Diam. Apa sih yang pertama kali terpikir setelah mendengar kata itu? Suasana? Hening? Atau mungkin orang yang pendiam?
Ini sebuah kisah tentang sang introvert yang berusaha keluar dari zona nyamannya.
Mohon dukungannya^^
High Rank [22-11-18]
#1 band...
Dania dan Jajang tiba di depan rumah. Jajang langsung pulang karena hari sudah larut malam.
"Maaf gak bisa pamit ke tante."
"Iya gapapa Jang. Kamu hati-hati ya."
"Iya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Jajang pergi. Dania masuk dan mendapati Erfan sedang menunggunya di ruang tamu.
"Dari mana?" tanya Erfan seperti sedang mengintrogasi
"Em kok kamu disini?"
"Aku tanya kamu dari mana?"
"Kamu sejak kapan disini?"
"Kamu dari mana Daniaaa?!" nadanya marah. Benar-benar marah.
"Aku abis nonton sama temen."
"Cowok kan?"
"Nggak. Cewek kok."
"Namanya Jajang."
"Eng... Tadi kamu bukannya pulang?"
"Jawab gue Dania!"
Dania diam. Ia tak menyangka Erfan akan semarah itu.
"Iya temenku cowok. Namanya Jajang. Dia temen SMP ku."
"Kenapa tadi bohong?"
"Aku takut kamu marah."
"Aku mending denger omongan jujur yang menyakitkan daripada kebohongan yang bikin aku bahagia."
"Maaf." Dania menunduk
Erfan menghela napas lalu terdiam.
"Aku juga gak suka...." omongan itu terpotong.
"Aku tau kamu liat aku pelukan sama Lilis tadi."
Deg. Mata Dania berbinar.
"Maaf. Tapi itu terakhir kalinya karena Lilis mau pindah keluar negeri."
"Terus maksud kamu kalo dia gak pindah kamu akan terus deket dan pelukan gitu sama Lilis?"
"Dengerin aku dulu Dan. Maksudku itu terakhir kalinya dia datang dikehidupanku. Setelah kejadian ulang tahun itu dia sadar dan akhirnya memutuskan untuk menjauh dari kita."
"Kamu tau sendiri kan dia ada hubungannya sama keluargaku. Dia gak mau aku berlarut dalam kebencian itu." lanjutnya
"Kamu ngerti kan?"
"Iya."
"Aku juga gak suka kamu deket terus sama Jajang. Meskipun dia temen SMP, setidaknya hargai aku yang saat ini sama kamu. Jagain kamu."
Tringgg...
Panggilan masuk ke hp nya Erfan. Ia merogoh sakunya dan menjawab panggilan itu.
"Iya aku kesana sekarang." kalimat terakhir yang terlontar dari mulut Erfan.
"Siapa?" tanya Dania penasaran.
"Ibu. Dia suruh aku pulang buat nemenin Aril."
Dania meneliti. Foto kontak itu tak nampak seperti ibunya. Melainkan wanita muda yang entah siapa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Dia bohong!" -kata Dania dalam hati
"Yaudah aku pergi dulu ya. Kamu mandi terus tidur. Kalo lapar makan. Tolong pamitin juga sama bu Desi. Aku buru-buru. Dahh." Erfan mencium keningnya dan terbirit keluar.
"Aku gak ngerti lagi harus gimana. Satu masalah selesai datang masalah lain lagi. Mati satu tumbuh seribu memang." Dania mengeluh.
***
Satu bulan menuju Ujian Nasional. Jadwal pemadatan sudah mulai menumpuk. Tugas dan contoh soal bagai jagung yang meletup. Lelah sekali rasanya.
Dania berjalan mencari angkot. Citra sudah pulang duluan. Sore ini cuacanya panas.
Ia memperhatikan sekitar. Lelaki itu seperti Erfan. Atau memang benar Erfan?
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Iya itu Erfan! Ia bawa mobil Reynand lagi. Tapi sedang apa dia disana? Jemput Dania atau bagaimana? Tapi kok gak kasih kabar dulu kalo mau jemput.
Beberapa langkah lagi untuk Dania sampai ke tempat pacarnya itu berada, namun wanita itu telah lebih dulu menghampirinya. Ya wanita muda yang kemarinn!!
Cewek itu lantas memeluknya dengan sangat erat. Erfan terlihat bahagia.
Mereka mengobrol sebentar lalu naik ke dalam mobil dan pergi entah kemana.