52.

826 72 8
                                        

"Jangan lupa nanti, aku tunggu di gerbang sekolah." Aku melambaikan tangan kepada Arka. Sudah satu minggu dia bersekolah di sini, dia cukup pandai dan dengan mudah memahami apa saja pelajaran di bumi, dia sangat jenius. Bahkan kini dia tengah sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti olympiade, otaknya sangat berbeda denganku.

Kami berpisah pada persimpangan lorong, lorong terlihat masih sepi. Aku berangkat terlalu pagi, aku tersenyum senyum sendiri mengingat kejadian dua minggu yang lalu. Kara menembakku, dan aku menerimanya. Tak salah aku mempertahankan cintaku pada laki laki itu.

"Senyum senyum aja," ucap Rara sambil menyenggolku.

"Tumben kamu dah berangkat," ucapku terheran heran.

"Biasalah," wajah Rara mendekat ditelingaku. "Mau ngapelin Arka," bisiknya lalu berlari menuju kelas Arta.

Aku hanya menggelengkan kepala melihat sahabatku yang sedang kasmaran. Aku harap Arka mau menerima Rara, tapi entahlah aku masih ingat jika Arka adalah laki laki yang penakut namun bisa mendadak menjadi pemberani. Dia juga pemalu apalagi jika bertemu dengan orang yang baru saja dia kenal.

Aku masuk ke kelas, hanya ada beberapa orang yang sedang melaksanakan piket, kami saling menyapa. Aku duduk dibangku dengan tangan menyangga dagu. Tentu saja mengingat Kara, aku sungguh menyayanginya.

"Kar," ucap Sari teman sekelasku sambil menepuk pundakku.

"Eh iya, ada apa?"

"Ada yang nyariin tuh,"

"Siapa?" Tanyaku lagi. Sari hanya mengangkat pundaknya tak tau.

Aku beranjak dari bangku dan pergi keluar, "Kara,"

Kara mengacak rambutku sambil tersenyum.

"Ada perlu apa?" Tanyaku.

"Kamu nanti mau pergi ke dunia sihir? Kok gak ngabarin,"

"Kamu tau dari mana? Arka ya," Kara mengangguk. "Kamu mau ikut," ajakku.

"Rumahku memang di sana Sekar," Kara mencubit pipiku gemas. Aku tersenyum malu. Murid mulai berdatangan, tak sedikit yang memperhatikan kami. Apa lagi Kara, orang asing yang masuk ke sekolah.

"Nanti aku antar," aku mengangguk.

"Hem," Rara datang bersama Arka. Aku dan Kara menoleh ke arahnya.

"Eh Kara, kamu ngapain ke sini?" Tanya Arka bingung.

"Ya mau ngapelin lah, kaya kamu gak tau aja," ucap Rara heboh yang membuat orang di sekeliling melihatnya.

"Ya udah aku pergi dulu," Kara melihat jam tangannya. "Nanti aku jemput, Arka kamu jaga Sekar," lanjutnya seraya berjalan pergi.

"Ka makasih udah anterin aku ke kelas, semangat belajarnya." Arka mengangguk.

"Idih alay banget, kamu ya yang minta Arka nganterin kamu," hardikku.

"Tau aja,"

Kami memasuki kelas, beberapa menit lagi bel akan berbunyi.







Pendek ya partnya.
Maaf, ini aja aku paksain biar tangan aku mau ngetik😁😁😁.
Terlalu banyak libur, makin mageran aku. Ada yang sama kagak, semoga kalin suka sama cerita aku. Tunggu part selanjutnya.

My Mysterious Magic (Selesai)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang