Capter 27

683 39 15
                                        

Setidaknya, satu kali dalam sepanjang hidup kita. Kita akan bertemu dengan satu orang yang memberikan dampak besar untuk hidup kita seterusnya, dan tidak akan pernah kita lupakan walaupun sudah beberapa lama berlalu.

-Reina Elatta

•••


"PERHATIAN!!! ternyata anak kepala sekolah, sekolah di sekolah kita!" Teriak Fani memecah keheningan di kelas pagi ini.

"Yang bener aja lo?" Tanya Revan sambil memakan keripik tempe dan membuang bingkisannya di bawah meja.

"Iya, kalau tidak salah di kelas III IPA2 !!!" Ucap Fani dengan semangatnya.

"Itukan kelas kita!!!" Teriak Revan, membuat kelas gempar. Kecuali Devano yang tertidur di bangkunya.

"Siapa yah anak kepala sekolah di kelas kita?" Tanya Revan, lalu mengeja nama kepala sekolah, "Wi-ja-ya Sa-put-ra Gra-ha..." Revan menghentikan bicaranya.

"Gra-ha? Graha?" Sambil menoleh kearah laki-laki dingin di sampingnya, DEVANO G-RA-HA?" Revan dengan wajah penuh tanya sambil menunjuk kearah Devano.

Seketika semua mata tertuju kepada Devano.

"Ha-ha-ha, tidak mungkin!" Fani tertawa garing dan mulai keringat dingin.

Tiba-tiba Devano berdiri, membuat seisi kelas histeris.

"DEV!" Raihan kaget.

Devano mau menghajar Fani saat itu juga? Devano juga mukul cewek? semua yang ada di kelas itu kaget.

"Gue mau ke toilet!" Ucap Devano dan berjalan keluar kelas.

"OMEGAT!!! gue hampir pipis di celana!" Ucap Fani dengan nafas memburu.

"Makanya, jangan suka gosipin orang!" Raihan mendorong kepala Fani, membuat gadis penggosip itu cemberut.


~~~


"Lo baca buku lagi Nya? gak bosan baca buku tua itu mulu?" Tanya Juandra saat menjenguk Anya di rumah sakit, setelah pulang sekolah tentunya.

"Brisik!" umpat Anya, melirik tajam Juandra.

Anya menoleh kearah pintu, tidak menangkap sosok Reina disana, "Reina mana?"

"Lagi belajar sama Devano, mempersiapkan ujian penaikan kelas." Jawab Juandra sambil mengupas buah jeruk yang di bawanya.

"Reina banyak berubah selama ada Devano, meskipun awalnya gue paling gak suka sama Devano. Tapi, ternyata orang itu banyak manfaatnya buat Reina." Ucap Anya tersenyum.

"Jangan lihat orang dari covernya." Balas Juandra sambil mengupas kulit Jeruk.

"Iya bener, Juan." Anya mengangguk, "buktinya, semester lalu Reina meningkat drastis. Mulai dari bangun pagi, gak terlambat masuk sekolah, nilainya rata-rata naik drastis, sampai akhirnya dia mendapat peringkat tiga di kelas. Luar biasa kan? cinta memang bisa merubah seseorang. Iya kan Juu..." belum juga sampai kata-kata Anya, Juandra sudah menyumbat mulutnya dengan jeruk

JANJI DI TEPI SENJA  (SELESAI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang