4.

2.8K 395 30
                                        

Ciiiit

Tiba-tiba ayah mengerem mobilnya dengan mendadak. Seisi mobil terkejut.

"Ya ampun yah ada apa?" Tanya ibu dengan spontan kepada ayah yang hanya diam.

"A ayah menabrak sesuatu," ayah segera keluar mobil dan melihat apa yang ditabraknya.

Kami semua ikut keluar untuk melihat. Ternyata yang ditabrak ayah adalah seekor kucing berwarna putih dengan bulu yang tebal.

Aku mengambil kucing itu. Untung saja, kucing itu hanya luka ringan. Aku membawanya ke mobil. Diikuti ibu, kakak dan ayah.

Kami segera melanjutkan perjalanan. Sepertinya kami semua akan terlambat. Setelah beberapa waktu aku dan kakak sampai di depan sekolah. Kami turun dari mobil, sedangkan ibu tidak ikut karena dia harus membawa kucing berjenis anggora itu ke rumah sakit hewan terlebih dahulu.

Kami berdua berlari-lari kecil menuju lapangan upacara. Seketika kami terkejut. Yang kami lihat bukanlah barisan para siswa-siswi yang akan melaksanakan upacara. Tetapi yang kami lihat adalah kekacauan. Lapangan upacara sangat hancur. Lantai terkelupas, tiang bendera jatuh, api membakar pepohonan disekitar lapangan, dan masih banyak lagi kekacauan yang ada. Kami berdua hanya menganga, tak percaya atas keadaan yang terjadi.

"Kak kok bisa kaya gini ya?" Tanyaku dengan nada datar dan muka tanpa ekspresi. Aku masih tidak menyangka apa yang kini aku lihat.

"Kakak juga gak tau, tapi jika kakak perhatikan, kejadian ini bukan ulah manusia biasa." Bisik kakak kepadaku.

"Maksutnya?" Tanyaku ikut berbisik.

"Ini pasti ulah manusia yang memiliki kekuatan seperti kita." Ucap kakak berbisik lagi.

"Apa, ternyata di bumi ini tidak hanya kita saja yang memiliki kekuatan," mendengar perkataan kakak tadi aku sangat terkejut, aku semakin tak mengerti dengan dunia ini.

"Mungkin ini ulah dari utusan atau keluarga kerajaan sihir hitam yang mulai mengetahui keadaan kita." Ekspresi kakak berubah menjadi marah. Aku yang melihatnyapun ketakutan.

"Nak," ibu memanggil kami dan berlari menuju kami.

"Kalian gak papa, kenapa ini bisa terjadi?" Tanya ibu dengan nada khawatir.

"Aku gak tau bu, aku datang ke sekolah dengan keadaan sekolah yang sudah begini." Jawab kakak.

"Yaudah ibu mau tanya sama guru yang lain dulu. Tito kamu jaga adikmu baik-baik. Sepertinya ada sesuatu yang ganjil."

"Iya bu," aku dan kakak segera pergi menjauhi lapangan. Sedangkan ibu pergi untuk mencari dimana keberadaan guru yang lainnya.

"Kak ini benar-banar aneh. Bagaimana kalau kita lihat cctv nya."

"O iya kamu betul, yuk kita keruangan pak Tomi (Satpam di sekolah)." Kakak segera menarik tanganku, kami berlari-lari kecil menuju ruangan pak Tomi.

Sesampainya disana, ruangan pak Toni sudah sangat ramai. Semua guru ada disana termasuk ibu. Kami segera mengahampiri ibu.

"Bu apakah ibu sudah melihat cctv nya?" Tanya kakak dengan spontan mepada ibu.

"Ibu belum melihatnya, tetapi kata guru lain yang sudah melihat cctv, peristiwa ini terjadi karena sosok lelaki berjubah hitam. Dia mengeluarkan api dari tangannya dan mengarahkan api ke pohon. Dengan gertakan kakinya semua lantai mengelupas, semua jadi hancur. Kedengarannya laki-laki itu benar-benar kuat."

"Apakah dia dari dunia sihir?" Tanyaku yang sedari tadi diam.

"Mungkin saja, dan yang pasti orang itu bukanlah orang yang baik. Kejadian ini pasti memiliki maksut tertentu. Sebentar, ibu dipanggil guru lain, ibu pergi dulu." Ibu meninggalkan kami berdua.

"Kak coba kita kelapangan lagi, mungkin disana ada barang bukti yang dia tinggalkan,"

"Iya kamu benar,"

Kami kembali kelapangan upacara. Aku baru menyadari bahwa sedari tadi aku tak merasa lelah. Sedangkan keringat kakak bercucuran dengan derasnya.

Sesampainya disana, kami dihadang oleh polisi yang baru saja datang untuk menyelidiki kejadian. Kami tak diperbolehkan memasuki lapangan upacara. Kami tak bisa apa-apa. Kami hanya melihat dari pinggir lapangan saja.

"Komandan saya menemukan sesuatu," teriak salah satu polisi yang membuat orang yang ada di lapangan terkejut dan penasaran.

My Mysterious Magic (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang