XI IPS I.
Keadaan kelas yang tidak rapi sudah menjadi pemandangan setiap hari.
Lantai yang penuh oleh bercak-bercak lumpur ketika musim hujan, kaca jendela yang utuh tinggal 1/3, meja dan kursi yang penuh cakaran bahkan kebanyakan telah cacat, tembok yang telah dipenuhi oleh jejak-jejak sepatu orang yang tak bertanggung jawab serta coretan-coretan tak berguna yang merusak pemandangan.
Begitulah tepatnya yang bisa gue gambarkan mengenai keadaan kelas gue. Kelas yang oleh para guru dijuluki "kandang kambing" ini.
Belum lagi dibelakang kelas, terdapat banyak sampah-sampah yang dibuang disana.
Belakang kelas telah disulap layaknya tempat pembuangan sampah umum versi XI IPS I.
Tentu saja hal itu takkan dibenarkan oleh petugas kebersihan, masyarakat, para guru, maupun anak-anak kelas lain.
But, who's care?
Mereka bebas berpendapat, menghina, mengejek atau bahkan merendahkan. Itu sah dan bebas, karena kita hidup dinegara demokrasi.
Tapi, kami juga punya hak asasi.
Kami berhak melakukan apa yang kami mau. Ini pilihan kami. Ini hidup kami.
Masa bodoh itu melanggar aturan atau tidak, karena kami tidak mau dipersalahkan atas apapun.
Kami berhak bebas.
Sebagai catatan, kami belajar hal itu dari orang dewasa. Percayalah.
Kalau tak mau percaya juga tidak apa-apa. Kami takkan rugi.
Dan jangan protes.
Sebaiknya kalau mau protes, silahkan cari hal-hal lain yang lebih 'besar' dari sekedar hal sepele seperti ini.
Ada banyak hal-hal besar yang tentunya lebih pantas untuk dilaporkan kepada hukum.
Jangan buang-buang waktumu dengan percuma.
Freedom on free adalah apa yang diinginkan oleh setiap anak, khususnya anak remaja.
Siapa yang betah hidup dalam kekangan orang tua?
Siapa yang betah hidup dalam kukungan adat istiadat?
Siapa yang betah hidup dikelilingi oleh aturan?
Sejatinya, aturan itu dibuat untuk dilanggar (#Psycho).
Tidak ada yang betah hidup dipenjara. Tidak ada yang betah hidup tapi dikekang.
Sekali lagi, jika kau tak setuju, aku tak perduli.
Mungkin masa remajamu kurang menyenangkan.
Ok, back to topic.
Keadaan kelas yang kotor nan tak beraturan sedemikian rupa, tidak mengurangi sedikitpun keceriaan penghuninya.
Kami tetap bahagia.
Yang pacaran tetap pacaran.
Yang nobar tetap nobar.
Yang jaim tetap jaim.
Yang konser tetap konser.
Dan sebagainya.
Singkatnya, kami tidak merasa bahwa kelas harus rapi dan bersih untuk dapat tertawa dan bermain.
Kami apa adanya, mau kotor, mau tak rapi, mau bersih mau rapi, dimata kami sama saja.
Selama hati senang. Selama hati nyaman. Itu bukan masalah.
Lain cerita kalau waktu masuk mapel, dijamin, keadaan kelas bisa berubah 360°. Apalagi kalau yang mengajar guru Killer.
Dan seperti biasa, lagi-lagi jamkos disiang hari ini.
Jamkos dan selalu jamkos.
Dasar guru pemakan gaji buta.
Apa sebutannya?
Korupsivora?
Omnivora?
Entahlah.
Gue terlalu mager buat jalan keluar kelas dan gue juga terlanjur bosan mainin hp.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sains One
No Ficción🤟TOGETHER WILL BE BETTER IF WITH FRIENDS 1 IPS CLASS❤🤟 🙂Kebersamaan itu Indah, guys👑 #pencarian jati diri. DALAM PROSES REVISI.
