30. Realita

14 2 0
                                        

Kamu tau kenapa aku masih disini dengan harap yang sama? Karena aku yakin, suatu saat kamu akan kembali.

◎◎◎

Part ini ditulis oleh Nayzaashfa

"Kemana aja lo?" Tanya Nathan

"A-ah itu abis jalan aja,"

Nathan merebahkan tubuhnya di sofa diikuti Yoshiko yang menyandarkan kepalanya ke dinding.
"Kenapa?"

"Ngga, besok lo mau ada urusan apa?"

"Kita gak mungkin kan tinggal di sini, gue mau cari tempat tinggal di sekitaran sini dan kalo lo setuju gue juga akan cari sekolah yang bisa homeschooling. Gimana?"

Yoshiko tampak berpikir, "Kalo tempat tinggal sih gue setuju aja. Kalo buat sekolah jujur gue belum kepikiran. Tar siapa yang jaga mama?"

Nathan tampak menganggukkan kepalanya, paham.
"Oke, besok gue mulai cari tempat tinggal"

Yoshiko memeluk Nathan singkat, "thanks"

Tangan Chiyo bergerak,

Yoshiko langsung menghampiri Chiyo yang tengah berusaha mengerjapkan matanya, sementara itu Nathan memencet tombol untuk memanggil dokter.

"Excuse me!" kata dokter perempuan berusia sekitar 30 tahunan.

Sontak Yoshiko pun memundurkan diri. 

(Mereka berbicara menggunakan bahasa jepang)

"Ayyo kita pindahkan ke ICU!!"

Dokter beserta suster itu memindahkan brankar Chiyo.

"Adik tunggu disini, sebentar" 

Yoshiko menatap brankar mamanya yang semakin menjauh, bahunya melorot seketika. Dengan setia Nathan merangkulnya.

"Be a strong girl!!" 

________________

"Mama saya baik baik saja kan, Dok?"

Dokter tampak menarik napas kuat dan menghembuskannya kasar.

"Mama mu harus ditangani dari sekarang, kami akan berusaha menghambat pertumbuhan sel kanker di otaknya. Kami akan melakukan banyak cara, termasuk kemoterapi. Tapi itu belum tentu berhasil..." dokter itu menggantungkan ucapannya.

"Apa maksudnya belum tentu berhasil?!"

"Kemoterapi juga akan menimbulkan banyak efek negatif pada pasien. Entah itu rambutnya rontok atau gejala lainnya. Sebenarnya, kami bisa saja mengangkat sel kanker itu dengan operasi, tapi jika operasinya berhasil mama mu akan kehilangan ingatannya. Dan jika gagal-- kita semua akan kehilangan beliau"

Sontak air mata Yoshiko jatuh seketika.

"Kami akan berusaha sebaik mungkin. Jika kanker nya sudah memasuki stadium akhir, kami terpaksa mengoperasinya. Saya tau adik pasti sedih, bingung, tapi sekarang lebih baik adik berdoa untuk mama nya ya. Jangan menangis"

Lalu dokter itu berlalu setelah mengucapkan permisi.

Yoshiko masih terdiam mencerna semuanya. Nathan sesak melihat Yoshiko nya lemah seperti ini. Nathan menenggelamkan kepala Yoshiko pada dada bidangnya.
"Lo kuat, lo harus kuat! Kita bisa laluin semuanya. Trust me, Everything will be fine okay?"

Yoshiko tampak menangis tanpa suara.

○○○

"Gue berangkat dulu ya, maaf ga bisa bantu jagain nyokap lo."

Lose You (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang