Part ini ditulis oleh Nayzaashfa
Setelah keburukan, kehancuran aku yakin setelahnya akan ada secercah kebahagiaan.
°°°°°
07 september, 02.15 am
Setelah sampai di rumah nenek, jenazah papa di baringkan di ruang keluarga yang lumayan besar. Yoshiko berbaring di samping jenazah papanya menggenggam tangan dingin papanya.
Mama Yoshiko beristirahat di kamar tamu, sedangkan neneknya membereskan rumah. Karena jenazah papa akan di kebumikan pagi hari.
Yoshiko memandang wajah pucat papanya. Menggenggam erat tangan papa nya.
Pa, apa dengan cara seperti ini papa bahagia? Apa dengan cara meninggalkan kami papa tidak lagi merasakan sakit? Kalau iya aku akan berusaha mengikhlaskan papa. Sungguh papa lebih dari segalanya untukku. Bahkan aku mencintai keluarga kita lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Papa adalah jiwaku, nyawaku. Dengan papa pergi maka aku kehilangan separuh jiwaku. Dengan papa pergi, aku kehilangan tawaku. Karena papa adalah sumber kebahagiaan dan tawaku. Rest in place dad, my love, my life. I love you more.
Yoshiko membuka matanya. Ia baru sadar kalau ia dari tadi menangis. Yoshiko bangun dan mengambil wudhu dan shalat tahajud. Setelah itu ia mengaji di dekat papanya.
----
05.30 am di hari yang sama
Rumah duka mulai ramai. Ada yang mengurus konsumsi, persiapan pemakaman dan lain lain. Sementara Yoshiko hanya diam di luar menyambut tamu dengan kondisi yang mengerikan. Bayangkan saja hidung merah, kulit yang makin pucat, bibir pucat dan yang paling mengerikan matanya memerah serta kantung mata yang membengkak. Udah sipit makin sipit aja gitu.
Yoshiko menyambut tamu dengan senyum hambar. Setelah itu ia bersiap untuk shalat jenazah.
Setelahnya Yoshiko ganti baju untuk mengantar papa ke peristirahatan terakhirnya.
Jenazah papa akan di kebumikan. Keluarga serta tetangga dan kerabat dekat sudah sampai di TPU.
Pemakaman di mulai Yoshiko berada di tengah tengah neneknya dan mamanya.
"PAPAAAA! HUAAA! PAPA GA MUNGKIN SECEPAT INI NINGGALIN MAMA KAN? PAPA BANGUN PA. KO KALIAN MAU NGUBUR SUAMI SAYA YANG MASIH HIDUP!!!" Jerit mama menunjuk papa dan tetangga yang membantu.
Mama Yoshiko semakin histeris. Setelahnya mama yoshiko pingsan.
"Astaghfirullah! Ayo bantu gotong ke mobil" kata ibu ibu yang berada di samping mama Yoshiko.
Situasi malah semakin ricuh dengan kejadian mamanya pingsan. Neneknya masih menangis tapi tak se kejer sebelumnya.
Yoshiko bersimpuh saat jenazah papanya di turunkan dari keranda. Yoshiko menangis, lagi. Yoshiko mencengkeram erat tanah merah itu. Tangan neneknya merangkul pundak Yoshiko agar menguatkan. Banyak juga tetangga serta kerabat keluarganya yang menenangkan Yoshiko.
"Yang sabar ya, neng"
"Jangan nangis terus neng, harus ikhlas"
"Iya ntar kasian papanya neng,"
"Shiko.." panggil neneknya lirih
Yoshiko tetap duduk bersimpuh tak perduli bajunya kotor karena tanah.
"Shiko... bangun nak" neneknya berusaha mengangkat tubuh Yoshiko
Akhirnya Yoshiko berdiri dengan kaki lemas hampir tak bertenaga. Setelah pemakaman selesai semua orang pergi meninggalkan makam papa tinggal Yoshiko dan neneknya. Ibunya masih belum sadar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lose You (END)
Teen FictionBased on true story. Hidupku tak se enak dan semudah yang kalian bayangkan. Mungkin kalian selalu melihat aku bahagia, tertawa ceria, memamerkan pacarku. Kalian selalu berkata "Enak ya hidup nya kayak di cerita novel" Salah. Akupun punya sisi lemah...
