat melawan penyakitnya, meskipun sudah beberapa kali kemoterapi namun anak itu sama sekali tidak patah semangat.
"Kalau gitu, Ayah keluar dulu ya sayang. Mau cari makan." Ujar Sultan, karena memang dia sudah lapar sedari tadi.
"Iya om, biar kami yang jaga Anya." Balas Juandra, setelah itu Sultan meninggalkan ruangan itu.
Drrrrttt… drrrrtttttt….
Hp Reina berdering, sebuah panggilan masuk dari seseorang.
Devano memanggil…
Reina mengulum senyumnya, lalu menjawab panggilan itu, “Halo.”
“Ada waktu gak? Jalan yuk.” Terdengar suara di seberang sana.
“Ke pantai?” Tanya Reina sambil tesenyum.
“Kemana aja.” Jawab laki-laki diseberang sana, hati Reina benar-benar berbunga.
Ini pertama kalinya Devano yang mengajaknya jalan-jalan bersama. Biasanya, Reina yang selalu ikut dengan sendirinya.
“Tapi gue lagi bareng Anya.”
“Gue ke situ sekarang!” Balas Devano lalu memutus panggilannya.
Reina memegang dadanya dengan pipi yang sudah memerah, sambil senyum-senyum sendiri. Tanpa meyadari sahabatnya tengah menatapnya dengan tatapan aneh.
“Kenapa lo?” Tanya Juandra.
“Gue gak mimpi kan?” Reina merasa tidak percaya, "Juan, cubit pipi gue!"
"Lo kenapa?" Tanya Anya.
"Anya, cubit gue. Cubit!" Reina terlihat sangat senang, "akh sakit!" pekiknya, saat Anya menarik pipinya dengan keras.
"Gue gak mimpi?" Reina masih saja senyum-senyum sendiri.
"Nya, keknya dia juga butuh dirawat." Ujar Juandra, "sakit dia," sambungnya.
"Nyaa, Juaaan! Devano ngajak gue jalan!" Ujar Reina dengan sangat bersemangat.
Anya langsung duduk dan meletakkan mangkuk bubur itu di meja, "Serius?"
"Iya, gu-gue diajak jalan Nyaa."
“Kencan?” Tanya Anya memastikan.
“Bukan kencan sih, karena kita belum jadian.” Reina tiba-tiba cemberut.
Kedua sahabatnya langsung lemas, "bocah, bocah!"
Reina mengembungkan pipinya, kemudian mengingat kejadian sebulan yang lalu, saat Devano tiba-tiba menghampiri dan memeluknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
JANJI DI TEPI SENJA (SELESAI)
General FictionPART MASIH LENGKAP (REVISI) (Dilarang Keras Plagiat!) [Cerita ini ditulis saat saya masih belum paham tentang cara kepenulisan yang benar. Jadi mohon dimaafkan jika tersebar typo dan cara penulisan yang tidak sesuai EYD.] Reina Elatta, gadis ceroboh...
