Kami naik ke atas naga di bawa ke kerajaan sihir hitam. Disana kami sudah di sambut oleh raja kerajaan sihir hitam yang tersenyum kecut.
Kami di bawa ke penjara bawah tanah. Pertama kali aku menginjakkan kaki di ruangan pejara itu, mata ku langsung tertuju pada sel berisikan empat orang. Ayah, ibu, kakak, dan bibi. Mereka masih hidup. Pasti semenjak aku pergi dari rumah Kara mereka dipenjarakan disini. Hatiku terenyuh melihat mereka. Air mata mengucur dari mataku. Dengan tangan di tali dibelakan aku dan Arka terus berjalan.
Beberapa langkah dari sel ayah. Aku melihat ratu dan Arta. Ternyata mereka juga disini. Dadaku semakin sesak. Karenaku mereka ikut menderita.
"Masuk" aku dan Arka di dorong ke dalam sel yang sangat pengap. Hingga aku terjatuh terperosok. Wajahku penuh dengan lecet. Sakit, namun hatiku lebih sakit.
Satu penjaga megunci sel dan menjaga sel kami. Satu persatu prajurit pergi sambil sesekali memukul sel tahanan membuat si penghuni sel terkejut.
Aku mencoba duduk, bangkit dari posisiku yang menyedihkan. Di bantu Arka yang tangannya juga masih terikat akhirnya aku bisa duduk. Wajahku sangat kotor bercampur dengan darah. Arka melihatku sedih, namun dia juga tidak dalam keadaan yang baik.
Kami duduk bersandar di tembok sel, berusaha agar tubuh tak terlalu lemah. 'Teng teng teng' suara itu membangunkanku dan Arka. Samar samar aku melihat seorang lelaki memukulkan tongkat besinya ke sel. Aku mengerjapkan mata agar bisa melihat dengan jelas. Kara, dia Kara.
"Lama tak berjumpa Sekar," Kara mendekatkan wajahnya ke sel.
"Masih ingat aku?"
"Kar tolong, lepasin kita. Kenapa kamu jadi begini?" Teriakku.
"Sssst jangan berisik, oh sekarang kamu sudah memiliki sekutu," Kara menatap Arka.
"Ada ya, orang yang mau mempertaruhkan nyawanya cuma buat perempuan kaya kamu,"
"Ada, karena dia tidak memilih milih seperti kamu," aku membuat Kara menjadi panas.
"Oh," Kara bertepuk tangan. "Kamu suka dia?"
Aku bingung, mau menjawab atau tidak.
"Iya," bentak Kara.
Aku hanya terdiam, bagaimanapun juga jika aku menjawab tidak akan membuat aku dan Arka akan bebas dari penjara.
Lenggang, Kara tak berbicara lagi. Ekspresinya berubah sedih. Entah apa yang dia pikirkan. Dia berjalan pergi meninggalkan aku dan Arka.
Aku memutuskan untuk beristirahat lagi. Aku harap akan ada keajaiban yang datang dan dapat menyelamatkan keluargaku dan keluarga Arka.
"Sekar," tangan Arka telah lepas dari ikatan.
"Bagaimana bisa," Arka mengangkat bahu. Kemudian membuka tali di tanganku.
Namun dengan membuka ikatan saja kami belum bisa kabur dari penjara ini. Namun setidaknya, tanganku tak terlalu pegal karena terus ditali di belakang. Aku bisa tidur lebih nyenyak dengan tangan yang bebas.
"Makasih," aku tersenyum tulus.
"Kar pipi kamu," Arka mengelus pelan.
"Au, pipiku teryata terluka,"
"Maaf,"
Aku menggeleng, "Bukan salah kamu,"
Arka tersenyum, lesung pipitnya telihat manis. Dia menggenggam tanganku, jantungku berdegup tak beraturan. Rasa apa ini, aku belum pernah merasakannya bahkan ketika bersama Kara.
"Aku akan menjagamu," Arka mengecup keningku, rasa rasanya jantungku ingin copot. Mengapa ini harus terjadi.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mysterious Magic (Selesai)
FantasyJudul awal: Si Kutu Buku Hidupku berubah setelah menemukan buku itu... Buku yang mengantarkanku pergi dari dunia yang selama ini ku anggap hanya satu-satunya didunia. Petualangan dimulai. Banyak korban berjatuhan. Akankah aku bisa menyelesaikan mas...
