Hyun Hee POV.
Kutatap diriku sendiri di cermin sebelum mulai menggosok gigi.
.
.
"Aku pun mulai menjadi anak berandal begitu naik kelas. Jarang mengerjakan pekerjaan rumah, tugas sekolah kuabaikan, sering datang terlambat, lebih banyak tertidur di kelas, menghabiskan waktu bermain game bersama teman-teman sepulang sekolah, sering dihukum karena sengaja tidak membawa pelajaran. Semua itu kulakukan dengan tujuan agar Appa lebih memperhatikanku.
"Tapi kenyataannya dia malah melampiaskan kemarahannya. Sial. Eomma hanya bisa menangis waktu itu, sedangkan Hoseok terus mencoba menghentikan Appa yang tanpa henti menyabetku menggunakan ikat pinggang."
.
.
"Astaga … kenapa ucapan Seokjin jadi terngiang-ngiang dalam otakku, huh?! Aish! Dasar bodoh!" kataku sembari memukul kepala berkali-kali.
.
.
"Walaupun tubuh sudah dipenuhi luka memar, aku belum juga merasakan efek jera atas tindakanku tersebut. Aku terus mengulanginya lagi sampai Appa berhasil membuat darah segar keluar dari dalam kulitku malam itu.
"Eomma lantas memelukku guna menghentikan aksinya sementara Hoseok sudah menangis di ambang pintu. Lalu Appa berbalik badan. Kau tahu apa yang aku katakan ketika dia hendak pergi?
"'Hei, brengsek!' ucapan itu yang kulontarkan padanya, haha. Dan tentu saja Appa kembali menghampiriku hendak melampiaskan kemarahannya namun terhalangi oleh Eomma."
"Ck, dasar bodoh. Di mana akal sehatmu, huh? Menyebut Appa sendiri 'berengsek'," gumamku dalam keadaan mulut di penuhi busa pasta gigi. Aku langsung menggosok gigiku secara kasar karena kesal atas apa yang Seokjin ceritakan kemarin.
.
.
.
Sembari berdiri depan cermin kututup kancing seragam kerja lalu menyisir rambut. Lagi-lagi ingatan bodoh kembali muncul.
.
.
"Esoknya dalam keadaan tubuh masih dipenuhi luka keluargaku memutuskan untuk tinggal di Jepang. Tujuan sih, ingin menyekolahkan ku di sana agar menjadi anak yang lebih baik. Tapi bagiku itu sia-sia. Karena pergaulan di sana lebih bebas ketimbang di sini. Benar'kan?
"Lima tahun kemudian keluargaku mendapat kabar kalau tuan Jung meninggal dunia. Appa yang mendengar kabar tersebut langsung mengambil jadwal cuti untuk berangkat menuju kediamannya meninggalkanku bersama Eomma di Jepang.
"Meninggalnya Tuan Jung di sebabkan oleh penyakit jantung akibat terlalu sering mengonsumsi minuman beralkohol setiap kali dilanda stress. Sungguh pola hidup yang buruk."
.
.
Aku menghela nafas, "Hidup Hoseok benar-benar sulit. Kalau aku jadi dia mungkin sudah memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidup. Tidak ada yang bisa tahan dengan kondisi seperti itu."
.
.
"Oh ya, aku juga mau menceritakan tentang bagaimana aku bisa ada di dalam penjara ini. Kau pasti sudah tahu mengenai kecelakaan Hoseok, tapi aku akan menceritakan dalam sudut pandanganku sendiri.
"Malam itu hujan deras, aku bersama kekasihku tengah dalam perjalanan menuju hotel setelah bersenang-senang di salah satu club. Akibat kesadarannya hilang alias mabuk, gadis disebelahku ini mulai usil. Dia terus menerus menggelitiki pinggangku sehingga konsentrasiku agak terganggu.
"Akibat cukup lama terlepas dari jalan raya yang sepi, tanpa disadari muncul kendaraan bermotor tepat di hadapan kami. Dengan sigap aku lantas menginjak pedal rem.
KAMU SEDANG MEMBACA
My Boyfriend is Blind Man
Roman d'amour[✔] Jung Hoseok, kekasihku, dia jauh berbeda dari pria lain. Dia istimewa, hanya ada beberapa saja yang seperti dirinya bahkan dapat dihitung jumlah populasinya. Meski dia memiliki kekurangan, aku pun tetap mencintai dan menerima dia apa adanya, sek...
