Ada yang bilang putus cinta adalah hal paling perih sedunia.
Ada yang bilang cinta tak terbalas itu jauh lebih menyakitkan dari apapun.
Ada juga yang bilang kalo digantungin selama berbulan-bulan itu rasanya lebih menyedihkan dari apapun.
Ada juga yang bilang kalo terjebak dalam friendzone itu rasanya jauh lebih pahit dari apapun.
Tapi terlepas dari itu semua, bagiku menjadi sasaran pembaperan tiap buaya dikelas lah yang paling miris dan memprihatinkan dari semuanya.
Dan sialnya, hati gue mudah banget buat dibikin baper.
Meyjira Arwinata pov.
Gue gak habis pikir, dari sekian banyak cewek dikelas ini, kenapa gue yang harus dijadiin sasaran kejahilan.
Kenapa gue yang mesti dibuat baper sampe ketahap berharap?
Perasaan gue biasa-biasa aja, gak seimut Acha, senyum gue gak semanis senyumnya Chika, bicara gue gak sehalus si Aurel, IQ juga gue jauh dibawah Olla.
Tapi kenapa gue yang harus jadi korban baper sana sini?
Apa karena gue selalu nampak jutek nan judes kalo udah ngomong?
Tapikan Sarla jauh lebih judes dari gue.
Apa mungkin karena hati gue yang lemah? Yang mudah goyah dan baper sama kelakuan dan perkataan manis dari makhluk bernama cowok itu?
Kupikir, argumen kedua lebih masuk akal.
Setidaknya itu yang gue pikirin.
Gue pernah coba nanya ke Aurel masalah ini. Karena emang Aurel adalah tempat curhat gue.
Gue selalu buka-bukaan sama dia. Tentang apa yang gue rasakan. Tentang apa yang gue suka dan gak suka. Apa yang gue pengen dan gak gue pengen. Apa yang gue benci dan apa yang enggak.
Gak ada rahasia-rahasian bagi gue kedia, tapi itu cuma gue.
Aurel gak.
Aurel itu pintar banget buat nutupin masalahnya, sok misterius gitu.
Itu yang bikin gue kadang suka kesal sama dia, yang gak mau membuka diri buat orang-orang mengenalinya lebih jauh.
Tapi gue kadang suka irih juga sih sama dia, yang bisa nutupin masalahnya sendiri. Gak kayak gue, disakitin dikit udah curhat-curhat gaje aja.
Dan kata Aurel mengenai hal ini, itu karena gue terlalu mengeksplor jati diri gue yang sebenarnya. Gue suka lepas kontrol nahan emosi, gue apa adanya.
Dan kata dia, itu yang buat para cowok nyaman dan demen buat gangguin gue. Mereka tertarik sama identitas gue yang sebenarnya.
Beda lagi sama Olla yang bilang, itu karena mereka emang suka aja ngejahilin gue. Udah hobi katanya.
Well, mereka benar.
Salahin hati gue yang lemah karena buatan lokal.
Tapi mengenai Rian, Nafar, atau Halik gue udah mulai gak terlalu ambil pusing sama ulah mereka.
Halik emang udah jarang nongol dikelas atau sekedar bertegur sapa sama gue secara langsung, tapi chattingan sama telponannya, dia paling gercep dan paling suka nge-gas.
Pernah dia nelpon gue malam-malam cuma buat nanyain tugas buat besok, kamprett dah!
Kalau Nafar sih gak ada yang berubah, baik itu dichat online maupun diduta (dunia nyata) dia masih sering gombal, dan itu udaj sangat basi tahu.
Dan Rian, dia B aja orangnya.
Gue tahu dia suka sama gue pas terakhir kali kita chattingan, habis itu lost contact.
Dan kalo kita disekolah, pura-pura cuek kayak orang asing.
KAMU SEDANG MEMBACA
Sains One
Non-Fiction🤟TOGETHER WILL BE BETTER IF WITH FRIENDS 1 IPS CLASS❤🤟 🙂Kebersamaan itu Indah, guys👑 #pencarian jati diri. DALAM PROSES REVISI.
