Reynand menunggu seseorang didepan pagar. Ekspresinya sangat cemberut. Tak lama sebuah motor pun berhenti dihadapannya.
Pengendara itu membuka helm dan turun.
"Lo nungguin gue? Tumben banget."
"Ada yang harus gue omongin."
"Yo ngomong aja." kata Erfan sebari mengangguk.
"Lo tau hari ini Dania pingsan di sekolahnya?"
"Dania pingsan?"
"Udah gue duga."
"Loh kenapa Rey? Dania kenapa kok pingsan?"
"Lo masih pacaran gak sih sama dia?"
Deg.
"Kok nanya gitu?"
"Ya aneh aja gitu. Pacar lagi kesusahan aja lo gatau."
Erfan diam sebentar lalu memberanikan diri untuk jujur.
"Ya kita emang udah putus sih."
Reynand tak bisa menyembunyikan wajah kekecewaannya.
"Kok bisa? Lo kan yang nyakitin dia terus?"
Erfan diam. Reynand terus saja menelitinya. Seperti sedang menggali jawaban.
"Cewek sebaik dan secantik dia lo sakitin? Goblok!" Reynand marah. Entah karena apa dia bisa sampai semarah itu. Sepertinya ia juga sudah mendapat jawaban dari sikap yang ditunjukan Erfan sendiri.
"Kenapa huh? Kenapa?"
"Gue keciduk main sama cewek lain. Yaudah gue juga bilang pernah main ranjang sama dia."
Reynand melayangkan kepalannya pada pipi Erfan. Keras sekali.
"Woy." Erfan mengusap pipinya. Pukulan itu terkena hidung sampai bercucuran darah.
"Bego sih. Bego, goblok lo." Reynand hendak memukulnya lagi namun teriakan Ibu Erfan menghentikannya. Ibunya melerai dan memisahkan mereka berdua.
Hari semakin sore. Menjelang magrib.
Dania keluar dari kamarnya dan mengambil minum air hangat di dapur.
"Dania." kata Bu Desi memanggil dari ruang tamu. Dania menghampiri. Ada Mamah dan juga Papah tirinya disana.
"Sini duduk." lanjut beliau.
Plakkk..
Seketika tamparan itu mendarat dipipinya.
"Kamu kenapa sih pake acara pingsan segala? Kalo gak setuju ya bilang aja jangan malu-maluin kayak gini. Mamah malu tau sampe diomongin temen sama orang sekampung gara-gara ulah kamu." ketus Mamah.
Dania menunduk. Memikirkan apakah ini nyata atau masih dalam mimpinya yang disebut pingsan itu?
Ia mengusap pipinya dan tanpa sadar air matanya terjatuh.
"Udah sayang kasian dia." kata Om Kiki ikut campur
"Malu kita sayang. Punya anak gini amat. Gak ada sopan santunnya sama orang tua. Gak pernah diajarin menghargai orang apa di sekolah?" bentaknya lagi
Dania masih menunduk. Ia tak kuasa menahan derasnya air mata yang terjun dari pelupuknya.
Disisi lain Kak Tya yang baru saja pulang dinner dengan calon suaminya berdiri di depan pintu. Menyaksikan itu semua.
"Kamu langsung pulang ya. Udah malem juga." kata Kak Tya pada Indra yang berdiri dibelakangnya.
Indra mengangguk dan pulang dengan mobil hitamnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Diam [COMPLETED]
RomanceDiam. Apa sih yang pertama kali terpikir setelah mendengar kata itu? Suasana? Hening? Atau mungkin orang yang pendiam? Ini sebuah kisah tentang sang introvert yang berusaha keluar dari zona nyamannya. Mohon dukungannya^^ High Rank [22-11-18] #1 band...
![Diam [COMPLETED]](https://img.wattpad.com/cover/158508072-64-k333306.jpg)