Hye In Has a Broken Leg

1.1K 131 15
                                        

Hye In POV.

Satu minggu berlalu namun aku masih berada di rumah sakit. Pasca kecelakaan yang ku alami waktu itu, keadaan semakin buruk. Pertama, aku sempat koma 3 hari karena kejadian itu. Kedua, kakiku patah dan butuh waktu lama untuk pulih. Ketiga, sejak hari pertama aku dirawat Hoseok belum menjenguk sampai sekarang.

Yeah, impas!

Dulu saat dia menjalani transplantasi kornea, aku sama sekali tidak mendatanginya. Jangankan datang, mengetahui dia demikian saja tidak. Aku memang kejam. Terlalu asyik berselingkuh membuatku lupa akan segalanya.

Tok! Tok!

Cklek!

"Hye In-ah, na wasseo," ucap ibu menghampiriku, "Bagaimana keadaanmu? Apa semakin membaik?"

Aku mengangguk, "Gwaenchanha."

"Oh iya, ada yang ingin bertemu denganmu."

"Sungguh?! Siapa?! Di mana dia?!" tanyaku mendadak antusias, kuharap itu Hoseok.

Tak lama muncul seorang pria dari balik gorden. Aku menatap dia yang tengah membawa sebuket bunga aster putih dan parsel buah.

Seokjin?

"Baiklah, Eomma akan meninggalkan kalian berdua."

Setelah ibu pergi seketika keadaan menjadi hening. Menyadari yang datang bukan Hoseok aku enggan buka suara. Berkatnya, aku berhasil melakukan sesuatu yang bodoh dan berujung pada penyesalan.

Beberapa detik kemudian Seokjin melangkah mendekatiku, "Chagi-ya, aku membawa buah-buahan untukmu."

Aku lantas memalingkan wajah ke arah jendela.

"Kau tahu? Aku sangat khawatir saat kau dikabarkan mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit."

Aku menghela nafas.

"Chagi-ya, aku juga membawa bunga aster. Kau tahu'kan bunga ini memiliki pesan untuk orang yang sedang sakit agar selalu bersabar dan tak patah semangat karena sedang ditimpa sakit? Terimalah."

Hening.

"Oh, atau mungkin kau ingin makan buah-buahan?"

Aku menghela nafas untuk kedua kalinya.

"Chagi-ya ... apa kau marah karena aku baru datang? Baiklah, aku minta maaf, jadwalku sangat padat belakangan ini."

"Astaga... Kenapa cerewet sekali, sih?" gumamku pelan.

"Chagi-ya, apa kau tidak suka aku ada di sini, huh? Kenapa kau sedari tadi tidak menjawab? Baik jika itu mau mu, mungkin kau masih butuh istirahat dan tidak ingin diganggu. Kalau begitu aku pergi."

Sebelum enyah, dia menyempatkan diri dahulu mengecup keningku. Sungguh pria brengsek.

💝💝💝

Keesokan harinya aku berniat pergi ke halaman belakang rumah sakit guna mencoba berjalan agar kakiku dapat segera pulih. Tiba di sana aku lantas bangkit dari kursi roda dibantu oleh dua perawat yang menemaniku.

"Baiklah, kau boleh pergi," kataku padanya.

"Huh?" sahut salah satunya.

"Jangan khawatir. Aku di sini tidak sendirian. Banyak pasien dan para penjenguk yang akan menolongku jika terjadi sesuatu. Pergilah."

"Ne, algettseumnida," balas keduanya menunduk sejenak dan pergi sembari mendorong kursi roda.

Hoseok POV.

"Eoh? Yeogi eobseo. Ke mana dia? Tidak mungkin sudah pulang karena barang-barangnya masih ada," ujarku begitu masuk ke kamar Hye In. (Tidak ada di sini)

Aku pun turun ke lantai satu menggunakan lift lalu berlari menuju lobi dan bertanya keberadaan Hye In.

"Mwo? Di taman?" kataku mengulang jawaban dari resepsionis.
.

.

.

Langkahku terhenti, benar, itu dia. Tampaknya tak ada seorang pun di sekitarnya. Apa dia datang ke sini sendirian? Sungguh? Hebat sekali. Dasar gadis nekat.

Yang dia lakukan di sana hanyalah berusaha berjalan menggunakan sepasang alat penyangga kaki. Rasanya pasti sulit ketika baru pertama kali memakai alat bantu seperti yang pernah kualami. Kini aku malah merasa sedang memandang diriku yang dulu. Semua hal kulakukan seorang diri saat Hye In sibuk bekerja, entah itu belajar menghafal arah jalan di sekitaran rumah ataupun tempat-tempat tertentu, mengenali aneka macam aroma tanpa bisa tahu asalnya dari mana dan sebagainya. Cukup menyenangkan sekaligus menantang bagiku. Huh, pengalaman yang mengesankan.

"Eomma!"

"Astaga!" ucapku terkejut melihat dagunya menghantam tanah.

Aku bergegas berlari membantunya berdiri lalu ku tuntun dia duduk di bangku taman. Tak lama datang seorang wanita paruh baya sembari membawa alat bantu milik Hye In. Aku pun berterima kasih padanya. Saatnya untuk memastikan bahwa gadis di sampingku baik-baik saja.

"Gwaenchanha?" tanyaku sangat khawatir.

Dia menatapku, "Hoseok-ah...," lirihnya menahan tangis.

"Ne, naega yeogiseo." (Ya, aku di sini)

"Neomu bogosipeo," ucapnya langsung memelukku erat disertai isak tangis.

💝💝💝

Selagi perawat masih mengobati luka pada dagu Hye In, aku segera memotong buah apel menjadi beberapa bagian agar Hye In mudah memakannya.

"Sudah selesai ku obati. Lain kali hati-hati ya, Nona," ujar perawat itu sambil mengelus rambut gadis di hadapanku, "Baiklah, aku harus pergi."

"Ne, gamsahamnida," balasku padanya.

"Yak! Awh! Daguku...."

"Ck, rasakan itu. Sudah tahu dagumu sedang luka, bicaralah pelan-pelan."

"Arraseo," balasnya cemberut, "Omong-omong kenapa kau baru datang setelah dua minggu berlalu?"

"Aku sibuk."

Sibuk mendo'akanmu agar cepat terbangun dari koma dan tidak terbaring terus di ranjang.

Yeah, perlu diketahui bahwa selama Hye In masih dalam keadaan darurat aku selalu duduk di sampingnya sambil menggenggam tangannya. Menemani dirinya sampai keluar dari ruang ICU.

"Sibuk membantu Hyun Hee bekerja, ya?"

"Buka mulutmu," kataku sembari menyodorkan sepotong apel, dia melahapnya. Syukurlah aku dapat mengalihkan pembicaraannya dengan cepat sebelum kehabisan kata-kata.

Sejak Hye In ketahuan selingkuh status kami mendadak tidak jelas hingga sering terjadinya rasa canggung. Aku tidak tahu apakah hubungan dia dengan Seokjin sudah berakhir atau belum, tapi kuharap sudah karena aku masih sangat mencintainya.

Hye In-ah, apa kau bersedia membangun kembali cinta kita?

To Be Continue. . .

My Boyfriend is Blind ManCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang