Bab 12 : Remorse

10.8K 1.5K 155
                                        

Taeyong menggigiti jarinya resah, sedari tadi yang dilakukannya hanyalah mondar-mandir ke lantai bawah lalu kembali lagi ke lantai atas. Binar mata yang biasanya berpendar menggemaskan itu kini terlihat redup menyayu, ekspresi khawatir tak luput dari wajah yang kini membengkak karena tidak tidur.

Beberapa kali ia mencoba untuk mengatur nafas, hal kecil yang ia kira setidaknya mampu menghilangkan kecemasan yang menggelayuti perasaan sejak semalam. Handphone di genggamannya masih tetap sama tidak memunculkan tanda-tanda.

Bagaimana ini?

Apa yang terjadi pada suaminya hingga Jaehyun tidak pulang ke rumah semalaman?

Apa hal buruk kini tengah menimpa suaminya? Apa Jaehyun mengalami kesulitan dan dia tidak tau?

Taeyong mendesah putus asa, pikiran dan hatinya tidak tenang sama sekali, kejadian seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, Jaehyun selalu mengabarinya dimana pun pria itu berada.

"Nyonya, anda harus mengisi perut anda terlebih dahulu, dari kemarin malam nyonya belum makan" bibi Kim muncul dari tangga dengan nampan berisi beberapa lembar roti dan juga susu. Mendekat ke arah Nyonyanya itu yang kini sedang duduk termenung di dekat jendela.

"Bagaimana aku bisa makan sementara suamiku dari kemarin malam tidak memberi kabar, bi?" Taeyong mengadu layaknya anak kecil, tidak sadar selaput bening itu kini menghiasi mata cantiknya.

"Tuan Jaehyun pasti baik-baik saja, percayalah Nyonya" berbarengan dengan kalimat tersebut, deru mesin mobil milik Jaehyun terdengar memasuki rumah.

Tanpa pikir panjang, Taeyong lekas berlari turun, membuka pintu utama rumah dan mendapati suaminya dalam keadaan yang jauh dari kata baik-baik saja.

Ia mendekat ke arah Jaehyun, menangkup kedua pipi sang suami dan menatap matanya yang sayu "hubby, kau baik-baik saja? Apa kau terluka? Kenapa tidak memberi kabar?" Tanyanya panik, mengelus pelan pipi Jaehyun yang terasa dingin.

Jung Jaehyun diam tak bergeming, menatap dalam ke manik mata sang istri, membiarkan begitu saja tubuhnya luruh dalam dekapan Taeyong.

"Sayang kau kenapa, hm?" Nada lembut serta usapan di kepala belakangnya makin membuat Jaehyun bungkam.

Ia membenamkan tubuhnya dalam pelukan Taeyong, menyembunyikan diri seakan takut menghadapi dunia.

Rasa hangat yang membungkus dirinya erat menjadi satu-satunya hal yang menyadarkan Jaehyun bahwa kini ia sudah pulang, ia sudah menemukan rumahnya kembali.

Laki-laki manis itu masih setia mengusap-usap punggung Jaehyun, memberi ketenangan luar biasa hingga menghantam ke dasar dada. Ia enggan melanjutkan tanya, memilih diam dan menunggu dengan sabar.

Jung Taeyong hanya sedang melewatkan satu hal, bahwa kini Jaehyunnya tengah menangis.

🍭🍭🍭🍭🍭

Jaehyun berubah.

Hanya itu satu-satunya gambaran yang bisa Taeyong simpulkan begitu melihat sikap suaminya beberapa hari ini sejak kepulangannya pagi itu.

Sering kali Taeyong memergokinya tengah melamun dengan pandangan kosong, seakan-akan kegiatan tersebut berubah menjadi hobinya akhir-akhir ini.

Jaehyun juga sering terbangun di malam hari, kemudian memilih merenung di balkon kamar menatap langit malam yang sepi gelap. Tak peduli pada hembusan angin malam yang bisa saja sewaktu-waktu meruntuhkan pertahannya.

Bukannya merasa lega sang suami kembali pulang, ia justru merasa jauh lebih ketakutan melihat tingkah Jaehyun yang jauh dari biasanya. Setiap dirinya bertanya, suaminya itu hanya akan menghindar dan mengatakan baik-baik saja.

Ma Cotton Candy!Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang