Matahari mulai tenggelam, aku duduk termenung di kasur milik Rara. Besok aku akan pergi lagi bersama Kara, apa yang akan terjadi entahlah. Mungkin Kara akan membawaku ke dunia sihir. Tak apa jika aku akan di serahkan pada ayahnya. Aku lelah dengan masalah yang kian rumit. Aku ingin supaya masalah ini segera selesai. Entah nantinya aku hidup atau mati, setidaknya keluargaku selamat itupun jika raja sihir hitam mau menepati janjinya untuk melepaskan keluargaku.
Aku mulai membereskan baju bajuku, memasukkan ke tas seperti semula. Kebahagiaan dan kesedihan sudah ku alami selama dua hari terakhir. Dan aku harap pada akhir perjuangan memecahkan masalah aku bisa bahagia lagi.
Tanganku masih terasa sakit, membuatku semakin malas untuk melakukan sesuatu. Lebih baik aku beristirahat untuk mempersiapkan diri akan apa yang akan terjadi setelah aku pergi dari sini bersama Kara.
"Kar bangun, sudah pagi. Apa kamu tidak berangkat sekolah?"
"Tapi, nanti Kara akan menjemputku,"
"Tak apalah kamu ke sekolah dulu. Mungkin Kara mau menunggu,"
Aku mengangguk dan bersiap untuk pergi ke sekolah. Kami berangkat pagi pagi sekali, seperti kemarin. Rara tak ingin mulut mulut siswi disini menyakiti hatiku. Kami hanya berdiam diri di kelas yang sepi.
"Ra memangnya kamu mau pergi ke mana?"
Aku menaikkan pundak.
"Kamu gak tau? Kamu gak takut jika di bawa ke tempat yang tak kamu ketahui. Kamu gak takut jika,"
Aku memotong ucapan Rara." Ra, Kara gak akan membawaku ke tempat yang belum aku ketahui. Aku percaya padanya,"
"Siapa Kara?" Kak Rio datang mengejutkan kami berdua. Aku salah tingkah, bingung mau menjawab apa.
"Pacar Sekar," ucap Rara spontan tanpa memikirkanku.
"Bukankah Sekar tidak punya pacar?" Kak Rio mendekat dan duduk di bangku sebelah.
"Kan masih sayang," aku melotot pada Rara. Dan beralih memberikan senyum terpaksa kepada kak Rio.
"Sebaiknya kakak jangan di sini, takut jika ada masalah lagi,"
"Ok, maaf jika kehadiran kakak membuat masalah di kehidupanmu. Maafin kakak ya Kar." Kak Rio beranjak dari tempat duduk.
Aku jadi tak enak, bukan itu yang aku maksud. Aku mencoba mengejar supaya tidak terjadi kesalah pahaman. Namun tak jauh dariku Ayu berjalan menuju kelas. Aku segera memutar arah kembali ke bangku. Pasti jika aku bicara dengan kak Rio, Ayu akan cemburu. Dan itu hanya menimbulkan masalah saja.
"Eh cupu, dah dateng. Kenapa gak deketin kak Rio lagi. Sekalian pacarin tuh cowok. Gue dah putus kok sama dia,"
"Enggak Yu, kami cuman temenan aja. Lagi pula kak Riokan temenan sama kakak aku. Jadi cuma kaya adik sama kakak aja. Kamu jangan putus ya, aku jadi merasa bersalah."
"Lupain aja lah,"
Ayu terlihat berbeda dari kemarin. Dia terlihat lebih tenang dan sabar, apa yang terjadi dengannya? Apa karena terbentur tembok dia jadi baik? Tidak, kemarin dia sudah membuatku malu di kantin. Mana mungkin dia menjadi baik.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Mysterious Magic (Selesai)
FantasyJudul awal: Si Kutu Buku Hidupku berubah setelah menemukan buku itu... Buku yang mengantarkanku pergi dari dunia yang selama ini ku anggap hanya satu-satunya didunia. Petualangan dimulai. Banyak korban berjatuhan. Akankah aku bisa menyelesaikan mas...
