Setelah membeli beberapa makanan aku memutuskan untuk pulang ke rumah Rara. Tak ku sangka ternyata matahari telah berganti bulan. Ketiadaan ponsel membuatku tak tau waktu.
Aku menunggu taxi lewat di jalan, aku sedikit risih karena keberadaan preman di sekitar ku. Aku berusaha memberanikan diri, aku yakin jika mereka ingin berbuat kasar pasti kekuatanku akan muncul.
"Lagi nunggu jemputan ya dek," salah satu dari mereka mulai mendekatiku. Aku sudah sering mendengar basa basi seorang preman yang akan mencuri. Aku mendekap makananku tak mempedulikan mereka.
"Neng tuli ya," satu lagi menghampiriku. Aku tak merespon, mereka mulai kesal. Mereka mencoba mengambil tas gendongku, pasti mereka kira aku menyimpan uang disana. Aku menyergah mereka, melepas tasku dan mendekapnya bersama makanan yang aku beli.
Kemarahan mereka memuncak, salah satu dari mereka mendorongku. Dekapanku terlepas, makananku berserakan, tasku juga terlepas. Aku langsung mengambil tas ku, di sana ada buku paket milik sekolah. Bisa rugi aku menggantinya.
Mereka menarik tasku, keadaanku masih terjatuh. Kesabaran mereka telah habis salah satu kepalan tangan mereka mendekat ke arah wajahku. Mataku terpejam, namun tak terjadi apa apa. Aku membuka mata, mereka berdua sudah tergeletak babak belur.
Aku menoleh ke samping kanan, Kara ada di sini mengulurkan tangan. Aku menerima ulurannya dan berdiri.
"Ayo kita pergi, aku sudah memberi waktu tiga hari untukmu. Kau sudah bersenang senang bukan. Sekarang saatnya kau ikut denganku." Wajah Kara terlihat berbeda, tak ada senyum seperti biasa. Firasatku tak baik, tapi aku tetap harus ikut dengannya.
Aku berjalan bersisihan dengannya menuju mobil hitam yang terparkir tidak jauh dariku. Firasatku benar banar tak enak, apa akan terjadi sesuatu nanti.
"Kar kamu sudah bilang Rara," aku membuka pembicaraan karena sedari tadi keadaan hening. Kara mengangguk, sepertinya dia sedang tak suka berbicara.
Aku melihat ke sekitar, jalan yang sama ketika aku bersama Kara pergi dari dunia sihir. Kami memasuki hutan berjalan kaki. Kara menggengham tanganku, sama seperti dulu pandanganku mulai hitam dan seketika aku berada di tempat lain. Bukan, bukan di jalan dekat rumah Kara, sekarang aku berada di kerajaan sihir hitam.
Sepertinya Kara benar banar akan membawaku ke ayahnya, aku menghela nafas kasar. Semua prajurit yang menjaga kawasan segera menunduk. Genggaman Kara semakin kuat, jalannya dipercepat. Kaki ku terseret seret, aku berusaha berjalan mensejajarinya.
Prajurit semakin banyak, aku di bawa ke dalam istana. Aku melihat wajah Kara, wajahnya pucat dengan ekspresi datar. Aku hanya bisa pasrah dan terus berjalan, hingga kami sampai di ruang tengah istana. Disana, semua keluargaku dan keluarga Arta berkumpul dengan tangan yang masih terikat, aku melihat Arka di sana dia masih hidup. Dan dia tersenyum padaku, di singgasana sudah ada seorang raja yang gagah. Pasti dia Raja dari kerajaan sihir hitam.
Ternyata Kara tak benar benar meminta maaf padaku. Ini hanya rencananya saja, pada akhirnya kekuatanku yang belum sempat kukenali akan di ambil.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mysterious Magic (Selesai)
FantasyJudul awal: Si Kutu Buku Hidupku berubah setelah menemukan buku itu... Buku yang mengantarkanku pergi dari dunia yang selama ini ku anggap hanya satu-satunya didunia. Petualangan dimulai. Banyak korban berjatuhan. Akankah aku bisa menyelesaikan mas...
