Senin pagi...
Hari yang cerah untuk memulai aktifitas. Tapi tidak denganku.
Pagi ini, semuanya terasa gelap dan suram.
Semua masih berjalan seperti biasanya, masih tampak baik-baik saja.
Tapi tidak denganku.
Kisah perjuanganku yang berakhir sia-sia, secara garis besar mempengaruhi moodku.
Jika ada yang melihatku tampak sedih, itu karena perasaan sedihku sudah diluar kendali.
Aku sudah berusaha menyembunyikannya, tapi rasa sedih itu menguasaiku.
Ini aneh, biasanya aku selalu bisa menyembunyikannya.
Aku memang aslinya pendiam, tapi hari itu aku lebih pendiam lagi.
Apalah dayaku yang masih remaja labil yang belum mampu mengontrol emosi dengan benar.
Semalaman aku memikirkan satu hal, aku terus memikirkannya.
Tapi tak perduli berapa kalipun aku memikirkannnya, aku tak pernah mendapatkan jawabannya.
Aku pikir perjuangan sejenis ini, tidak akan begitu menyedihkan. Nyatanya, aku salah.
Aku salah besar.
Tak perduli berapapun kalinya aku bertanya, memangnya siapa Niko?
Siapa dia yang berhak untuk mengurangi kebahagiaanku?
Siapa dia yang berhak membuatku seperti ini?
Tak perduli seberapa banyak aku bertanya-tanya, aku tetap tak bisa membantah bahwa aku mengenalnya. Bahkan menyukainya.
Aku memang menyukainya. Tapi, perasaan solidaritas tak bisa aku abaikan begitu saja.
Tidak, aku tak boleh egois.
Kalau memang Niko jodohku pasti akhirnya dia akan kembali padaku.
Untuk sekarang, kita ikuti saja alur ceritanya.
Biarkan waktu yang menjawab.
Dan disinilah aku sekarang, terdiam dengan pandangan kosong kedepan. Seperti orang bodoh.
Mengabaikan segala pertanyaan teman-temanku yang menanyakan kabarku, perihalku.
"Gue gak apa-apa!jawabku acuh.
Tentu saja, tidak dalam artian yang sebenarnya.
Dan setelah mendengar itu mereka segera mempercayainya.
Tidak berniat untuk bertanya lebih lanjut, atau memang mereka tak perduli.
Yah, kurasa mereka memang hanya sebatas penasaran saja. Tak lebih.
Tapi aku tak perduli.
Toh, aku juga senang jika tidak ditanyai lebih banyak.
Ahh, sungguh aku tak bermaksud untuk menyalahkan mereka yang tidak mau mengerti, aku hanya,
Aku hanya sedang marah pada dunia ini. Kenapa kisahku harus seperti ini?
Sekali lagi, biarkan waktu yang menjawab semuanya.
Hahhh!!
"Brooo! Nafar teriak-teriak didepan sana, membuatku yang sedang malaspun melihat kearahnya.
"Lo ngapain berdiri diatas meja? Mau jadi monumen kelas lo?cibir Jira
"Eheh, gue rela kok. Sekalin jadi monumen dihatimu! Kata Nafar mengeluarkan jurus andalannya.
"Najis lo!balas Jira
"Trus, maksud lo teriak-teriak gak jelas gitu biar apa?seru Ifana
"Gue mau cerita nih!jawab Nafar
"Gue dapat apa kalo dengerin?sarkas Jira
"Dapat salam dari Ayah-Ibu pulang sekolah jadi menantu! Gombal Nafar
"Asekkk!sorak yang lain dan tertawa lucu.
"Bucin lo!sinis Jira
"Biarin. Asal akuhh bucinnnya kamu!;
"Woii, ingat masih ada kami bro, dunia sesak gini jangan anggap milik berdua!gerutu Ichal
"Iyatuh. Dunia milik berdua, udah dihak patenkan Ichal-Acha!seru Olla
Hhhhhaha.
"Udah udah. Jadi gini, gue mau cerita. Ini penting gaess, pliss jangan kacangin akuuhh! Alay Nafar
"Najis!sorak Olla, Elina, juga Chika bersamaan.
"Jadi lo mau cerita apa? Kalo tentang lo bobol wifi tetangga gue gak mau dengar!tanggap Ichal
"Jangan nyebar aib sobatt!cemberutNafar
Ckckck.
"Jadi gini njirr. Nafar mulai bercerita. Dengan serius.
...kemarinkan gue kepasar minggu njirr. Terus disana gue ketemu mantan njirr. Nah, pas dibelakangnya ada anjing njirr. Jadilah gue teriak anjinggg. Trus refleks dia noleh njirr. Dia mikirnya gue manggil dia anjing, njirr. Habis itu dia dia balas teriak njirr, lo induknya, njirr! Udah tamat njirr!;
Ichal cuma cengak-cengok dengerin kisah Nafar.
"Njirr pen ngakak gue njirr. Kebanyakan anjirr lo njiirr!tawa Amad
LoL.
Hhhhhhhhh.
"Gue gak ngerti lo ngomong apaan dah!seru Acha
"Sama. Otak kosong mah gitu!cibir Jira
"Biarin otak gue kosong. Yang penting hatiku ada yang isi!rayu Nafar
"Eakkkss! Sorak Ichal
Gue terkekeh pelan melihat kegokilan mereka.
Sejenak, aku bisa melupakan masalahku. Aku masih bisa tertawa bersama mereka. Bercanda dengan mereka. Bermain dengan mereka.
Aku bersyukur, kelasku berisi oleh orang-orang yang homuris.
Harusnya begitu.
Niko, hanyalah sebuah permasalah kecil dimasa remajaku. Aku tak akan membiarkan dia mengambil alih keceriaanku lagi.
Mungkin hari ini, aku masih diliputi kesedihan karena cinta yang kuperjuangkan sejak dulu ini harus berakhir sia-sia.
Tapi aku yakin, ini tak akan lama.
Kuharap begitu.
Didalam semua pemikiranku yang melayang entah kenapa, tanpa sengaja pandanganku menangkap adegan dimana Niko mendekati Elina.
Arghhh.
Sabar Aurel.
Ini yang terbaik. Untuk semua orang.
Cinta monyet. Tak boleh semenyakitkan ini.
Jangan terlalu bersedih. Karena kamu masih 17 tahun.
-Who r u, School 2015.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sains One
Nonfiksi🤟TOGETHER WILL BE BETTER IF WITH FRIENDS 1 IPS CLASS❤🤟 🙂Kebersamaan itu Indah, guys👑 #pencarian jati diri. DALAM PROSES REVISI.
