#66 -Sains One (End)

88 11 0
                                        


[Maafin gue karena kelamaan hiatus kemarin:)
Ini udah part ending ya guys. Semoga suka, dan semoga ceritanya berkesan dihati kalian semua^_-]

Sebelum, mulai baca ceritanya, gue saranin bacanya sambil dengerin lagunya One Ok Rock-Be The Light. Karena lagunya enak banget dan cocok sama part ini.


Aurel

Gue gak tahu harus mulai darimana,
karena gue gak ingat kisah ini bermula sejak kapan dan bagaimana tepatnya untuk menggambarkan semuanya.

Gue gak ingat, sejak kapan gue merasa punya ikatan yang begitu besar dengan warga kelas ini.
Gue gak ingat, sejak kapan kami semua mulai memprioritaskan solidaritas.

Gue gak ingat, tepatnya kapan kisah ini bermula. Semuanya berjalan gitu aja. Sesuai alur.

Kalau gue bukanlah salah satu dari penghuni kelas ini, mungkin gue gak bakal tahu kalau ada orang sekonyol Yuko, dan sekocak Amad.

Mungkin gue gak bakal tahu, kalau ada orang seajaib Ratno, sealay Rian, dan sependiam Chandra.

Berkat gue sekolah disini, gue bisa mengenal orang-orang seperti mereka. Yang cuma luarnya doang kelihatan galak, aslinya mah menyenangkan.

Gue jadi tahu, kalau orang yang konyol dan sechildish Nafar ternyata bisa marah juga.

Gue jadi tahu kalau kehidupan yang serba berkecukupan dan kelihatan baik-baik saja diluar, ternyata punya masalah yang rumit. Seperti Acha.

Gue jadi tahu ternyata orang sependiam Uty, diwaktu lain bisa cerewet juga.

Gue jadi tahu ternyata orang sejudes dan secuek Jira, diam-diam bisa nangis juga karena cinta.

Gue jadi tahu ternyata dibalik senyuman seorang Tifani, ada ribuan luka yang ia coba sembunyikan, dibalik kepasifannya dalam kelas.

Gue jadi tahu, ternyata didunia ini sifat itu gak hanya ada dua macam -baik buruk, tapi ada bermacam-macam.

Dari mereka, gue belajar untuk menjadi Aurel yang lebih terbuka.
Aurel yang bisa ngomong banyak kalau udah membahas apa yang dia suka. Aurel yang lebih ceria lagi.
Dari mereka gue belajar untuk sesekali keluar rumah, dan memperbanyak teman diluar sana.

Karena mereka adalah mereka.



Gue masih ingat hari itu, dijam-jam terakhir sebelum penerimaan rapor kenaikan kelas.
Ketika Olla mulai membuka bicara, "Guys, kalau misalkan penaikan kelas tahun ini ada sistem rolling, kalian bakal rela gak pisah sama kelas ini?"
Karena itulah Olla, yang selalu memulai topik disaat tak ada lagi hal untuk diceritakan.

"Gak rela lah. Masa giliran kita udah akrab banget kayak gini malah mau dipisahin. Gak adil namanya!"
Ifana. Dengan segala pendapatnya yang bisa diterima dan logis.

"Pasti gak bakalan lah. Guru-gurukan terlalu 'sibuk' buat ngurusin hal-hal semacam ini!"
Chika. Dengan segala sindiran halusnya.

"Gue juga yakin, pasti gak bakalan ada rolling-rollingan!"
Elina bersuara. Karena Elina adalah Elina, dia tidak akan menyetujui sesuatu yang ia belum yakin sepenuhnya.

"Betul itu!" Sorak Ichal.
Well, Ichal memang selalu seperti ini.

"Kan gue bilangnya 'misalkan' aja, Olla bersuara lagi.

"ya.. jangan diandai-andaikan lah!"
Rini. Dengan segala kalimat to the pointnya.

"Guys, gue, Sarla sama Maysa, ijin bolos ya. Lagian pengumumannya masih lama jugakan?" Asil berujar.
Trio cans, dengan segala kekompakan mereka.

"Bolos, bolos aja kali nyet. Gak usah minta ijin!" Rezky yang tumben-tumbenan nyahut.

Sementara Alif, Niko, Yusuf, Rifal, Chandra, Muhdin, Akil, dan sebagian besar cowok dikelas ini lagi asik ngegame dipojok kelas.

Sementara Mursalina, Mitha, Mely, dan cewek lainnya sedang asik ngerumpi dimeja yang berbeda.

Begitulah yang terjadi dua jam sebelum pengumuman kenaikan kelas diumumkan.


Dan hari ini, tepat pada pukul 13.00, waktu Indonesia bagian tengah, kelas ini telah resmi naik satu tingkat menjadi kelas dua belas.

Dengan siswa/i yang dinyatakan 100% naik kelas.
Tanpa pengumuman peringkat, tanpa pengumuman juara.

But, its okay. Setidaknya kami naik kelas. Setidaknya kami semua akan bersama-sama lagi dikelas yang baru.

Gue terlalu senang, dengan keterangan kami semua kompak naik kelas. Gue terlalu asyik ngobrol bareng Jira.

Sampe dijalan, gue keasyikan ngobrol bareng Elina, Olla, sama Chika karena emang rumah kita searah.

Sampai, Gue lupa keberadaan Niko.

Karena teman adalah teman.
Gue terlalu asik sama teman, hingga lupa sama dia.

Bukan lupa yang gimana-gimana.
Hanya sekedar lupa.

Untuk pertama kalinya, gue lupa kalau ada Niko.

Dan ketika gue tiba dirumah, dan mengecek hp, ada dua pesan masuk dari Niko.

"Juli nanti sekolah mulai aktif lagi, gue harap lo gak bakal pernah bosan ngeliat gue!"

Gue senyum.

Niko dengan segala kejutannya. Disaat gue gak berharap apapun, dia dengan sendirinya datangin gue.

Disaat gue lupa tentang dia, dia dengan cepatnya buat gue mengingat dia lagi ---lewat pesan. Dengan cara apapun yang dia suka.

Gue gak akan pernah bosan sama lo, Niko. Gue gak akan pernah bosan sama setiap cara yang lo lakuin buat gue.


Karena ketika kita suka sama seseorang, kita akan menyukai hal apapun yang dia lakukan.



Tangan gue gemetar, oke, gue lebay. Tapi tangan gue memang gemetar, apalagi ketika gue mulai membaca pesan Niko yang satu lagi.

"Gue harap, lo tetap bahagia seperti hari ini"

Sama, gue juga mau lo bahagia.
Gue juga mau, lo tetap ngirimin gue pesan-pesan kayak gini.

Karena gue merasa istimewa dengan itu. Karena gue beneran senang lo peduliin dengan cara sesederhana ini.

Gue harap, lo yang bahagia dan gue yang bahagia, suatu saat bisa menjadi kita yang bahagia.

Kalau boleh, "Kita bahagia."

Author note: TT~~TT Nangis dulu :(
Sains One, udah resmi tamat ya guys. Maafkan kalo ada kesalahan kata atau ada pihak yang merasa dirugikan.


Jangan lupa bahagia, guys🙂
Be the light❤

Sains OneTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang